Sejumlah kapal eks LCT yang bersandar di sekitar Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. (Foto: Firman/Dok)
KabarBanyuwangi.co.id – Kebijakan pengetatan operasional
penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk pasca-insiden tenggelamnya KMP Tunu
Pratama Jaya menimbulkan dampak signifikan di lapangan.
Salah satu dampak paling mencolok adalah kemacetan panjang
yang terjadi di sekitar Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi sejak Rabu (16/7/2025)
pagi.
Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan
Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi menyuarakan kekhawatiran atas keputusan
penonakifan serentak 15 kapal eks Landing Craft Tank (LCT) yang kini berstatus
Kapal Motor Penumpang (KMP).
Penarikan tersebut, yang dilakukan pada 14 Juli 2025,
dinilai terlalu mendadak dan mengganggu kelancaran arus logistik serta
mobilitas masyarakat.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim, menyatakan bahwa
pihaknya mendukung penuh langkah pemerintah dalam meningkatkan aspek
keselamatan pelayaran. Namun ia tak menampik adanya sedikit “kaget” atas
penarikan kapal secara serentak itu.
“Kami sudah memberikan masukan bahwa ini akan berdampak
pada arus logistik dan tentunya kemacetan akan timbul. Karena di hari biasa
pun, ketika kondisi ramai, kita sudah mengalami stuck,” ungkapnya saat
dikonfirmasi wartawan.
Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan melalui Kantor
Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungwangi melakukan evaluasi
menyeluruh pasca-insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.
Salah satu kebijakan terbaru adalah pembatasan kapasitas
muatan kapal maksimal 75 persen dan penarikan 15 kapal eks LCT karena dinilai
belum memenuhi syarat kelaikan.
Sementara itu, Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang kini
difokuskan hanya untuk angkutan logistik dan tidak diperbolehkan membawa
penumpang. Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha angkutan.
Nurjatim menambahkan, kondisi kemacetan diperparah oleh
fasilitas pelabuhan yang dinilai kurang memadai, terutama pada jalur keluar.
“Kemacetan ini juga disebabkan banyaknya kendaraan yang
masuk, namun pintu keluarnya kurang memadai. Kami berharap kapal yang dari LCM
keluarnya tidak harus memutar ke pintu keluar utama, sehingga arus kendaraan
yang datang dari Gilimanuk dapat segera keluar,” desaknya.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim. (Foto:
KabarBanyuwangi.co.id)
Melihat situasi ini, Gapasdap berharap ada solusi cepat
dari pemerintah. Menurutnya, jika temuan pada kapal yang ditarik bersifat
minor, secepatnya dapat diberikan dispensasi agar bisa segera beroperasi
kembali.
“Harapan kami, pemerintah dapat segera memberikan solusi
bahwa kapal yang di-off (ditunda operasionalnya), kalau memang ada temuan
minor, bisa segera di-dispensasi untuk kembali beroperasi,” jelasnya.
Saat ini, jumlah armada yang beroperasi dianggap belum
mencukupi untuk melayani lonjakan kendaraan dan kebutuhan logistik yang tinggi.
Nurjatim menyebutkan bahwa dari hasil pemeriksaan KSOP
terbaru, empat kapal akan diperbantukan untuk membantu operasional malam ini,
sehingga total delapan kapal dapat kembali melayani lintasan
Ketapang-Gilimanuk.
Terkait kebijakan pembatasan kapasitas muatan sebesar 75
persen dan pelarangan angkut penumpang dari Dermaga LCM, Gapasdap menyatakan
dukungan penuh.
“Karena cuaca sampai saat ini belum kondusif. Kami juga
memahami adanya buka-tutup pelayaran Ketapang-Gilimanuk ini,” tutupnya.
Gapasdap berharap agar koordinasi antara pemerintah,
operator kapal, dan pihak pelabuhan bisa diperkuat demi menjaga kelancaran arus
penyeberangan dan distribusi logistik di jalur vital Jawa-Bali tersebut. (tim)