
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Lereng Gunung Raung di wilayah Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi menyimpan potensi besar “emas hijau” Banyuwangi. Di jalur pendakian gunung tersebut, tumbuh kopi langka jenis Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon yang memiliki nilai jual tinggi di pasar kopi kelas atas.
Kopi Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon tergolong varietas langka di Indonesia, di pasaran tergolong kelas premium.
"Ini salah satu jenis kopi
premium yang dimiliki Banyuwangi. Tidak banyak daerah di Indonesia yang bisa
mengembangkan Yellow Caturra dan Yellow Bourbon dengan kualitas baik. Tapi,
Banyuwangi punya keunggulan itu," kata Bupati Banyuwangi Ipuk
Fiestiandani, Senin (2/2/2026).
Kopi premium ini ditanam di lahan
seluas 7 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 1 ton per hektare.
Dari luasan tersebut, total produksi biji kopi (green bean) mencapai 7 ton per
tahun.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan
(Dispertan) Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, menjelaskan kopi tersebut
kini mulai dikembangkan secara serius di Banyuwangi.
Ia menyebut, kondisi geografis
lereng Gunung Raung sangat mendukung pertumbuhan kopi Arabika berkualitas
ekspor itu. Tanah vulkanik yang subur, ketinggian wilayah, serta iklim sejuk
menjadi faktor utama pembentuk karakter rasa kopi.
"Topografi di Kalibaru
sangat ideal. Tanahnya subur, iklimnya cocok, sehingga menghasilkan kopi dengan
cita rasa yang khas dan berpotensi besar untuk pasar internasional,"
jelasnya.
Berdasarkan asal usulnya,
varietas Yellow Caturra diyakini berasal dari Kolombia, Kosta Rika, dan
Nikaragua, kemudian dikembangkan di Brasil. Begitupun dengan Kopi Yellow
Bourbon juga berasal dari Brasil.
Di Indonesia, varietas ini dibawa
pada masa kolonial Belanda dan dapat ditemukan di beberapa daerah dataran
tinggi saja seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur (Flores,
Bajawa).
Ceri kopi ini dikenal karena
buahnya berwarna kuning saat matang dan menawarkan rasa manis serta asam yang
seimbang.
Danang menyebut pengembangan kopi
langka ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi produk pertanian
Banyuwangi untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
"Kami tidak hanya mengejar
kuantitas, tapi kualitas. Dengan kopi premium seperti ini, harga jualnya jauh
lebih baik dan berdampak langsung pada pendapatan petani," ujarnya.
Pemkab Banyuwangi, lanjut Danang,
terus mendorong penguatan budidaya, pascapanen, hingga pemasaran kopi agar
mampu bersaing di pasar global.
"Potensi ini akan terus kami
kembangkan dengan pendampingan dan penguatan hilirisasi. Harapannya, kopi
Arabika Banyuwangi dari lereng Gunung Raung bisa semakin dikenal dunia,"
tutur dia. (*)