Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Kerap Macet, ASDP Ungkap Penyebabnya dan Minta MaafASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang

Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Kerap Macet, ASDP Ungkap Penyebabnya dan Minta Maaf

Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang terpantau padat merayap, pada Kamis (26/6/2026). (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id – Kemacetan panjang yang sempat mengular hingga puluhan kilometer menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi yang terjadi di beberapa hari terakhir mendapat penjelasan resmi.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengungkapkan bahwa kepadatan yang terjadi sejak Minggu (21/6/2026) lalu dipicu oleh kombinasi lonjakan arus libur sekolah, cuaca buruk berupa angin kencang di Selat Bali, serta adanya gangguan operasional pada dua kapal LDF milik PT ALP yang membuat truk logistik dialihkan ke ferry reguler.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, langsung menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan para pengguna jasa akibat kondisi tersebut.

Baca Juga :

Pihaknya mencatat volume kendaraan pada puncak kepadatan melonjak hingga 23 persen atau mencapai 9.571 unit, di mana pergerakan mobil pribadi mendominasi dengan kenaikan mencapai 30 persen.

"Kami memohon maaf kepada seluruh pengguna jasa atas kondisi yang terjadi. ASDP bersama regulator dan seluruh pemangku kepentingan terus bekerja keras mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia guna mempercepat normalisasi layanan," ujar Heru Widodo dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).

Untuk mengurai antrean, ASDP langsung menerapkan langkah taktis dengan mengoperasikan hingga 30 armada kapal, termasuk mengerahkan KMP Portlink VII di Dermaga Bulusan dan menerapkan skema kilat Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) di dermaga LCM. Langkah ini terbukti efektif, di mana hingga Kamis siang panjang antrean kendaraan di Ketapang dilaporkan sudah berangsur menyusut menjadi 2,5 kilometer.

Di sisi lain, Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengingatkan pengendara untuk memanfaatkan program stimulus libur sekolah berupa diskon tiket penyeberangan Ketapang-Gilimanuk hingga 21,9 persen yang berlaku sampai 5 Juli 2026.

"Kami mengimbau pengguna jasa untuk merencanakan perjalanan dengan baik, melakukan pembelian tiket lebih awal melalui Ferizy, serta memastikan telah memiliki tiket sebelum tiba di pelabuhan," pungkas Windy. (man)