
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Komitmen Banyuwangi dalam
mewujudkan pendidikan inklusif mendapat apresiasi dari lembaga pendidikan
global, Perkins International.
Kali ini, lembaga pendidikan yang berpusat di Boston,
Amerika Serikat tersebut menggelar lokakarya “Perencanaan Strategis
Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif” di Banyuwangi, dan menggunakan
daerah ini sebagai studi kasus penerapan daerah inklusif.
Lokakarya tersebut diikuti puluhan peserta lintas sektor
dari pemerintah pusat, provinsi dan daerah. Di antaranya Kementerian
Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Komisi Nasional
Disabilitas. Hadir pula Dinas Pendidikan, Kesehatan, Sosial, hingga tenaga
kesehatan puskesmas di Banyuwangi.
Direktur Program Perkins wilayah Asia Pasifik, Ami Tango
Limketkai, menilai Banyuwangi memiliki komitmen luar biasa terhadap pelayanan
yang inklusif. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas juga
dinilai sangat solid.
“Banyuwangi sangat istimewa. Daerah ini memiliki
kepemimpinan yang benar-benar berpikiran inklusif dan terbuka terhadap
perubahan yang berdampak nyata bagi kehidupan keluarga dan anak-anak, khususnya
penyandang disabilitas. Lewat kegiatan ini, kami berharap Banyuwangi dapat
menjadi kabupaten percontohan di masa depan,” ujar Ami saat pembukaan Lokakarya
di Aula Café & Resto Bale Saji, Kecamatan Kabat, Selasa (2/6/2026) malam.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kolaborasi Perkins International dan Pemkab Banyuwangi
telah berjalan cukup lama di sektor pendidikan. Selama ini, Perkins telah aktif
mendukung Banyuwangi melalui berbagai pelatihan bagi guru Sekolah Luar Biasa
(SLB) dan orang tua anak penyandang disabilitas. Dukungan tersebut menjadi
bagian dari komitmen bersama mewujudkan daerah ramah disabilitas.
Kerja sama antara Banyuwangi dan Perkins International juga
melahirkan program Sekolah Model. Sebanyak 170 guru SLB telah mendapatkan
pelatihan mengenai strategi pengajaran, manajemen kelas, penanganan autis,
bahasa isyarat, hingga pelatihan dasar fisioterapi.
Kali ini, Perkins menggelar lokakarya yang melibatkan
puluhan peserta nasional. Lokakarya yang berlangsung selama dua hari, 3-4 Juni
2026, itu bertujuan menyelaraskan prioritas nasional dan daerah, serta
merumuskan strategi peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak
usia dini yang inklusif.
“Kami hadirkan berbagai sektor untuk bekerja sama dengan
fokus pada pendidikan anak usia dini yang inklusif, intervensi kesehatan anak
usia dini, serta dukungan bagi anak-anak dan keluarga mereka. Dalam hal ini
kami menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus praktik baiknya,” kata Ami.
Lokakarya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai diskusi
hingga observasi ke sejumlah sekolah model dan puskesmas.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku
sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Bagi Ipuk, menjadi sebuah kehormatan
bagi Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah sekaligus objek studi kasus
lokakarya Perkins International.
“Kami senang Perkins menggelar kegiatan ini di Banyuwangi.
Kami sangat mendukung dan siap menjadi living lab untuk kegiatan ini.
Semoga lancar, dan bisa menghasilkan rencana aksi yang bisa menjadi dasar
pengambilan kebijakan pengembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun
daerah, khususnya Banyuwangi,” ujar Ipuk.
Banyuwangi, kata Ipuk, terus berupaya mewujudkan daerah
yang ramah dan nyaman bagi semua warga, termasuk anak-anak dan kaum
disabilitas. Salah satunya, menerapkan program sekolah inklusi yang mewajibkan
seluruh sekolah untuk menerima siswa berkebutuhan khusus. Selain itu,
Banyuwangi juga menggelar banyak kegiatan yang menjadi ruang berekspresi
anak-anak disabilitas, salah satunya festival Kita Bisa.
“Kami juga mengoptimalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai jembatan utama identifikasi dini, pemeriksaan, hingga sistem rujukan bagi penyandang disabilitas,” pungkasnya. (*)