
Delegasi ASCN Indonesia mengikuti pertemuan secara daring di Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Fattahur)
KabarBanyuwangi.co.id – Delegasi Indonesia dalam ASEAN Smart City Network (ASCN) mengikuti pertemuan dengan terpusat secara daring di Kabupaten Banyuwangi, Senin (20/7/2026).
Pelaksanaan The 9th ASCN dilakukan secara daring dikarenakan Pemerintah Filipina selaku Ketua ASCN 2026 mempertimbangkan perkembangan situasi yang memengaruhi penyelenggaraan kegiatan di kawasan.
Pertemuan tersebut dipimpin Direktur Jenderal Bina
Administrasi Kewilayahan (Ditjen Bina Adwil) Kemendagri, Dr. Safrizal ZA dan
diikuti oleh enam kabupaten/kota anggota ASCN Indonesia, yaitu DKI Jakarta,
Kabupaten Banyuwangi, Sumedang, Kota Makassar, Semarang, serta Denpasar.
Safrizal menjelaskan, ASCN adalah asosiasi dari
negara-negara di Asia Tenggara yang mempelopori pemajuan smart city di Asia
Tenggara. Ia menyebut Indonesia sebagai Shepherd berperan dalam pengembangan
kota cerdas di Tanah Air maupun di negara-negara Asia Tenggara.
"Jadi kita bersidang untuk memutuskan agenda-agenda
Smart City dan melaporkan kemajuan smart city di masing-masing daerah, dimana
kekhasan daerah masing-masing ditonjolkan atau dipublikasikan, sehingga bisa
menjadi tempat belajar bagi daerah-daerah lain," tuturnya.
Safrizal mencontohkan Banyuwangi sebagai Smart City yang
bercirikan rural, pendekatannya kepada Smart Village dan ini dinilai cukup
berhasil.
"Banyuwangi bercirikan rural. Smart City tapi
sifatnya rural, pendekatannya kepada Smart Village dan ini cukup berhasil. Yang
ingin belajar tentang rural, silahkan ke Banyuwangi, sebagai best example
bagaimana pengelola smart city, tetapi wilayahnya sifatnya rural,"
ucapnya.
Konferensi
pers hasil rapat konsolidasi The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN). (Foto:
Fattahur)
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani berterima kasih
karena daerahnya telah dipilih sebagai tuan rumah dalam pertemuan konsolidasi
delegasi ASCN Indonesia.
"Ini memang instruksi dari Kemendagri, yang menunjuk
Banyuwangi sebagai tuan rumah. Dan mungkin dilihat dari bagaimana kesiapan
Banyuwangi selama ini,” ucapnya.
“Banyuwangi sejak 2015 sudah menjadi bagian dari
ASCN, sehingga banyak progres yang dilakukan, maka ini mungkin yang dilihat
oleh Kemendagri, bagaimana Banyuwangi menjadi terpilih sebagai tuan
rumah," imbuhnya.
Menurut Ipuk, tiap daerah memiliki kekhasan
masing-masing. Banyuwangi saat ini berfokus pada pengentasan kemiskinan,
pendidikan, dan kesehatan.
"Untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, maka
membutuhkan digitalisasi, basis data akurat, dan juga program-program
penunjang yang tidak hanya menggunakan APBD, tapi juga bagaimana komunitas
dilibatkan, sehingga sasarannya semakin luas," sambungnya. (fat)
