
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung pengembangan industri kreatif batik Banyuwangi melalui kolaborasi penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK).
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem usaha batik, memperluas akses layanan keuangan, sekaligus membuka peluang pasar bagi perajin dan pelaku UMKM lokal.
Kepala OJK Jember Aris Budiman
mengatakan, perpaduan BBF dan BIK menjadi langkah strategis untuk memperluas
literasi serta inklusi keuangan di tengah masyarakat, khususnya para pelaku
industri kreatif.
Menurutnya, pengembangan industri
batik membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya
perajin, tetapi juga pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga
masyarakat sebagai konsumen produk lokal.
“Proses pembuatan batik
membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya
meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai
OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah,” ujar
Aris.
Ia berharap kolaborasi BIK dengan
Banyuwangi Batik Festival yang telah berjalan dua kali tersebut dapat terus
berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Banyuwangi, terutama para
perajin batik.
Tahun ini, BBF kembali digelar di
Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6-8 November 2026. Memasuki
penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2013, festival ini
mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono
mengatakan, BBF telah berkembang menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan
warisan budaya sekaligus memperkuat ekosistem usaha batik di daerah.
Keterlibatan berbagai pihak,
mulai dari perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal hingga pelaku usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan
festival tahunan tersebut.
“Di satu sisi kita merayakan
warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku
UMKM yang menghidupkan budaya,” ujar Mujiono saat menghadiri pembukaan BBF,
Jumat (6/11/2026).
Mujiono berharap BBF terus
menjadi ruang bagi para perajin untuk berkarya dan berinovasi, baik dalam
pengembangan motif, desain, maupun strategi pemasaran. "Termasuk
memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas jangkauan pasar batik
Banyuwangi," kata Mujiono.
Sejak pertama kali digelar, BBF
tidak sekadar menjadi ajang peragaan busana. Festival ini juga menjadi sarana
memperkenalkan kekayaan motif batik kuno Banyuwangi, mendorong kreativitas
perajin, serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk budaya lokal.
Setiap tahun, BBF mengangkat
motif batik yang memiliki karakter dan filosofi tersendiri. Sejumlah motif khas
yang pernah diperkenalkan diantaranya Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi
Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader
Kesit.
Tahun ini, motif Sabuk Mangir
Latar Ukel menjadi representasi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur
Banyuwangi, sekaligus memperkaya khazanah batik lokal agar semakin dikenal
masyarakat luas.
Rangkaian kegiatan BBF dan BIK
tahun ini turut diisi dengan peragaan busana batik, Financial Expo dan Bazar
UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), talk show literasi keuangan,
kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan Cavendish
berkualitas, hingga BIK Run.
Selain menjadi ruang ekspresi
budaya, festival ini juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk
memperkenalkan produk dan berinteraksi langsung dengan masyarakat maupun
wisatawan.
Eca, salah satu pelaku usaha
batik yang berpartisipasi dalam festival, mengatakan seperti Sabuk Mangir Latar
Ukel, menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan batik Banyuwangi yang lebih
beragam.
“Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal,” ungkapnya. (*)
