
Pulau Bedil, salah satu destinasi wisata bahari tersembunyi yang sedang ngetren di Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id - Sektor pariwisata Indonesia terus
mengalami transformasi pesat. Pergeseran preferensi pelancong global maupun
domestik menunjukkan bahwa wisatawan kini tidak lagi sekadar berburu foto
estetis.
Para pelancong mulai beralih mencari pengalaman spiritual,
interaksi mendalam, serta keberlanjutan lingkungan dalam setiap perjalanan.
Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi yang
dihimpun dari laman resmi Kemenpar mencatat ada enam tren utama yang
mendominasi industri pelesiran tanah air saat ini.
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang dijuluki The Sunrise
of Java ini pun berhasil menjadi representasi sempurna yang mengimplementasikan
seluruh tren tersebut secara nyata melalui kekayaan seni, budaya, dan bentang
alamnya.
Berikut adalah gambaran bagaimana enam tren pariwisata
modern terwujud utuh di Bumi Blambangan:
1. Cultural Immersion: Mengakrabi Keramahan
Warga Suku Osing di Desa Kemiren

Momen personel band Kotak bersama warga Suku Osing
Kemiren. (Foto: Istimewa)
Tren cultural immersion mendorong wisatawan untuk terlibat
aktif dalam kehidupan masyarakat lokal. Di Banyuwangi, pengalaman ini terwujud
secara autentik saat berkunjung ke Desa Wisata Kemiren yang menjadi rumah bagi
suku asli Osing.
Para pelancong dapat berinteraksi langsung dengan warga
lokal di rumah adat berarsitektur khas, belajar memainkan musik tradisional
angklung paglak, hingga mengikuti festival budaya seperti ritual Ider Bumi.
Interaksi hangat ini memberikan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kearifan
lokal yang masih terjaga lestari.
2. Eco-Friendly Tourism: Konservasi Lingkungan
di Taman Nasional Meru Betiri

Pelepasan tukik di Taman Nasional Meru Betiri.
(Foto: Istimewa)
Kesadaran akan jejak karbon dan pengelolaan sampah
melahirkan tren eco-friendly tourism. Banyuwangi merespons tren ini melalui
pengelolaan kawasan konservasi yang ketat dan mengedepankan prinsip
keberlanjutan.
Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Meru Betiri
menjadi rujukan utama wisata hijau. Di sini, wisatawan diajak membatasi
penggunaan plastik sekali pakai, mengikuti edukasi perlindungan habitat, serta
berpartisipasi langsung dalam pelepasan tukik ke laut lepas secara bertanggung
jawab.
3. Nature and Adventure-Based Tourism: Berburu
Pengalaman Khas di Kawah Ijen

Pendaki TWA Kawah Ijen. (Foto: Istimewa)
Generasi muda mendorong lahirnya tren sight-doing dan lore
chasing, di mana mereka aktif berburu narasi unik serta mempelajari
keterampilan baru secara spontan di lokasi tujuan.
Kesan unik dan menantang menjadi daya tarik utama tren ini.
Wisatawan mencari pengalaman yang lebih personal dan bermakna sebuah
petualangan yang tak hanya memacu adrenalin, tetapi juga memberi dampak positif
bagi kelestarian alam serta pemberdayaan masyarakat lokal.
4. Culinary & Gastronomy Tourism:
Menjelajahi Cita Rasa Autentik

Merasakan langsung kuliner tradisional di Desa
Wisata Adat Osing Kemiren. (Foto: Istimewa)
Seni kuliner kini bertransformasi menjadi alasan utama
seseorang memilih destinasi wisata. Banyuwangi memiliki warisan gastronomi kaya
yang sarat akan sejarah dan teknik memasak tradisional.
Hidangan khas seperti Nasi Tempong dengan racikan sambal
mentah yang segar, Rujak Soto yang unik, hingga Ayam Kesrut menjadi daya tarik
utama jelajah rasa. Wisatawan tidak hanya menikmati kelezatan sajian, tetapi
juga mempelajari filosofi di balik penggunaan bumbu rempah lokal.
5. Wellness Tourism: Penyelarasan Jiwa dan Raga
di Kaki Gunung Ijen

Nikmatnya spa di tengah asrinya kawasan kaki Gunung
Ijen. (Foto: Istimewa)
Wisata kebugaran, healing, dan mindfulness kini menjadi
kebutuhan mendasar bagi masyarakat perkotaan. Keindahan alam bawah sadar
Banyuwangi menawarkan ruang ideal untuk memulihkan energi fisik maupun mental.
Wisata kebugaran menekankan pengalaman yang memulihkan
tubuh, menenangkan pikiran, dan meningkatkan kesejahteraan secara holistik. Di
Banyuwangi, wisata kebugaran ini lekat dengan perawatan kesehatan berbasis
alam.
6. Bleisure: Bekerja Sambil Menikmati Keindahan
Pantai Boom

Work from cafe sambil menikmati suasana Pantai Marina
Boom. (Foto: Istimewa)
Konsep bleisure (gabungan business dan leisure)
atau bekerja sambil berlibur semakin populer seiring berkembangnya pola kerja
fleksibel. Banyuwangi memfasilitasi kebutuhan ini dengan penyediaan
infrastruktur digital yang memadai di berbagai sudut kota.
Para pekerja jarak jauh dapat menyelesaikan tugas kantor
dari kafe modern di kawasan Pantai Marina Boom dengan latar belakang
pemandangan Selat Bali. Setelah jam kerja usai, mereka bisa langsung menikmati
suasana matahari terbenam atau memperpanjang masa tinggal untuk menjelajahi
destinasi wisata sekitar.
Integrasi antara enam tren pariwisata modern dan potensi
lokal membuat Banyuwangi tumbuh sebagai destinasi yang adaptif serta berdaya
saing tinggi. Pendekatan berbasis komunitas dan kelestarian alam menjadi kunci
utama keberlanjutan industri wisata di ujung timur Pulau Jawa ini. (anj/man)
