
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Momen Ramadan menjadi berkah bagi para pelaku usaha kuliner rumahan di Banyuwangi. Produksi menu berbuka puasa banyak diminati pembeli, ditambah lagi kebijakan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memfasilitasi banyak pasar takjil.
Seperti ibu-ibu rumah tangga pelaku usaha kuliner rumhan di lingkungan Kampung baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Di kampung ini terdapat sekitar 20 ibu rumah tangga menjadi pelaku kuliner rumahan.
Selama Ramadan mereka memproduksi
menu-menu khas berbuka, seperti kue cenil, urap-urap, aneka sayuran, lauk-pauk,
dan makanan berbuka lainnya.
Produksi mereka untuk memenuhi
kebutuhan para pedagang di lapak-lapak pasar takjil dan warung-warung.
Untuk menjamin keamanan dan
memberikan kepastian halal pada produk kuliner yang dijual, Bupati Ipuk
memfasilitasi pengurusan legalitas usaha bagi para pelaku kuliner. Mulai nomor
izin berusaha (NIB), PIRT, hingga sertifikasi halal.
"Legalitas usaha sangat
penting bagi para pelaku UMKM,” ujar Ipuk, usai menyerahkan langsung legalitas
bagi para pelaku kuliner rumahan, di sela kegiatan Silaturahmi bersama Warga,
di Kecamatan Gambiran, Selasa (24/2/2026).
“Selain mereka bisa mendapatkan
kepastian hukum atas asetnya, juga meningkatkan kepercayaan konsumen, serta
memberikan kemudahan akses permodalan melalui perbankan," tambahnya.
Fasilitasi legalitas UMKM
dilakukan secara gratis. Tak sekadar membantu mengurus dokumen, Pemkab
Banyuwangi juga rutin memberikan sosialisasi dan pendampingan pada mereka. "Semoga
dengan legalitas ini, produk para usaha kuliner rumahan kian laris," jelas
Ipuk.
Salah satu pelaku kuliner
rumahan, Fitria Sundari adalah salah satunya. Wanita paruh baya yang setiap
harinya memproduksi kue cenil dan cilok itu kini mengaku lega telah mengantongi
dokumen legalitas usaha.
"Awalnya tidak tahu kalau
harus memiliki legalitas usaha. Terima kasih Ibu Bupati sudah membantu saya
mengurus NIB dan sertifikat halal. Sekarang usaha saya sudah resmi dan diakui
halal," ungkap Fitria.
Fitria adalah salah satu dari
ibu-ibu di lingkungan Kampung baru yang memproduksi kuliner tradisional. Tempat
tinggalnya memang dikenal sebagai kampung produsen jajanan tradisional.
Hampir semua ibu rumah tangga di
wilayah itu memproduksi makanan rumahan untuk dijual di pasar oleh pihak
kedua.
"Kami hanya membuat masakan,
nanti sudah ada penampungnya. Jadi kami tidak repot karena sudah pasti
terjual," ungkapnya.
Selama momen Ramadan seperti
sekarang, ibu-ibu ini banting stir dengan membuat hidangan takjil yang memang
sangat diburu saat waktu berbuka puasa. Sebelumnya mereka membuat aneka jajanan
basah, kini berganti haluan membuat aneka hidangan siap santap. Seperti lodeh,
lauk pauk, hingga takjil khas Ramadan.
Seperti yang dilakoni Puji Astuti. Produsen donat dan kue lapis itu selama Ramadhan ini beralih membuat aneka lauk pauk. "Harus pinter lihat peluang. Saat puasa biasanya masyarakat antusias berburu takjil dan lauk. Makanya saya inisiatif menjual lauk pauk. Alhamdulillah laris," kata dia. (*)