
Warga binaan tadarusan menggunakan Al-Qur'an raksasa di musala Lapas Kelas IIA Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi rutin tadarus menggunakan Al-Qur'an raksasa berukuran satu meter pada momen bulan suci Ramadan.
Al-Qur`an berukuran raksasa itu merupakan hasil karya warga binaan. Keberadaannya bukan sekadar simbol kreativitas, melainkan representasi semangat hijrah dan transformasi positif para napi dalam menjemput masa depan yang lebih baik.
Karya monumental ini merupakan buah manis dari program
pembinaan berbasis pondok pesantren di Lapas Banyuwangi, khususnya di bidang
seni kaligrafi.
Menariknya, tiga warga binaan yang terlibat dalam
pembuatan Al-Qur'an raksasa itu awalnya sama sekali tidak memiliki dasar ilmu
menulis Al-Qur'an maupun kaligrafi.
Kemampuan tersebut mereka dapatkan melalui bimbingan
intensif hasil kerja sama Lapas Banyuwangi dengan pengrajin kaligrafi
profesional
Kalapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa menjelaskan,
proses pengerjaan Al-Qur'an raksasa ini memakan waktu kurang lebih sepuluh
bulan. Penulisan dimulai sejak Ramadan tahun lalu dan dirampungkan dengan penuh
ketelitian.
"Al-Qur'an ini adalah bukti keberhasilan pembinaan
berbasis pondok pesantren kami,” ujar Wayan, Jumat (6/3/2026).
“Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian
kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka
mampu melahirkan mahakarya yang luar biasa ini," tambahnya.
Wayan menekankan bahwa aspek akurasi ayat menjadi
prioritas mutlak. Sebelum digunakan secara resmi, naskah Al-Qur'an tersebut
telah melalui proses tashih atau pemeriksaan mendalam oleh Pondok Pesantren Nur
Cahaya Tarbiyatul Qur'an.
"Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar.
Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada
bagian-bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk kedua kalinya guna
memastikan kualitas fisik dan kerapiannya,” jelas Wayan.
“Kami berharap karya ini membawa manfaat, berkah, serta
memotivasi warga binaan lain untuk terus berkarya," imbuhnya.
Kebanggaan mendalam dirasakan oleh Moch Chanafi salah
satu dari tiga penulis utama Al-Qur'an tersebut. Baginya, perjalanan selama
sepuluh bulan menulis kalam illahi ini menjadi sarana refleksi dan pendewasaan
spiritual yang sangat berharga.
"Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Qur'an
raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali. Selama
menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti. Saya
menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang
saya goreskan," ungkap Chanafi. (fat)