Melihat Momen Langka Penyu Bertelur di Pantai Boom BanyuwangiBanyuwangi Sea Turtle Foundation

Melihat Momen Langka Penyu Bertelur di Pantai Boom Banyuwangi

Petugas MMP dan dua mahasiswa menjaga penyu bertelur di Pantai Boom. (Foto: Firman)

KabarBanyuwangi.co.id - Seekor penyu jenis lekang mendarat dan bertelur di kawasan Perairan Selat Bali, tepatnya di Pantai Boom, Banyuwangi, Minggu (19/6/2022) dini hari.

Untuk menghindari gangguan predator, momen langka tersebut dijaga ketat para relawan dari Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) seksi 5 Jawa Timur.

Dalam satu kali bertelur penyu indukan diperkirakan berusia 30 tahun, memiliki panjang 80 dan lebar 74 centimeter, habitatnya banyak dijumpai di Perairan Selat Bali ini, mengeluarkan 99 butir dengan waktu sekitar 2 jam.

Baca Juga :

“Penyu lekang, usianya sekitar 30 tahun lebih. Jumlah telurnya ada 99 butir. Untuk menghindari predator saya jaga, karena saya relawan penjaga penyu yang ada disini. Setiap malam saya keliling kalau musim penyu bertelur,” kata Didik, petugas MMP, BBKSDA seksi 5 Jawa Timur.


Penyu mengeluarkan puluhan telur terpandam di dalam pasir pantai. (Foto: Firman)

Didik menambahkan, sebagaimana habitat aslinya, penyu yang termasuk binatang dilindungi ini membuat satu pola pengamanan saat bertelur. “Bertelurnya terpendam dalam pasir pantai, agar telur tidak dimakan predator yang ada di sekitar pantai,” tambahnya.

Selanjutnya puluhan telur penyu dievakuasi oleh petugas dan dua mahasiswa asal Universitas Airlangga (Unair), Surabaya yang sedang melakukan penelitian tentang penyu di Banyuwangi. Setelah didata, puluhan telur dibawa menuju tempat penetasan semi alami.

“Takutnya nanti banyak orang dari desa yang nggak tau, karena penyu ini kan dilindungi. Jadi takutnya ada yang ga tau diambil penyunya dan disembelih. Naah, setelah dipindahkan terus ditetaskan,” ungkap Didik.

“Karena kalau tidak dipindah besok disini ada air, tidak mungkin bisa menetas. Kalau ditempat yang kering bisa menetas. Jadi diselamatkan agar bisa menetas dengan biak,” imbuhnya.


Puluhan telur dievakuasi menuju tempat penetasan semi alami. (Foto: Firman) 

Di penetasan semi alami tersebut perkembangan puluhan telur akan terus di pantau oleh petugas BSTF, selaku pemerhati penyu di Banyuwangi, hingga nantinya menetas selama kurang lebih 65 hari kedepan.

Setelah bertelur, dengan sendirinya penyu kembali ke habitatnya menuju kawasan Perairan Selat Bali. “Kalu sudah menetas kembali lagi ke alamnya,” pungkas Didik.

Sejak awal April, tercatat sekitar 17 sarang penyu ditemukan di sepanjang kawasan pesisir Pantai Boom dan Pantai Pulau Santen, Banyuwangi.

Selain alamnya mendukung, perairan Banyuwangi juga memiliki laut yang menghubungkan perairan utara dan selatan Jawa.


Usia bertelur penyu kembali ke habitatnya di Perairan Selat Bali. (Foto: Firman)

Biasanya untuk musim penyu bertelur dimulai bulan Februari hingga Juni. Namun, pada tahun ini penyu bertelur dimulai awal bulan April, karena faktor alam di Perairan Selat Bali.

Berdasarkan maping petugas, ada tujuh jenis penyu di dunia. Enam di antaranya berada di Perairan Indonesia, empat jenis penyu lainnya ditemukan bertelur dan berada di perairan Banyuwangi. Yaitu jenis penyu lekang, penyu sisik, penyu hijau dan penyu belimbing. (man)