BMKG Sebut Angin Timuran Jadi Biang Kerok Gelombang Tinggi di Perairan BanyuwangiBMKG Banyuwangi

BMKG Sebut Angin Timuran Jadi Biang Kerok Gelombang Tinggi di Perairan Banyuwangi

Ilustrasi kapal nelayan dihantam gelombang tinggi. (Foto: AI)

KabarBanyuwangi.co.id - Rentetan kecelakaan laut terjadi di wilayah selatan Kabupaten Banyuwangi dalam waktu yang hampir bersamaan, pada Senin (20/7/2026) dini hari.

Peristiwa pertama melanda sebuah kapal nelayan di perairan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, yang mengakibatkan dua Anak Buah Kapal (ABK) dinyatakan meninggal dunia dan dua lainnya masih dalam pencarian.

Sementara itu, insiden kedua menimpa seorang pemancing yang dilaporkan hilang setelah perahunya dihantam ombak besar di perairan Senggrong, Kecamatan Muncar.

Baca Juga :

Menanggapi situasi tersebut, Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi telah mengeluarkan peringatan dini dan meminta seluruh pengguna jasa laut serta nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra, sejak Sabtu (18/7/2026).

Berdasarkan pemetaan cuaca maritim terbaru tersebut, potensi gelombang tinggi diprakirakan masih akan menghantui kawasan perairan tersebut dan berlaku hingga 22 Juli 2026 mendatang.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Cahyo Listyanto, memaparkan bahwa kondisi gelombang tinggi di perairan selatan Jawa saat ini dipicu oleh faktor alam yang cukup kuat. Salah satu faktor utamanya adalah embusan angin timuran yang saat ini masih bertiup cukup dominan di wilayah perairan.

"Saat ini angin timuran masih cukup dominan sehingga berkontribusi terhadap pembangkitan gelombang," kata Cahyo saat dikonfirmasi.

Selain masalah angin, karakteristik geografis wilayah juga memperparah kondisi gelombang. Perairan selatan Jawa, termasuk wilayah Banyuwangi dan perairan selatan Bali, berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.

Wilayah terbuka tersebut memiliki lintasan angin atau fetch yang sangat panjang, yang memungkinkan energi angin terakumulasi dan membangkitkan gelombang yang jauh lebih tinggi dan kuat.

Berdasarkan data grafis sebaran potensi gelombang, BMKG menetapkan wilayah Perairan Banyuwangi, Selat Bali bagian selatan, dan Perairan Selatan Pulau Bali masuk dalam kategori tinggi dengan peluang elevasi gelombang mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Sementara untuk wilayah Selat Badung, kondisi gelombang terpantau masuk dalam kategori sedang dengan ketinggian berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter.


Peringatan dini dan pemetaan cuaca maritim terbaru yang dirilis Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi. (Foto: BMKG Banyuwangi)

Di sisi lain, Cahyo juga mengingatkan para pelaku pelayaran mengenai risiko teknis di lapangan. Ia menjelaskan bahwa selain faktor hantaman gelombang tinggi dari alam, insiden kapal terbalik di tengah laut sebenarnya juga sangat dipengaruhi oleh faktor internal pelayaran.

"Terkait dengan kejadian seperti kapal terbalik, selain karena gelombang juga hal tersebut dapat dipengaruhi oleh distribusi beban di kapal," jelas Cahyo.

Oleh karena itu, BMKG mengeluarkan imbauan tegas terkait batas aman keselamatan berlayar bagi setiap jenis armada.

Perahu nelayan dinilai sangat berisiko jika memaksakan diri melaut saat kecepatan angin di atas 15 knot dan gelombang melebihi 1,25 meter.

Risiko serupa juga mengintai kapal tongkang pada kecepatan angin di atas 16 knot dengan gelombang 1,5 meter, serta kapal ferry jika kecepatan angin menembus 21 knot dengan ketinggian gelombang di atas 2,5 meter.

Seluruh operator kapal dan nelayan diminta tetap waspada serta selalu mematuhi arahan petugas di lapangan. (man)