
Suasana setelah diskusi dan pemutaran film Roots di Gedung Mini Cinema Dinas Kebudayan dan Pariwisata Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Pemutaran film Roots Seratus Tahun Walter Spies di Bali dikelilingkan di Jawa Timur sebagai rangkaian program Roots Tour de Java. Kota-kota yang disinggahi diantaranya Banyuwangi, Jember dan Surabaya.
Film “Roots” karya Michael Schindhelm terbukti telah mencuri perhatian dari berbagai elemen masyarakat Jawa Timur. Pelaku seni, pemerhati budaya, aktivis lingkungan dan pariwisata, serta insan akademisi seni.
Roots sebagai film dokumenter fiksi yang membuka
pembicaraan tentang sosok seniman Walter Spies dan masa lalu Bali hingga kini,
mengisahkan banyak hal yang belum terungkap secara sinematik tentang Bali,
kebangkitannya menjadi Eldorado pariwisata global, dan upaya gigih
masyarakatnya untuk melestarikan identitas budaya mereka di tengah gempuran
arus globalisasi.
Michael Schindhelm dengan pendekatan yang sangat dalam,
memotret kembali realita yang terjadi itu. Melibatkan lebih dari seratus pendukung
dari seniman Bali multi genre, benar-benar mampu mengangkat realita yang ingin
ditunjukkan pada publik secara luas.
Ketika film ini diputar keliling Pulau Jawa dan berakhir
di Jawa Timur, tentu bukanlah sebuah kebetulan, semuanya direncanakan seperti
perjalanan napak tilas walter Spies sebelum ke Bali.
Seniman Jerman kelahiran Moscow seperti diketahui pertama
kali tiba di Batavia yang kini Jakarta pada tahun 1923. Dari perjalanan itulah
Spies kemudian berlanjut dan pernah menyinggahi Bandung, Yogyakarta, Surabaya
kemudian menetap di Bali.
Menurut Yudha Bantono yang tahun lalu sebagai project
director pameran ROOTS di Arma Museum Ubud, dan kini diberi mandatori untuk
memutar Film Roots di berbagai tempat di Indonesia, maupun luar negeri seperti yang
telah dilakukan di Australia Barat, Roots Tour de Java telah menyelesaikan
putaran keliling Jawa dan berakhir di Kota Surabaya.
Yudha yang dikenal sangat aktif berkecimpung dalam
jejaring seni dan budaya di kancah internasional, menambahkan bahwa di setiap
tempat pemutaran film Roots yang telah disinggahi seperti Jakarta, Bogor,
Bandung, Yogyakarta, Magelang, Banyuwangi, Jember dan Surabaya. Masing-masing
memiliki respon yang beraneka ragam, termasuk ketika ditarik sebagai bahan
refleksi perkembangan yang terjadi di daerahnya masing-masing.
Sebelum diputar di Zumen Art Studio Surabaya, sejak
tanggal 29 Agustus sampai 6 Sepetember 2026, film Roots telah mampir di Kota
Jember tepatnya di Studio Serakit dan Museum Huruf.
Khusus Banyuwangi diputar di Gedung Sinema Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata, sedangkan Kota Surabaya di STKW Surabaya. Pada sesi
penutupan di Zumen Art Studio Purimas Surabaya, menghadirkan penonton rata-rata
kaum muda generasi Z, serta kaum dewasa di atasnya.
Venta founder Zumen Art Studio Surabaya, mengatakan bahwa
pemutaran film Roots sangat mendukung program pendidikan seni di lembaganya
yang bergerak dalam pengembangan pengetahuan dan ketrampilan melukis dan
menggambar bagi anak-anak, remaja dan dewasa dengan latihan konsisten, feedback
kelas terarah, dan perkembangan karya yang terlihat.
“Film Roots saya kira dapat menempatkan peran penting
bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam
membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia, sehingga dapat
menginspirasi kaum muda agar lebih peka terhadap perubahan di sekitar
mereka," kata Venta, Selasa (8/9/2026).
"Lebih penting lagi, penonton tidak hanya sekadar
diajak untuk memahami sejarah dan apa yang terjadi di Pulau Bali saat ini,
tetapi juga merenungkan lingkungan sosial mereka sendiri. Lebih penting lagi,
film ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk merespons perubahan
secara positif," tambahnya.
Senada disampaikan oleh Agus Sukamto akademisi dari STKW
Surabaya yang juga menjadi host pemutaran film Roots di STKW Surabaya. Pria
yang juga dikenal sebagai pelukis ini menuturkan bahwa film Roots karya Michael
Schindhelm mengingatkan dirinya terhadap keberadaan seni tradisi Ludruk di
Surabaya.
“Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan,
namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya. Bila menengok
film Roots melalui kisah Walter Spies dan perjuangan masyarakat Bali
mempertahankan tradisi dan budayanya di tengah gempuran arus global," kata
pria yang akrab disapa Agus Koecing ini.
"Ini sangat penting bagi kita untuk menengok kembali
apa itu akar, lalu akar yang berupa tradisi budaya itu agar tumbuh dan
berkembang, kemudian menjadi milik generasi berikutnya untuk
mengembangkannya," imbuhnya.
Ahmad Pandi pelukis Jember yang menghadiri pemutaran di
Serakit Studio Jember menyampaikan kesannya, bahwa film ini sangat penting dan
menginspirasi bagi perkembangan ekosistem seni yang berkembang di Kota Jember.
Film Roots telah mengajak kaum kreatif yang bergerak
dalam bidang seni untuk dapat menggali ulang sejarah Kota Jember sebagai pintu
masuk melihat persoalan yang terjadi. Film Roots seperti menarik kita untuk
mawas terhadap perkembangan daerahnya, dalam mengkritisi bahkan mengadvokasi setiap
perubahan yang mengarah pada degradasi sosial, budaya dan lingkungan.
Pernyataan serupa juga disampaikan Hasan Basri Ketua
Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi. Menurut pemerhati budaya Osing Banyuwangi
ini, film Roots sangat bagus dan menginspirasi bagi seniman maupun warga
Banyuwangi. Bagaimana kepedulian seniman-seniman asing seperti Walter Spies
begitu berjasanya mengembangkan seni budaya bahkan pariwisata Bali.
Disamping itu, seperti disampaikan dalam Roots, bahwa
semua kebaikan juga ada sisi gelapnya, maka itu sebagai warga Banyuwangi film
ini mengingatkan kembali posisi Banyuwangi dengan pariwisatanya yang sangat
berkembang saat ini. Banyuwangi diharapkan memiliki blue print bagaimana
mengembangkan seni, budaya dan pariwisata secara berkelanjutan dengan baik.
“Minat masyarakat khususnya penggiat sejarah, seni,
budaya dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa
maupun luar Pulau Jawa sangat tinggi, ke depan sedang dirancang program agar
film ini juga bisa dinikmati kembali oleh penonton secara luas," tambah
Yudha di sela-sela akhir penutupan Film Roots 6 Sepetember 2026 yang lalu di
Zumen Art Purimas Surabaya. (*)
