(Foto: Humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berbagi pengalaman pengelolaan sampah dalam forum kajian yang digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Selasa (30/11/2021).
Ipuk memaparkan program pendampingan pengelolaan sampah laut, STOP di Kecamatan Muncar, Banyuwangi yang berhasil meningkatkan kapasitas pengolahan sampah oleh warga desa.
Forum yang
bertajuk Kajian Kebijakan Pengelolaan
Persampahan Kabupaten/Kota yang digelar secara virtual ini juga menghadirkan
sejumlah narasumber. Diantaranya, Direktur Sustainability Development Danone
Karyanto Wibowo, dan General Manager PRO, Martini Indrawati.
Selain juga Direktur Pendapatan
Daerah Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri, Dr. Hendriawan; dan Walikota Surabaya
Ery Cahyadi. Turut hadir, serta Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Rut
Kruger Giverin.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja
sama Kemenko Marves dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia
(Apkasi) dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) dengan
Systemiq. Systemiq adalah organisasi non-pemerintah (non-governmental
organization/NGO) dunia yang didanai pemerintah Norwegia.
Deputi Bidang Koordinasi
Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenkomarves, Nani Hendiarti menyebut
pemerintah pusat telah menetapkan target nasional pengelolaan sampah yakni
pengurangan sampah sebesar 30 persen, peningkatan penanganan sampah sampai
dengan 70 persen, dan tercapainya penanganan sampah laut sebesar 70
persen.
Target tersebut harus tercapai pada
2025. “Kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para pemangku
kebijakan dalam hal pengelolaan sampah. Sehingga target pengelolaan sampah
nasional bisa kita capai,” kata Nani.
Nani pun mendorong agar pengelolaan
sampah dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir ddan saling kolaborasi
dengan banyak pihak.
“Kami melihat bahwa Banyuwangi
berhasil meningkatkan kapasitas warganya dalam hal pengelolaan sampah karena
bekerja sama dengan banyak pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah,
masyarakat, akademisi, hingga sektor swasta saling berkolaborasi,” kata Nani.
Sementara itu, Bupti Ipuk dalam
paparannya menjelaskan tentang sejumlah strategi Banyuwangi terkait pengelolaan
sampah. Sejak 2018 Banyuwangi bekerjasama dengan Systemiq, menjalankan program
STOP (Stop Tapping Ocean Plastic) untuk mengatasi permasalah sampah di wilayah
Kecamatan Muncar.
Selain mengajak warga menghentikan
kebiasaan buruk membuang sampah di laut, program ini juga mendampingi warga
bagaimana mengelola sampah secara profesional. “Warga diajari bagaimana
mengelola sampah mulai pemilahan, pengemasan hingga pemanfaatan sampah yang
bernilai ekonomis,” kata Ipuk.
Program ini juga memperkuat
kelembagaan pengelolaan sampah. Misalnya, lewat pelatihan-pelatihan sehingga
lembaga masyarakat yang mengelola sampah bisa menjadi entitas bisnis mandiri.
Setelah dua tahun berjalan, program
STOP ini sangat membantu mengakselerasi kebersihan kawasan Muncar. Program ini
juga meningkatkan kesejahteraan nelayan dan warga, sekaligus meningkatkan derajat
lingkungan di wilayah Muncar.
Warga Muncar yang dulunya suka
membuang sampah di laut, kini justru mengolahnya di tempat pengolahan sampah
terpadu (TPST). Berkat program ini, sebanyak 89.655 orang di Muncar saat ini
telah memperoleh layanan pengumpulan sampah.
Program ini juga membuka lapangan kerja. Tak kurang 133 orang telah dipekerjakan dalam simtem pengelolaan sampah. “Hadirnya project STOP di Banyuwangi menjadi contoh baik. Semoga bisa menginpirasi daerah-daerah lain. Sehingga target nasional 70 persen penanganan sampah bisa kita capai di 2025,” pungkasnya. (Humas/kab/bwi)