Poliwangi Hadirkan Mesin Pelet Pakan Kambing, Dorong Kemandirian Kelompok Ternak di RogojampiPoliteknik Negeri Banyuwangi

Poliwangi Hadirkan Mesin Pelet Pakan Kambing, Dorong Kemandirian Kelompok Ternak di Rogojampi

Prosesi serah terima mesin pelet pakan kambing oleh tim PkM Poliwangi kepada kelompok ternak At Taqwa Farm, Rogojampi, Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) terus memperkuat kontribusinya dalam mendorong kemandirian masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna. Kali ini, Poliwangi menerjunkan tim akademisi untuk mendampingi kelompok ternak At Taqwa Farm di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, melalui penerapan inovasi mesin pelet pakan kambing, pada Jumat (21/8/2026) lalu.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai melalui anggaran internal Poliwangi ini digawangi oleh tim akademisi yang diketuai oleh Anggra Fiveriati, S.T., M.T., dengan beranggotakan Herman Yuliandoko, S.T., M.T., dan Dian Ridlo Pamuji, S.T., M.T.

Kegiatan ini mengusung kolaborasi lintas elemen yang melibatkan tiga dosen dan dua mahasiswa guna memadukan integrasi pendidikan, penerapan teknologi, dan pengabdian lapangan secara langsung.

Baca Juga :

Inovasi ini dihadirkan untuk menjawab tantangan ketersediaan dan efisiensi pakan yang menjadi salah satu faktor paling krusial dalam keberlangsungan usaha peternakan. Melalui mesin pelet ini, berbagai bahan pakan lokal dapat diolah menjadi bentuk pelet yang lebih padat, seragam, serta mudah dalam proses penanganan, penyimpanan, maupun pemberiannya kepada ternak.

Mesin pelet pakan kambing yang diserahterimakan kepada kelompok ternak ini dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 100 hingga 150 kilogram per jam. Kapasitas tersebut sengaja disesuaikan untuk mendukung kebutuhan produksi pakan kelompok dalam jumlah besar, sekaligus memangkas ketergantungan para peternak pada proses pengolahan pakan secara manual yang memakan waktu dan tenaga.

Tidak sekadar menyerahkan perangkat mesin, tim PkM Poliwangi juga membekali kelompok ternak dengan racikan formulasi pakan khusus sebanyak total 100 kilogram.

Komposisi bahan pakan tersebut diracik secara terukur yang terdiri dari 30 kg hijauan, 25 kg dedak padi, 15 kg onggok, 10 kg bungkil kedelai, 10 kg jagung giling, 5 kg bungkil kelapa, 3 kg molases, 1 kg tepung tapioka, serta masing-masing 0,5 kg mineral ternak dan garam. Seluruh bahan baku ini kemudian diproses menggunakan mesin pelet untuk menghasilkan pakan yang lebih berkualitas dan mudah dicerna.

"Teknologi yang kami terapkan diharapkan tidak hanya membantu proses produksi pakan, tetapi juga memberikan kemampuan kepada kelompok ternak untuk mengelola teknologi secara mandiri," ujar Ketua Tim PkM Poliwangi, Anggra Fiveriati, S.T., M.T. dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

"Teknologi tepat guna akan memberikan manfaat lebih besar apabila disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat sebagai pengguna," tambahnya.


Tim PkM Poliwangi lakukan demo mesin pelet pakan kambing sekaligus pembekalan kepada kelompok ternak At Taqwa Farm, Rogojampi, Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

Edukasi Berkelanjutan dan Integrasi Mahasiswa

Rangkaian kegiatan PkM ini tidak berhenti pada penyerahan dan pengoperasian alat semata, melainkan juga berfokus pada transfer pengetahuan teknis. Peternak dibekali pemahaman mengenai tata cara pengoperasian mesin, pemeliharaan rutin, hingga aspek keselamatan kerja agar perangkat dapat terus digunakan dalam jangka panjang.

Keterlibatan dua mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari model pembelajaran luar ruang Poliwangi. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi memperoleh pengalaman langsung dalam mengidentifikasi masalah, menerapkan inovasi teknologi, serta melakukan pendekatan sosial kepada masyarakat pengguna teknologi di lapangan.

Peluang Unit Bisnis Baru dan Pengembangan Ekosistem Peternakan

Ke depan, penerapan mesin pelet ini memberikan peluang bagi kelompok ternak At Taqwa Farm untuk mengembangkan sistem produksi pakan secara mandiri dan terencana. Apabila kapasitas produksi konsisten dan kebutuhan pakan internal kelompok telah terpenuhi, pelet pakan ini berpotensi dikembangkan menjadi unit bisnis baru yang bernilai ekonomi bagi kelompok ternak.

Meski demikian, Poliwangi menegaskan bahwa pengembangan menuju unit produksi pakan skala usaha memerlukan tahapan evaluasi lebih lanjut. Beberapa aspek penting seperti kepastian pasokan bahan baku, kecukupan nutrisi ternak, karakteristik fisik pelet, efisiensi energi mesin, hingga biaya operasional akan terus didampingi oleh tim Poliwangi.

Melalui sinergi perguruan tinggi, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah, inovasi ini diharapkan mampu membangun ekosistem peternakan yang mandiri, efisien, dan berbasis teknologi tepat guna di Kabupaten Banyuwangi. (adv)