
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) melalui Research Group Information System and Digital Transformation (ISDT) memberikan penghargaan Gadjah Mada Digital Transformation Governance Index (GM-DTGI) 2026 kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Banyuwangi meraih terbaik pertama pada tata kelola transformasi digital khususnya implementasi kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Penghargaan diberikan dalam Seminar
Nasional bertajuk “Artificial Intelligence untuk Pemerintah Daerah:
Mengakselerasi Transformasi Digital dan Peningkatan Kinerja di Tengah Peluang
dan Tantangan” di Auditorium MM FEB UGM, Kamis (5/11/2026).
GM-DTGI mulai dirintis pada 2023 dan
diluncurkan secara nasional pada 2024. Pengukuran dilakukan melalui tujuh pilar
dan 50 indikator, meliputi tata kelola dan kepemimpinan, peraturan dan
kebijakan, reformasi administrasi publik dan manajemen perubahan, tata kelola
data, ekosistem digital, desain platform berbasis pengguna, serta keamanan
siber dan ketahanan sistem.
Pengukuran tingkat kesiapan dan
pelaksanaan tata kelola transformasi digital dilakukan terhadap 508 pemerintah
daerah kabupaten/kota di Indonesia.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani
menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diberikan FEB UGM. Menurutnya,
penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas komitmen dan kerja bersama seluruh
elemen pemerintah daerah dalam membangun tata kelola pemerintahan yang semakin
efektif, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik.
“Penghargaan ini merupakan hasil kerja
kolektif seluruh jajaran Pemkab Banyuwangi untuk menghadirkan transformasi
digital. Dimana bukan sekadar menghadirkan teknologi, tetapi sebagai instrumen
untuk mempercepat pelayanan, memperkuat tata kelola, dan memudahkan masyarakat
mendapatkan layanan publik,” kata Ipuk, Jumat (6/11/2026).
Ipuk mengatakan transformasi digital di
Banyuwangi dibangun secara berkelanjutan melalui penguatan regulasi, integrasi
sistem, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan berbagai
layanan digital yang terhubung hingga tingkat desa.
Transformasi digital harus memberikan
manfaat yang nyata bagi masyarakat. Karena itu kami terus mendorong integrasi
layanan, memperkuat tata kelola data, meningkatkan kapasitas aparatur, dan
memastikan inovasi digital yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan
warga,” ujarnya.
Ipuk juga berterima kasih atas apresiasi
dan dukungan pemerintah pusat, yang memberikan kepercayaan pada Banyuwangi atas
komitmen dalam melaksanakan digitalisasi secara berkelanjutan.
Salah satunya dengan menunjuk Banyuwangi
menjadi pilot project digitalisasi Bantuan Sosial (Bansos) yang bertujuan memastikan
penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan transparan melalui aplikasi Portal
Perlinsos.
Uji coba program ini telah berlangsung
sejak bulan September 2025. Saat ini, project ini akan diperluas ke sejumlah
daerah lain di Indonesia setelah melihat keberhasilan yang dilakukan Banyuwangi.
“Ini adalah sebuah kepercayaan yang
berharga dimana Banyuwangi menjadi model "laboratorium hidup"
transformasi digital pemerintahan daerah untuk menciptakan sistem perlindungan
sosial yang lebih baik secara nasional,” kata Ipuk.
Sebelumnya Banyuwangi juga telah
memiliki sistem pelayanan publik digital terintegrasi “Smart Kampung” untuk
memfasilitasi pelayanan publik kependudukan, bantuan sosial, pendidikan, hingga
kesehatan.
Selain itu juga ada Banyuwangi One ID
(Banyuwangi One/Single Identity), sebuah sistem integrasi dimana warga
mengakses pelayanan publik hanya cukup dengan memasukkan NIK (Nomor Induk
Kependudukan). (*)
