
Lahan pertanian di wilayah Banyuwangi mengering akibat kemarau panjang. (Foto: Dok/Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id - Debit sumber mata air di sejumlah
wilayah Kabupaten Banyuwangi mengalami penyusutan hingga sekitar 30 persen
dibandingkan kondisi normal di masa musim kemarau ini.
"Hasil validasi bersama Perumda Air Minum (PUDAM), debit
11 sumber mata air menyusut sekitar 30 persen. Namun berdasarkan keterangan
Direktur PUDAM, kondisinya masih dalam kategori aman," kata Kalaksa BPBD
Banyuwangi, Partana, Selasa (4/8/2026).
Menurut Partana, penyusutan debit mata air paling banyak
terjadi di wilayah Kecamatan Licin dan Glagah. BPBD memprediksi kondisi
tersebut masih berpotensi berlanjut seiring berlangsungnya musim kemarau.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG), musim kemarau di Banyuwangi diperkirakan berlangsung hingga
akhir 2026, dengan puncaknya terjadi pada Juli hingga September.
"Ketika curah hujan mulai rendah, tentunya persediaan sumber
air juga akan ikut menurun," ujar Partana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi
mengingatkan kemarau berkepanjangan tidak hanya berpotensi memengaruhi
ketersediaan air bersih, tetapi juga mengancam sektor pertanian yang bergantung
pada pasokan air irigasi.
BPBD Banyuwangi kini tengah menyiapkan Satuan Tugas
(Satgas) Antisipasi Musim Kemarau Panjang yang diterjunkan sewaktu-waktu.
Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan dan Dinas
Pertanian untuk menyiapkan langkah antisipasi.
Dinas Pengairan diminta melakukan kajian terhadap kondisi
embung dan sungai yang menjadi sumber irigasi, sekaligus mengoptimalkan
penampungan sisa air hujan.
Sementara Dinas Pertanian didorong untuk menyesuaikan pola
tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan agar
produktivitas pertanian tetap terjaga.
"Harapannya petani tidak mengalami gagal panen meski
kemarau berlangsung lebih panjang," kata Kepala Pelaksa BPBD Banyuwangi,
Partana. (fat)