Dua Kapal Terbalik di Perairan Banyuwangi, SAR Sisir Grajagan dan Muncar Cari Tiga Korban HilangTim SAR Gabungan

Dua Kapal Terbalik di Perairan Banyuwangi, SAR Sisir Grajagan dan Muncar Cari Tiga Korban Hilang

Tim SAR Gabungan sisir perairan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Tim SAR Gabungan terus memaksimalkan operasi pencarian terhadap tiga korban hilang akibat insiden dua kapal terbalik di perairan selatan Kabupaten Banyuwangi pada Senin (20/7/2026) dini hari.

Kecelakaan laut pertama menimpa perahu nelayan di perairan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Dua ABK ditemukan meninggal dunia, yakni Purnomo (40) dan Junairi (46). Sementara dua ABK lainnya, Sutris (34) dan Lukman (25), hingga kini belum ditemukan.

Hampir bersamaan, insiden kapal terbalik juga terjadi di perairan Senggrong, Kecamatan Muncar. Seorang pemancing bernama Hambali (56), warga Lingkungan Tanjung, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, dilaporkan hilang setelah perahunya dihantam ombak besar.

Baca Juga :

Memasuki hari kedua operasi SAR pada Selasa (21/7/2026), Tim SAR Gabungan membagi kekuatan menjadi beberapa Search and Rescue Unit (SRU) untuk menyisir sektor perairan Grajagan maupun Muncar.

Pencarian dilakukan secara masif melalui penyisiran tengah laut menggunakan rubber boat Basarnas yang didukung perahu nelayan, serta penyisiran darat di sepanjang garis pantai.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyatakan seluruh potensi SAR dikerahkan secara maksimal dengan tetap memperhitungkan kondisi cuaca dan keselamatan personel.

"Memasuki hari kedua operasi SAR, kami bersama seluruh unsur SAR gabungan terus mengoptimalkan upaya pencarian terhadap korban yang masih belum ditemukan. Strategi pencarian disesuaikan dengan kondisi arus, gelombang, dan hasil evaluasi di lapangan," ujar I Made Oka Astawa.


Operasi pencarian pemancing warga Tanjung Klatak yang hilang di perairan Sengrong, Muncar. (Foto: Istimewa)

Operasi pencarian ini melibatkan personel gabungan dari Basarnas Banyuwangi, Pos TNI AL, Polairud Polresta Banyuwangi, Ditpolairud Polda Jatim, BPBD Jatim, Damkarmat, Dinas Perikanan, RAPI, Pokmaswas, hingga nelayan setempat.

"Sinergi seluruh unsur SAR menjadi kekuatan utama dalam upaya menemukan korban secepat mungkin. Kami berharap korban segera ditemukan sehingga dapat memberikan kepastian bagi keluarga," tambah I Made Oka.

Sementara itu, BMKG Kelas III Banyuwangi mengimbau nelayan dan operator kapal untuk meningkatkan kewaspadaan. BMKG memprakirakan potensi gelombang tinggi berkisar 2,5 hingga 4 meter masih membayangi perairan selatan Banyuwangi hingga 22 Juli 2026 akibat dominasi angin timuran. (man)