
Pedagang cemilan keliling diserbu pembeli saat latihan BEC 2026 di RTH Rejoagung, Srono, Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id - Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival
(BEC) selalu sukses menjadi magnet bagi ribuan pasang mata. Namun di balik
keindahan koreografi dan kemegahan kostum yang akan ditampilkan, ada denyut
nadi perekonomian masyarakat yang ikut berputar berkat rangkaian persiapan
acara tahunan ini.
Suasana riuh dan penuh semangat begitu terasa saat para
peserta BEC menggelar latihan koreografi massal di Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, Sabtu (11/7/2026).
Latihan yang diikuti oleh ratusan pemuda-pemudi berbakat
ini ternyata tidak hanya mematangkan gerakan para penari. Lebih dari itu,
hiruk-pikuk proses kreatif tersebut menjelma menjadi rezeki nomplok bagi para
pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Banyaknya masyarakat yang datang untuk menonton jalannya
latihan membuat area sekitar RTH Rejoagung mendadak ramai. Kondisi ini pun
langsung dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima untuk mengais keuntungan
sejak pagi hari.
Salah satu pedagang cemilan cimol yang turut panen cuan
adalah Santoso. Pria paruh baya warga asli Desa Rejoagung ini sehari-harinya
menyambung hidup dengan berjualan camilan keliling.
"Saya sangat bersyukur dengan adanya kegiatan latihan
di sini, dagangan saya yang terjual sangat lumayan," ujar Santoso dengan
sumringah.
Bagi Santoso yang sudah 20 tahun berjualan keliling di
lingkungan sekolah hingga RTH Bagorejo, ramainya pembeli dalam waktu singkat
merupakan berkah yang jarang terjadi di hari-hari biasa.
“Saya biasanya jualan berkeliling dari satu tempat ke
tempat lain, tapi hari ini saya jualan di sini belum lama udah habis. Semoga
selalu ada kegiatan seperti ini di desa kami,” pungkasnya.

BEC 2026 akan digelar 18 Juli di Taman
Blambangan. (Foto: humas/kab/bwi)
Mengangkat Kisah Heroik Perang Bayu
Selain dampak ekonomi yang langsung dirasakan warga, BEC
tahun ini juga menjanjikan tontonan seni yang sarat akan nilai sejarah.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sengaja mengangkat narasi heroisme masyarakat
Bumi Blambangan saat menantang kongsi dagang Belanda (VOC) pada abad ke-18
silam.
Mengusung tajuk utama “Perang Bayu, The Great War of
Blambangan”, festival budaya kontemporer ini merajut kembali kisah perjuangan
heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme pada medio 1771–1772.
Melalui balutan kostum megah dan koreografi yang dinamis,
sejarah kelam sekaligus membanggakan tersebut siap dihidupkan kembali di
sepanjang jalan protokol Banyuwangi pada puncak acara nanti. (man)
