
Antrean kendaraan logistik menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi mengular di jalan raya. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Kemacetan yang kerap terjadi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi mendapat perhatian dari DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap).
Gapasdap menilai persoalan yang kerap terjadi di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk bukan lagi fenomena musiman, melainkan masalah struktural yang memerlukan penanganan cepat dan menyeluruh.
Ketua Umum DPP Gapasdap, Khoiri Soetomo mengatakan,
persoalan tersebut menimbulkan dampak luas bagi masyarakat, pelaku pariwisata,
hingga sektor logistik.
"Dalam beberapa minggu terakhir, kami menerima
banyak keluhan dari masyarakat, pelaku usaha wisata dan angkutan barang. Mereka
mengeluh meningkatnya biaya operasional, distribusi barang terlambat,
produktivitas kendaraan menurun, hingga risiko kerusakan dan pembusukan
muatan," kata Khoiri dalam keterangannya, Jumat (26/6/2026).
Bahkan Gapasdap menyebut terdapat empat warga dalam
kondisi kritis yang harus dirujuk ke rumah sakit di Situbondo karena terhambat
akses transportasi.
Gapasdap menilai persoalan tersebut bukan disebabkan
kekurangan kapal, melainkan keterbatasan kapasitas infrastruktur pelabuhan yang
sudah tidak mampu mengikuti pertumbuhan kendaraan dan armada kapal.
Selama bertahun-tahun, menurut Gapasdap, operator
penyeberangan telah memenuhi kebutuhan investasi armada dengan menghadirkan
kapal yang lebih modern, lebih besar, lebih aman, dan jumlahnya semakin banyak.
Saat ini tersedia sekitar 56 kapal yang tersedia di
lintasan Jawa-Bali. Namun kemampuan kapasitas dan jumlah dermaga masih menjadi
faktor pembatas, sehingga banyak kapal harus menunggu giliran sandar dan jadwal
untuk bisa beroperasi memberijan pelayanan.
Akibatnya, waktu tunggu kapal meningkat, produktivitas
armada menurun, dan antrean kendaraan di darat semakin panjang.
"Menambah kapal tanpa menambah kapasitas dermaga ibarat menambah jumlah pesawat tanpa menambah landasan pacu. Armada bertambah, tetapi kapasitas pelayanan tidak berubah secara signifikan," ucapnya.
Suasana
bongkar muat kapal ferry di dermaga MB I. (Foto: Istimewa)
Ironisnya, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, lintasan
penyeberangan paling strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Bali,
bahkan menjadi pintu distribusi logistik menuju Nusa Tenggara Barat dan Nusa
Tenggara Timur, masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar.
Beberapa dermaga yang masih digunakan merupakan dermaga
tipe LCM yang sudah tidak lagi ideal untuk melayani kapal motor penumpang (KMP)
modern. Di sisi lain, pelabuhan juga belum memiliki breakwater dan kolam
pelabuhan yang memadai, sehingga operasional kapal sangat dipengaruhi oleh
angin, arus, dan gelombang.
Dalam kondisi cuaca yang dinamis, proses sandar menjadi
lebih sulit, waktu pelayanan bertambah, dan kapasitas pelabuhan semakin
menurun.
GAPASDAP memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi
Jawa Timur yang selama ini telah menunjukkan kepedulian nyata terhadap
pengembangan pelabuhan penyeberangan.
Dermaga LCM yang berdiri di atas lahan milik Pemerintah
Kabupaten Banyuwangi dibangun melalui dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Demikian pula Dermaga MB IV yang juga berdiri di atas lahan Pemerintah
Kabupaten Banyuwangi dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Sementara Dermaga MB III dan Dermaga Bulusan yang berada di atas lahan milik ASDP juga dibangun dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Suasana
bongkar muat kendaraan logistik di dermaga LCM. (Foto: Istimewa)
Sekaligus rencana adanya pembangunan oleh pemerintah
daerah untuk perluasan dan pembangunan jembatan penghubung antara dermaga bulusan
dengan dermaga LCM dan MB IV. Pembangunan tersebut nantinya dapat memudahkan
kendaraan logistik dan tidak lagi keluar masuk di jalan nasional yang dapat
membuat kemacetan diluar area pelabuhan.
Namun saat ini Dermaga Bulusan tidak lagi dapat
dimanfaatkan sebagai dermaga tambahan karena dua dolphin sandarnya mengalami
kerusakan dan 1 dolphin kondisinya kurang baik, sehingga kapal tidak dapat
bersandar dengan aman. Akibatnya, kapasitas cadangan yang sebelumnya diharapkan
dapat membantu mengurangi antrean sudah tidak dapat difungsikan secara optimal.
"Fakta tersebut menunjukkan bahwa pembangunan
infrastruktur selama ini belum mampu mengimbangi kebutuhan operasional lintasan
yang terus meningkat. Kekhawatiran kami semakin besar karena pembangunan jalan
tol menuju kawasan Ketapang terus berlangsung," kata dia.
Menurutnya, apabila kapasitas pelabuhan tidak segera
ditingkatkan, maka titik kemacetan akan berpindah ke kawasan pelabuhan dan
jalan nasional yang digunakan masyarakat bukan hanya tujuan ke Bali, dan ini dapat
berpotensi menjadi bom waktu transportasi nasional.
Risiko tersebut akan semakin besar pada periode Lebaran
yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi, Natal dan Tahun Baru, libur sekolah,
maupun akhir pekan panjang. "Kita tentu tidak ingin kemacetan puluhan
kilometer seperti yang pernah terjadi kembali terulang," tegasnya.
Situasi
di area parkir pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. (Foto: Fattahur)
DPP Gapasdap telah berulang kali menyampaikan surat, kajian, dan usulan kepada Kementerian Perhubungan agar pembangunan dermaga baru, rehabilitasi fasilitas yang rusak, pembangunan breakwater, perluasan kolam pelabuhan, serta peningkatan kapasitas pelabuhan segera dilaksanakan.
Pembangunan infrastruktur tidak dapat dilakukan hanya
beberapa hari menjelang arus mudik. Dibutuhkan perencanaan, penganggaran, dan
pelaksanaan yang harus dimulai jauh sebelum kebutuhan tersebut menjadi krisis.
"Kami berharap DPR RI memberikan perhatian yang
lebih besar terhadap pembangunan pelabuhan penyeberangan sebagai bagian dari
infrastruktur strategis nasional,” jelasnya.
“Kami juga memohon perhatian Bapak Presiden agar berkenan
memimpin percepatan pembangunan infrastruktur pelabuhan penyeberangan, sehingga
kebijakan nasional tidak lagi hanya berfokus pada penambahan armada, tetapi
juga pada pembangunan prasarana yang menjadi tanggung jawab negara,"
imbuhnya. (*)
