oleh

Darplok, Olahan Masa Kini Hasil Kreasi Khas Banyuwangi yang Banyak Digemari

KabarBanyuwangi.co.id – Kuliner khas Banyuwangi cukup komplit, mulai makanan ringan hingga makanan berat. Dimasa kini ada Darplok, singkatan dari Dadar Ceplok. Makanan ringan yang cukup mengenyangkan ini merupakan olahan hasil kreasi baru dan hanya ada di Kabupaten Banyuwangi.

Menurut Siswana (54) warga Rogojampi yang mencetus olahan bernama Darplok, menyatakan bahwa dulu olahan ini bukan bernama Darplok, tapi Martabak Mihun yang disajikan dengan wadah daun pisang, hanya berbahan satu butir telur dan atasnya diberi mihun saja.

“Ketika saya petama kali buka di kota Banyuwangi, saya berinovasi menggunakan dua butir telur, satu didadar dan satunya diceplok. Nah, sejak itu saya yang pertama menamai olahan ini menjadi Darplok. Setelah itu, para penjual yang lain secara menyeluruh ikut-ikut memberi nama Darplok,” jelas Siswana pelaku usaha Darplok ini kepada kabarbanyuwangi.co.id, Jumat (18/9/2020) malam.

Darplok memang belum begitu dikenal luas oleh beberapa kalangan, karena masih baru tercipta sekitar 10 tahun lalu dari hasil kreasi para warga Rogojampi yang saat itu masih bernama Martabak Mihun. Karena disini awal olahan sederhana ini terbentuk, para penjual Darplok bisa mudah dijumpai di berbagai penjuru wilayah Rogojampi.

Bahan-bahan pembuatan Darplok cukup bervariasi, para penjual makanan ini memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan, di setiap menunya memiliki banyak pilihan, sesuai para penjual untuk menarik selera pembeli. Namun, rata-rata hanya berbahan dasar telur, tepung, dan mihun yang diberi penyedap rasa, lalu digoreng dengan sedikit minyak. Setelah itu, disiram bumbu yang biasanya diracik dengan campuran petis, kacang, gula merah, kecap, dan cabai.

Baca Juga: “Geseng Menthok”, Masakan Banyuwangi Kuno Peninggalan Kraton Wijenan

Baca Juga: “Bengahan Makwek”, Sedia Makanan-Minuman Jadul Dan Kekinian Secara Online

Baca Juga: “Pelasan dan Endog Cit” Khas Banyuwangi, Populer di Warung Makan La Wuni Madiun

Siswana awalnya juga sempat berjualan di wilayah Rogojampi selama 4 tahun. Setelah melihat adanya peluang, ia didampingi sang suami bertekat mengenalkan Darplok di pusat kota Banyuwangi. Di pusat kota Banyuwangi sendiri, saat ini olahan Darplok sudah dapat dijumpai di beberapa tempat.

Namun, yang menonjol adalah Darplok Sritanjung milik Siswana yang berjualan di Banyuwangi sejak tahun 2009. Sekarang, usaha milik pencetus nama Darplok ini bertempat di Jl. Sayu Wiwit No. 4 Kampung Melayu, Banyuwangi. Sebagian warga Banyuwangi, khususnya yang berada wilayah kota sudah familiar, terutama anak-anak muda. 

Banyak digemari, Darplok olahan khas Banyuwangi ini merupakan hasil kreasi warga Rogojampi. (Foto: man)
Banyak digemari, Darplok olahan khas Banyuwangi ini merupakan hasil kreasi warga Rogojampi. (Foto: man)

Mengawali berjualan di pusat kota Banyuwangi, Darplok Sritanjung awalnya berjualan di trotoar Jl. Jogopati timur Taman Sritanjung Banyuwangi, tepat di sebelah utara Mall Pelayanan Publik. Dimulai dari tempat ini, berhasil dikenal hingga laku keras. Setiap hari ramai dikunjungi pembeli, bahkan selalu terjadi antrian yang sangat padat.

“Kalau di Rogojampi, kebanyakan buka hanya pada siang hari. Di Banyuwangi ini, saya buka mulai pagi sampai malam. Dengan selalu melakukan inovasi baru, ya Alhamdulillah tambah laku dan bisa lebih ramai,” jelas wanita yang akrab dipanggil Bu Sis ini.

Disebabkan suatu alasan tertentu, Darplok Sritanjung yang mulai terkenal bertempat di trotoar Jl. Jogopati timur Taman Sritanjung itu sempat tidak diperbolehkan berjualan oleh pihak yang berwajib. Hingga akhirnya Bu Sis dan suami memilih pindah berjualan di dalam ruko yang ia tempati hingga saat ini.

Salah seorang pelanggan, Feghia (24) pegawai bank swasta di Banyuwangi menuturkan, sudah berlangganan makanan Darplok Sritanjung sejak masih sekolah dibangku SMA.

“Darplok ini favorit saya sih, harganya terjangkau, enak dan rasanya juga nggak mbosenin. Kadang setiap perjalanan pulang kerja, saya sering nyempetin beli disini,” ungkap Feghia.

Pilihan menu sederhana yang disediakan Darplok Sritanjung ini cukup variatif dan ramah di kantong. (Foto; man)
Pilihan menu sederhana yang disediakan Darplok Sritanjung ini cukup variatif dan ramah di kantong. (Foto: man)

Saat pendemi Covid-19, omzet penjualan Darplok Sritanjung turun hingga 50 persen. Biasanya bisa menghabiskan telor antara 15 hingga 20 kilogram. Sekarang paling banyak hanya 10 kilogram telor, itupun saat kondisi ramai. Padahal sebelumnya, dengan modal 500 ribu rupiah, bisa mendapatkan omzet lebih dari 1,5 juta hingga 2 juta rupiah dalam sehari.

“Sebelum ada virus corona, banyak orang-orang yang reuni, rapat, arisan bahkan penumpang travel sering mampir ke sini. Ya, meskipun sekarang tidak seperti biasanya, saya tetap bersyukur bisa memutar modal usaha. Bahkan sebelum adanya new normal kemarin, penjualan kami sempat hancur,” ucap Siswana sambil melayani pembeli yang mulai ramai.

Para pelanggan Darplok Sritanjung, mengakui pelopor Darplok ini memang lebih enak dan memiliki ciri khas tersendiri. Ada yang menyatakan bumbu kacangnya lebih enak dan terasa pedas, hingga adonannya yang khas dan berbeda dengan penjual lain yang kurang tepat karena seperti bakwan.

“Sejak di pinggir jalan dekat Taman Sritanjung dulu, saya sering makan Darplok disini. Semua varian menu disini sudah pernah saya coba, rasanya itu enak-enak dan pedesnya itu pas, nggak kayak yang lain,” ungkap Davi (27) pria yang makan malam bersama teman perempuannya ini. (man)

_blank