Melihat Fenomena Embun Beku di TWA Kawah Ijen, Suhu Tembus Dua DerajatBMKG Banyuwangi

Melihat Fenomena Embun Beku di TWA Kawah Ijen, Suhu Tembus Dua Derajat

Ranting dan hamparan rumput di area paltuding Kawah Ijen diselimuti embun beku, Jumat (17/6/2026) pagi. (Foto: Tangkapan layar)

KabarBanyuwangi.co.id – Fenomena alam unik menyapa kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Banyuwangi, pada Jumat (17/7/2026) pagi. Hamparan tanaman kering, rumput, hingga ranting pohon di area Paltuding mendadak memutih akibat diselimuti oleh embun beku atau embun upas.

Momen langka yang membuat lanskap Kawah Ijen bak di luar negeri ini sempat diabadikan oleh seorang driver wisata bernama Johan. Ia mengaku suhu dingin ekstrem sudah menusuk tulang sejak subuh.

"Tadi pagi sekitar jam 06.00 WIB, di pertigaan pos petugas suhunya terpantau 5 derajat Celsius. Bahkan bisa di bawahnya lagi, pernah sampai 2 derajat. Fenomena ini biasanya terjadi di antara bulan Juni dan Agustus," kata Johan dikonfirmasi KabarBanyuwangi.co.id, Sabtu (18/7/2026).

Baca Juga :

Kepala TWA Kawah Ijen, Rusdi Santoso, membenarkan adanya fenomena tersebut. Menurutnya, kristal es ini tidak muncul setiap hari karena sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Meski suhu udara anjlok drastis, Rusdi memastikan kawasan Kawah Ijen masih sangat aman untuk dikunjungi wisatawan.

"Operasional pendakian tetap aman. Namun, untuk antisipasi cuaca dingin, kami imbau wisatawan memakai jaket tebal, sarung tangan, dan cebo (kupluk)," imbau Rusdi.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto Windiarto, menjelaskan fenomena ini lumrah terjadi di dataran tinggi saat memasuki musim kemarau, atau yang biasa disebut masyarakat Jawa sebagai musim bediding.

"Embun es terbentuk saat suhu permukaan tanah turun drastis. Pada malam hari yang cerah saat kemarau, uap air tidak sempat menjadi embun cair, melainkan langsung mengkristal menjadi lapisan es tipis," jelas Yustoto.

Embun upas terpantau masih selimuti tanaman-tanaman di area Kawah Ijen, Sabtu (18/7/2026) pagi. (Foto: Langit Biru Banyuwangi)

Menurut BMKG, ada tiga faktor utama yang memicu fenomena ini:

1. Langit Tanpa Awan: Membuat panas bumi lepas langsung ke atmosfer, sehingga suhu malam hingga dini hari anjlok drastis.

2. Suhu Udara Ekstrem: Di dataran tinggi, suhu dini hari bahkan bisa menyentuh minus 5 derajat Celsius.

3. Kelembaban Udara: Uap air yang menempel pada benda-benda dingin di permukaan tanah langsung membeku secara instan. (man)