Poliwangi Dorong Beraton CLC Jadi Inovasi Material Konstruksi Berbasis Limbah PertanianPoliteknik Negeri Banyuwangi

Poliwangi Dorong Beraton CLC Jadi Inovasi Material Konstruksi Berbasis Limbah Pertanian

Tim PKM Poliwangi dari lintas disiplin ilmu dampingi para perajin bata di Desa Pakistaji, Kabat, Banyuwangi dalam mengembangkan produk Beraton CLC. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan inovasi berbasis potensi lokal. Kali ini, Poliwangi mendorong pengembangan Beraton CLC (Cellular Lightweight Concrete), sebuah inovasi bata ringan interlocking yang memanfaatkan limbah pertanian seperti abu sekam dan cacahan jerami padi.

Inovasi yang berpotensi dikembangkan lebih luas di Kabupaten Banyuwangi sebagai embrio material konstruksi alternatif tersebut disosialisasikan secara langsung kepada para perajin bata di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, pada Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang mengusung kolaborasi lintas disiplin ilmu ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) skema Pemberdayaan Masyarakat yang didanai melalui PNBP Poliwangi Tahun 2026.

Baca Juga :

Program pengabdian ini melibatkan dosen dari Program Studi Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan (TRKJ), Teknik Sipil, dan Agribisnis yang diketuai oleh Dora Melati Nurita Sandi, S.T., M.T., dengan anggota Ir. Zulis Erwanto, S.T., M.T. dan Nurul Alfiyah, S.E., M.Akun. serta partisipasi aktif mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Poliwangi.

Sentuhan Teknologi dan Respon Langsung Perajin Bata

Teknologi CLC pada dasarnya memanfaatkan campuran semen, agregat halus, air, dan foaming agent yang menghasilkan rongga udara sehingga bobot material menjadi jauh lebih ringan dibanding bata konvensional. Melalui Beraton CLC, konsep ini diperkaya dengan pemanfaatan limbah jerami padi yang melimpah di Desa Pakistaji, sekaligus menerapkan sistem pengerat interlocking pada bentuk batanya.

Langkah ini dirancang untuk mempertemukan dua potensi besar Banyuwangi, yakni sektor pertanian dan kebutuhan industri konstruksi. Limbah pertanian yang sebelumnya hanya dimanfaatkan terbatas untuk pakan ternak maupun bahan bakar pembakaran bata merah, kini didorong memiliki nilai ekonomi tinggi.

"Kami mengarahkan pengembangan Beraton CLC untuk memberikan alternatif produk bagi perajin bata konvensional. Diharapkan perajin mampu memproduksi secara mandiri dengan formulasi komposisi yang tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga ekonomis dan kompetitif di pasaran," ujar Ketua Tim PKM Poliwangi, Dora Melati Nurita Sandi dalam keterangan tertulis.


Proses pembuatan Beraton CLC yang mengubah limbah pertanian menjadi material berdaya saing tinggi. (Foto: Istimewa)

Dalam pelatihan tersebut, sebanyak 11 perajin bata Desa Pakistaji dibekali pemahaman teknis mulai dari pemilihan bahan baku, pencampuran adonan, pencetakan, perawatan (curing), hingga penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menjamin konsistensi mutu produk.

Kegiatan ini membuka ruang diskusi dua arah di mana para peserta memberikan berbagai masukan kritis terkait prototipe yang dikembangkan, khususnya mengenai penyesuaian ukuran produk, formulasi bahan baku, dan keterjangkauan harga jual.

"Perlu ada penyesuaian dimensi bata ringan, komposisi campuran yang lebih ekonomis, serta harga jual yang mampu bersaing dengan bata ringan pabrikan," ungkap Amir Hamzah, salah seorang perajin bata Desa Pakistaji.

Menuju Pengujian Laboratorium, Penerapan Green Economy, hingga Kolaborasi

Pengembangan Beraton CLC tidak hanya berfokus pada terciptanya prototipe material baru, melainkan mendorong penerapan green economy berbasis desa. Dengan memanfaatkan limbah pertanian masuk kembali ke dalam rantai produksi, perajin lokal berpeluang naik kelas menjadi produsen material konstruksi alternatif berbasis inovasi.

Guna memastikan keberlanjutan produk, program ini juga menargetkan serangkaian pengujian laboratorium mencakup kuat tekan, berat jenis, dan daya serap air. Bahkan, dikembangkan pula kajian awal pemanfaatannya sebagai material dinding penahan (retaining wall) pada aplikasi konstruksi yang sesuai.

Ke depan, Poliwangi membuka ruang kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, perajin, hingga pelaku industri konstruksi seperti developer perumahan, kontraktor, dan konsultan perencana.

Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat validasi kebutuhan pasar, fasilitasi uji coba proyek percontohan (pilot project), hingga mewujudkan ekosistem industri bahan bangunan lokal yang mandiri dan berdaya saing di Kabupaten Banyuwangi. (adv)