
Ilustrasi petani. (Foto: AI)
KabarBanyuwangi.co.id - Musim
tidak lagi bisa ditebak. Di lereng-lereng Dieng, di hamparan sawah Indramayu,
di kebun kopi Gayo, para petani menghadapi kenyataan yang dulu hanya terdengar
dari seminar: perubahan iklim bukan ancaman masa depan, melainkan krisis yang
sudah berdiri di depan pintu. Dan data menegaskan itu tanpa kompromi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat,
sepanjang 2023 terjadi 5.400 kejadian bencana di Indonesia, dengan 99,35 persen
di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi banjir, kekeringan, cuaca
ekstrem, dan tanah longsor. Di tahun yang sama, Kementerian Pertanian mencatat
lebih dari 2.269 petak lahan padi mengalami puso akibat dampak langsung cuaca
ekstrem, sementara 41.000 hektare lahan lainnya terancam gagal panen.
Badan Pusat Statistik kemudian mempertegas
gambaran ini: produksi padi nasional pada 2024 turun 2,45 persen dibanding
tahun sebelumnya, dengan luas panen menyusut 167 ribu hektare. Di balik
angka-angka itu, ada jutaan keluarga petani yang kehilangan satu-satunya sumber
penghidupan mereka.
Yang membuat kondisi ini semakin berat adalah skala kerentanan sosialnya. Sensus Pertanian BPS 2023 mengungkap bahwa dari total 27,8 juta petani pengguna lahan di Indonesia, sebanyak 17,25 juta atau sekitar 62 persen adalah petani gurem mereka yang menggarap lahan kurang dari 0,5 hektare. Skala lahan sekecil itu tidak memberi ruang untuk gagal. Tidak ada lumbung cadangan, tidak ada tabungan musim berikutnya.
Ketika satu musim tanam hancur ditelan banjir
atau kering kerontang, tidak ada cadangan finansial yang cukup untuk kembali
berdiri. Riset dari berbagai lembaga memperkirakan produksi padi bisa anjlok
hingga 20-30 persen pada tahun-tahun dengan intensitas kekeringan tinggi angka
yang bagi petani gurem sama artinya dengan bencana ekonomi pribadi.
Namun justru di tengah tekanan struktural
itulah muncul sesuatu yang patut mendapat perhatian lebih: petani lokal
beradaptasi, dengan atau tanpa dukungan negara. Di Kabupaten Bantul, kelompok
tani mulai menggabungkan pembacaan tanda-tanda alam arah angin, perilaku
serangga, ketinggian air sungai dengan prakiraan cuaca BMKG yang diakses lewat
ponsel pintar.
Hasilnya adalah sistem peringatan dini informal
yang cukup efektif memperkecil kerugian akibat cuaca tidak terduga. Ini bukan
kecanggihan teknologi semata, ini adalah hibridisasi kearifan lokal dengan
informasi digital yang semestinya difasilitasi negara jauh lebih serius.
Di dataran tinggi Sumatera Barat, petani cabai
yang berulang kali didera gagal panen akibat hujan berlebih mulai beralih ke
teknik budidaya dalam rumah plastik sederhana. Dengan bergabung dalam koperasi
dan memanfaatkan skema kredit usaha rakyat, mereka membangun struktur pelindung
tanaman yang menjaga produktivitas meski di luar sedang badai.
Di pesisir Jawa Timur, petani tambak mengintegrasikan
mangrove ke tepi kolam budidaya praktik silvofishery yang tidak hanya menahan
abrasi, tetapi juga meningkatkan kualitas ekosistem air sehingga hasil tambak
lebih stabil. Sementara di NTT, tanaman sorgum dan jewawut yang sempat
ditinggalkan karena dianggap tidak bernilai pasar, kini kembali ditanam karena
terbukti paling tahan di hadapan kemarau panjang.
Adaptasi ini sebagian besar bukan tentang
teknologi baru, melainkan kebangkitan kembali praktik yang sempat tersingkir
oleh modernisasi. Sistem subak di Bali adalah contoh paling gamblang: mekanisme
distribusi air berbasis gotong royong yang terbukti tangguh bahkan dalam
kondisi defisit, kini mendapat perhatian baru justru karena krisis iklim
membuktikan keunggulannya atas irigasi modern yang sentralistik dan rentan. Ini
adalah argumen kuat bahwa solusi terbaik tidak selalu datang dari laboratorium
penelitian kadang ia tersimpan dalam ingatan kolektif komunitas petani itu
sendiri.
