
Manager Bisnis Pegadaian Cabang Banyuwangi Bagus Eka Prasetya. (Foto: Fattahur)
KabarBanyuwangi.co.id – Tren kenaikan harga emas berdampak pada aktivitas transaksi di Pegadaian. Menjelang Lebaran, minat warga Banyuwangi terhadap emas meningkat.
Pembelian emas oleh masyarakat naik sekitar 10-20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan secara tahunan (year on year/YoY), peningkatan transaksi mencapai 50 hingga 70 persen.
"Kenaikan ini dipengaruhi karena tingginya minat
masyarakat untuk berinvestasi emas," kata Manager Bisnis Pegadaian Cabang
Banyuwangi Bagus Eka Prasetya, Kamis (19/3/2026).
Menurut Bagus, kenaikan harga emas yang mengikuti tren
pasar global mendorong masyarakat melihat emas sebagai instrumen perlindungan
nilai aset atau safe haven.
"Banyak masyarakat tertarik membeli emas sebagai
pelindung nilai harta mereka. Jadi kalau punya emas, nilainya bisa lebih aman
dan berpotensi meningkat," tuturnya.
Tren kenaikan harga emas berpengaruh terhadap produk
Pegadaian yang mayoritas produk Pegadaian berbasis emas. Nilai taksiran gadai
emas kini berada di kisaran Rp 2,6 juta.
Selain layanan gadai, Pegadaian juga menyediakan produk
investasi seperti cicilan emas yang juga menunjukkan tren positif.
Tabungan emas misalnya, melalui layanan ini masyarakat
dapat menabung dalam bentuk uang yang kemudian secara otomatis dikonversi
menjadi saldo emas sesuai harga pada hari transaksi.
"Sistemnya tetap menabung uang, tapi pada hari itu
juga langsung dikonversi menjadi emas sesuai harga saat transaksi," ujar
Bagus.
Bagus menambahkan, saat ini tren transaksi pembelian
lebih dominan ketimbang penjualan. Hal ini dipengaruhi semakin meningkatnya
pemahaman masyarakat mengenai manfaat emas sebagai instrumen investasi.
"Dari data kami, saat ini lebih banyak masyarakat
membeli emas. Karena harga naik, informasi tentang keuntungan investasi emas
juga semakin luas dan diminati," ujarnya.
Di sisi lain, aktivitas gadai juga meningkat jelang Hari
Raya Idul Fitri. Mayoritas masyarakat menggadaikan perhiasan emas untuk
kebutuhan modal kerja.
"Untuk sementara ini masih banyak yang menggadai
untuk kebutuhan modal kerja. Biasanya mendekati Lebaran justru banyak yang
menebus kembali agar perhiasannya bisa dipakai saat hari raya," jelasnya.
Pegadaian Banyuwangi mencatat outstanding loan (OSL) atau
total pinjaman mengalami kenaikan sekitar 17 persen dibanding akhir tahun lalu.
Nilai pinjaman saat ini mencapai sekitar Rp 30 miliar.
"Tapi kami tidak membatasi anggaran untuk layanan
gadai. Jika permintaan meningkat, kami akan mengajukan tambahan dana ke kantor
pusat agar kebutuhan masyarakat tetap terlayani," tandasnya. (fat)