
Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo. (Foto: Fattahur)
KabarBanyuwangi.co.id - Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha
Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo
mendorong adanya penambahan dermaga baru dan peningkatan kapasitas dermaga
penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk.
Gapasdap menyebut, akar persoalan kemacetan berulang justru
disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur pelabuhan yang sudah tidak mampu
mengimbangi jumlah armada kapal. Lintasan Ketapang-Gilimanuk idealnya memiliki
14 pasang dermaga.
Khoiri mengatakan, dari total 56 kapal yang tersedia di
lintasan Ketapang-Gilimanuk, hanya 28 armada yang dapat beroperasi setiap
harinya karena keterbatasan fasilitas sandar.
"Yang terjadi bukan kekurangan kapal. Bukan hanya
kendaraan di darat yang antre, kapal kami juga ikut mengantre untuk mendapat
giliran beroperasi karena infrastruktur dermaga belum mencukupi," kata
Khoiri seusai mengikuti rakor penanganan kemacetan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
di Pelabuhan ASDP Ketapang, Sabtu (11/7/2026) kemarin.
Gapasdap mendorong pemerintah mempercepat pembangunan dan
penambahan dermaga baru di Pelabuhan Ketapang maupun Gilimanuk. Menurut Khoiri,
idealnya lintasan tersebut memiliki 14 pasang dermaga agar mampu melayani
seluruh armada kapal secara optimal.
"Kalau memang belum bisa langsung membangun 14 pasang,
paling tidak setiap tahun ada penambahan dua pasang dermaga," ujarnya.
Selain itu, Gapasdap juga menilai kapasitas dermaga perlu
ditingkatkan. Khoiri menyambut positif rencana ASDP menaikkan kapasitas dermaga
dari 35 ton menjadi 50 ton, meski belum cukup untuk menjawab seluruh kebutuhan
di lintasan tersebut.
Khoiri berujar, lintasan Ketapang-Gilimanuk memiliki
karakteristik Khoiri menjelaskan, lintasan Ketapang-Gilimanuk memiliki
karakteristik geografis yang sangat kompleks karena berada di kawasan pertemuan
arus laut dengan perubahan tekanan yang tinggi sehingga kerap memunculkan
gelombang dan pusaran arus.
"Kalau pemerintah menuntut kami menyediakan kapal
lebih cepat, lebih baru, lebih besar, dan lebih modern, maka kami pun harusnya
mendapatkan dukungan infrastruktur yang memadai. Dermaga harus cukup jumlahnya,
cukup kapasitasnya, dan cukup kualitasnya, termasuk memiliki kolam pelabuhan,
breakwater, serta sistem manajemen yang baik," tegasnya.
Khoiri juga mengungkapkan kesiapan Gapasdap membantu
pengembangan Dermaga LCM agar mampu melayani lebih banyak kapal. Investasi yang
dilakukan operator tersebut diharapkan dapat dikompensasikan melalui biaya
sandar yang selama ini dibayarkan ke PT. ASDP Indonesia Ferry.
"Kalau memang harus menunggu terlalu lama, kami siap
ikut berpartisipasi melalui koperasi maupun mitra Gapasdap agar kapasitas
dermaga bisa segera bertambah. Yang kami inginkan adalah pelayanan
penyeberangan menjadi lebih lancar dan antrean tidak terus berulang,"
ucapnya.
Khoiri berharap sinergi antara pemerintah, operator
pelabuhan, legislatif, dan pelaku usaha dapat mempercepat penyelesaian
persoalan klasik di lintasan Ketapang-Gilimanuk, sehingga distribusi logistik
maupun mobilitas masyarakat menuju Bali, NTB, dan NTT dapat berlangsung lebih
lancar, aman, dan efisien. (fat)