Kementerian Pertanian sebenarnya telah
mengembangkan sejumlah instrumen adaptasi: Kalender Tanam (KATAM) yang
memberikan panduan waktu tanam berdasarkan pola curah hujan, serta Varietas
Unggul Baru (VUB) seperti Inpari 42 dan 43 Agritan GSR yang toleran kekeringan
sekaligus tahan genangan. Ini adalah langkah yang benar.
Masalahnya adalah diseminasi. Petani di pelosok
Sulawesi Tengah yang mengalami penurunan curah hujan dari 200 mm menjadi di
bawah 100 mm per bulan pada 2024 belum tentu tahu bahwa varietas seperti itu
tersedia. Jarak antara inovasi riset dan praktik di lapangan masih terlalu
lebar, dan celah itu diisi oleh kerugian yang tidak perlu terjadi.
Hal yang sama berlaku untuk Asuransi Usaha Tani
Padi (AUTP). Secara konsep, asuransi indeks iklim adalah instrumen yang tepat
sasaran: klaim dicairkan secara otomatis ketika parameter cuaca tertentu
misalnya curah hujan di bawah ambang batas terpenuhi, tanpa perlu survei
kerusakan yang memakan waktu dan biaya.
Namun realitasnya, lebih dari separuh responden
dalam Survei Persepsi Petani 2024 yang diselenggarakan LaporIklim menyatakan
bahwa berbagai program pemerintah selama satu dekade belum mampu melindungi
mereka dari dampak perubahan iklim secara nyata. Puluhan bendungan dibangun,
tetapi petani tetap gagal panen karena akses air irigasi yang tidak merata.
AUTP ada, tetapi penetrasinya masih jauh dari menjangkau petani yang paling
membutuhkan.
Dari gambaran ini, ada tiga lapis solusi yang
harus dijalankan secara bersamaan, bukan bergantian. Pertama, akselerasi
diseminasi teknologi adaptif: Varietas Unggul Baru dan KATAM harus menjangkau
petani di tingkat desa melalui penyuluh pertanian lapangan yang dibekali
memadai, bukan sekadar unggahan di portal kementerian yang tidak terjangkau
oleh petani tanpa akses internet stabil.
Kedua, reformasi asuransi pertanian menuju
model indeks iklim yang benar-benar otomatis dan mudah diakses petani tidak
boleh harus melek birokrasi untuk mendapatkan perlindungan dasar atas risiko
yang bukan kesalahan mereka. Ketiga, dan ini yang paling sering diabaikan,
institusionalisasi pengetahuan lokal: jadikan kelompok tani sebagai mitra aktif
dalam perancangan kebijakan, bukan sekadar penerima program dari atas.
Seorang petani tua di Jawa Tengah yang berkata
bahwa pola angin sudah berubah sejak dua dekade lalu sedang menyampaikan data
longitudinal yang tidak dimiliki instrumen manapun. Pengamatan panjang seperti
itu, yang terakumulasi dari generasi ke generasi, adalah aset pengetahuan yang
tidak ternilai dan seharusnya menjadi bagian dari sistem perencanaan pertanian
nasional.
Ketika 17 juta petani gurem berjuang menghadapi
iklim yang semakin tidak bersahabat, mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka
butuh sistem yang berdiri di belakang mereka sistem informasi, sistem
perlindungan, dan sistem pengakuan agar kecerdasan adaptasi yang sudah mereka
tunjukkan bisa bekerja lebih jauh, bukan sekadar cukup untuk bertahan hari ini
dan terancam kembali esok hari.
Cuaca ekstrem akan terus datang, dan data
membuktikan ia akan semakin sering, semakin keras, dan semakin tidak terduga.
Pertanyaannya bukan apakah petani kita mampu beradaptasi sejarah panjang
agraris bangsa ini sudah menjawabnya dengan tegas. Pertanyaannya adalah apakah
kita, sebagai bangsa, cukup jujur mengakui utang kebijakan ini, dan cukup
serius membangun ekosistem perlindungan yang benar-benar sepadan dengan
keberanian mereka.

(Penulis:
Mutiara Agustin, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, Fakultas Sains dan
Teknologi, Program Studi Agribisnis)