Banjir Rendam TPU Desa Tegalsari, Warga Kenang Tragedi Serupa Puluhan SilamDesa Tegalsari

Banjir Rendam TPU Desa Tegalsari, Warga Kenang Tragedi Serupa Puluhan Silam

TPU Desa/Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi saat terendam banjir. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id – Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Desa/Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi sempat terendam banjir pada Selasa (17/2/2026). Warga setempat menyebut peristiwa serupa bukan pertama kalinya terjadi.

Banjir akibat luapan Sungai Panduman membuat air menggenang setinggi batu nisan dan merendam sebagian makam. Enam makam dilaporkan ambles karena tergerus air. Genangan berangsur surut pada Rabu (18/2/2026).

Pada Rabu pagi, warga bersama perangkat desa, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa bergotong royong membersihkan lumpur yang menutupi area pemakaman. Aktivitas ziarah sempat terganggu, namun tidak ada laporan jenazah maupun nisan yang hanyut.

Baca Juga :

Warga Dusun Krajan, Desa Tegalsari, Nur Kholis (55) mengaku banjir kali ini mengingatkannya pada peristiwa besar puluhan tahun silam. Saat itu, ia masih remaja dan menyaksikan langsung derasnya air bah menerjang kompleks pemakaman.

"Dulu sekitar tahun 1980-an, banjirnya jauh lebih besar. Bukan hanya merusak makam, tapi sampai ada jenazah yang hanyut terbawa arus,” kata Nur Kholis, Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, derasnya luapan sungai kala itu mengikis tanah makam. Sejumlah pusara rusak, beberapa jenazah keluar dari liang kubur dan terbawa banjir. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi warga.

Belajar dari kejadian itu, warga berinisiatif melakukan iuran untuk membangun tanggul penahan banjir atau plengsengan di sepanjang sisi makam yang berbatasan langsung dengan bibir Sungai Panduman.

“Setelah kejadian besar itu, warga sepakat iuran membangun tanggul. Alhamdulillah sampai sekarang tanggul itu masih kuat,” ujarnya.

Keberadaan plengsengan tersebut terbukti ampuh menahan terjangan banjir kemarin. Meski air sempat menggenangi area makam dan menyebabkan enam pusara ambles, tidak ada jenazah maupun nisan yang hanyut seperti kejadian puluhan tahun lalu.

“Kalau tidak ada tanggul itu, mungkin kondisinya bisa lebih parah. Sekarang hanya ambles di beberapa titik, tapi tidak sampai ada jenazah terbawa,” ujarnya.

Warga berharap pemerintah desa maupun instansi terkait dapat melakukan penguatan tambahan pada tanggul yang ada, mengingat intensitas hujan belakangan ini cukup tinggi dan dikhawatirkan memicu luapan sungai kembali. (fat)