Gelar Budaya Keris Blambangan: Menepis Mitos Mistis Lewat Logika dan Jamasan Pusaka di Bulan SuroDisbudpar Banyuwangi

Gelar Budaya Keris Blambangan: Menepis Mitos Mistis Lewat Logika dan Jamasan Pusaka di Bulan Suro

Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro lakukan proses jamas keris di bulan Suro. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id – Memasuki bulan Suro, Serambi Museum Blambangan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi kembali menjadi pusat perhatian. Paguyuban Panji Blambangan menggelar ritual tahunan "Gelar Budaya Keris Blambangan" berupa jamasan atau penyucian pusaka kuno yang berlangsung mulai Selasa (16/6/2026).

Menariknya, tradisi ini tidak hanya menjadi magnet bagi masyarakat lokal, tetapi juga sukses memikat wisatawan mancanegara yang takjub akan pelestarian sejarah di ujung timur Pulau Jawa ini.

Bagi masyarakat Jawa dan warga Osing, keris adalah karya seni bernilai historis dan sentimental yang mendalam. Tradisi penjamasan yang dijadwalkan berlangsung pada 16 hingga 19 Juni ini wajib melewati tahapan ketat; mulai dari pengambilan pusaka, prosesi tirakatan (semadi), hingga pencucian inti sepanjang bulan Suro.

Baca Juga :

Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, menegaskan bahwa ritual ini memiliki esensi filosofis yang jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan korosi fisik.

"Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang," ujar Ilham.

Berbagai benda pusaka yang dijamas tahun ini meliputi keris sepuh, pedang luwuk, hingga tombak biring. Salah satu yang paling ikonik adalah tombak biring bersejarah milik Raden Tumenggung (RT) Astro Kusumo, Bupati ke-18 Banyuwangi yang memimpin pada tahun 1888 silam.

Meluruskan Mitos Lewat Logika Pembuatan Empu

Selain sebagai upaya merawat fisik pusaka agar terhindar dari kerusakan, momentum bulan Suro ini juga dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat. Ilham meluruskan mitos keliru mengenai keris yang jamak dianggap bisa bergerak sendiri atau berdiri karena daya magis hitam.

Secara logis dan spiritual, fenomena keris bergoyang atau berpindah tempat sering kali dipicu oleh penumpukan energi negatif akibat pusaka diabaikan tanpa perawatan. Sementara itu, kemampuan keris untuk berdiri tegak merupakan bukti otentik dari tingginya keterampilan, kesabaran, serta kalkulasi keseimbangan fisik (harmoni) yang diterapkan oleh para empu zaman dahulu.

Bagi keturunan leluhur masyarakat Osing, weluri (petuah adat) meyakini bahwa pusaka yang dirawat dengan benar akan menjaga "isi" di dalamnya. Sebaliknya, kelalaian hanya akan melunturkan nilainya menjadi senjata biasa.

Konsistensi yang rutin digelarnya jamasan sejak 1 Suro 2006, tepat setelah UNESCO mengakui keris Indonesia sebagai warisan kemanusiaan milik dunia pada 25 November 2005 memantik decak kagum global.

Wisatawan asing kepincut melihat Gelar Budaya Keris Blambangan di Serambi Disbudpar Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

Zoe Couliard, seorang wisatawan asal Prancis yang kebetulan melintas, mengaku terpesona melihat dedikasi generasi penerus dalam merawat senjata tradisional berusia ratusan tahun tersebut dengan penuh khidmat.

"Tidak sengaja saya lewat sini tadi, ternyata ada aktivitas yang saya tidak pernah lihat di tempat saya. Benda-benda kuno ini yang usianya ratusan tahun masih terlihat menjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus," kata Zoe.

Rangkaian agenda tahunan ini juga dimeriahkan dengan pameran pusaka, sarasehan, hingga sesi konsultasi gratis mengenai tata cara perawatan tosan aji untuk umum.

Menutup prosesi, Ridho selaku perwakilan panitia menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara ini merefleksikan nilai ketelitian melalui persiapan yang saksama, serta nilai religius yang diwujudkan lewat doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan dan kesejahteraan hidup ke depan. (man)