
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Masyarakat Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah Banyuwangi, terus melestarikan ritual “Seblang”. Ritual magis berusia ratusan tahun itu menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang mengunjungi Banyuwangi selama libur panjang Idul Adha ini, Minggu (31/5/2026) malam.
Seblang Bakungan merupakan tarian sakral yang dibawakan oleh perempuan paruh baya dalam kondisi trance atau kehilangan kesadaran. Pada tahun ini, Seblang dibawakan oleh Isni yang telah berusia 54 tahun. Ini merupakan kali ketiga bagi dia menjadi Seblang.
Ritual kuno tersebut rutin
digelar rutin di bulan Dzulhijah (bulan Haji), tepatnya satu pekan setelah hari
raya Idul Adha.
Warga Osing Bakungan mengawali
ritual Seblang dengan prosesi kenduri masal di sepanjang jalan Bakungan.
Sebelumnya, warga terlebih dahulu sholat magrib dan sholat hajat di masjid
setempat sembari memohon untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.
Usai menunaikan solat, warga
lanjut menggelar parade oncor (obor) yang dibawa berkeliling desa, yang biasa
dikenal dikenal dengan ider bumi. Di sepanjang jalan itu, tumpeng dengan menu
khas pecel pithik dinikmati bersama beralaskan tikar di bawah temaram cahaya
obor.
Puncak ritual ditandai saat
penari Seblang, memasuki kondisi trance. Isni terus menari sambil mata terpejam
diiringi musik gending seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto. Saat menari,
Isni diyakini telah dirasuki roh leluhur.
Tarian magis dan ritual yang
mengiringinya menjadi tontonan yang memikat ribuan wisatawan yang hadir di
malam itu. Termasuk wisatawan asal Hungaria, Gergo Zalatnai.
"Unik. Penarinya paruh baya,
dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru ini yang
membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain,"
ujar Gergo Zalatnai.
Hal serupa juga diungkapkan
Riski, pengunjung asal Jogjakarta yang mengaku terkesan dengan ritual ini.
Riski yang sedang menghabiskan liburnya di Banyuwangi ini mengaku sengaja ingin
menonton ritual Seblang Bakungan.
"Terkesan, terasa magisnya.
Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus
menggelar acara ini setiap tahunnya," ucapnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk
Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas keguyuban warga dalam melestarikan
tradisi leluhur yang diyakini telah ada sejak 1639 tersebut.
Ia berkomitmen terus mendukung
pelestarian Seblang Bakungan sebagai salah satu identitas budaya daerah.
"Tradisi ini bukan sekadar
upaya menjaga warisan leluhur, tapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di
tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong
dan persaudaraan warga," urainya.
Di Banyuwangi, tradisi Seblang
bisa dijumpai di dua tempat yang menjadi basis suku Osing, yakni Desa Olehsari
dan Kelurahan Bakungan di Kecamatan Glagah.
Seblang Bakungan digelar setiap bulan Dzulhijah dan dibawakan oleh penari yang sudah paruh baya. Sementara Seblang Olehsari digelar setelah Idul Fitri dan dibawakan oleh penari yang masih belia. (*)