El Nino Sangat Kuat hingga Februari 2027, Guntur Priambodo Peringatkan Ancaman Gagal Tanam

El Nino Sangat Kuat hingga Februari 2027, Guntur Priambodo Peringatkan Ancaman Gagal Tanam

Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Pendukung Infrastruktur Pertanian dan Lingkungan Kemenko Bidang Pangan, Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, M.M. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Berlangsungnya fenomena El Niño sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga Februari 2027 berpotensi mendatangkan ancaman serius bagi sektor pertanian Indonesia.

Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Pendukung Infrastruktur Pertanian dan Lingkungan di Kemenko Bidang Pangan RI, Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, M.M., mengingatkan bahwa jika kekeringan ini tidak diantisipasi dari sekarang, dampak terberatnya justru akan memicu krisis gagal tanam pada triwulan pertama dan kedua 2027.

Menurut Guntur yang merupakan penggagas Barisan Tani dan Nelayan (Baristan) Banyuwangi tersebut, dampak kekeringan tidak boleh direspons dengan santai karena ada jeda waktu (time lag) antara menyusutnya pasokan air sungai dan waduk dengan penurunan hasil panen secara nasional.

Baca Juga :

"Kesalahan paling fatal saat menghadapi El Niño adalah baru bergerak setelah sawah pecah-pecah, tanaman puso, atau harga beras di pasar meroket. Efek kemarau ini berantai dan tidak langsung kelihatan di awal," tegas Guntur dalam keterangan resminya, Selasa (15/9/2026).

Pakar pengairan ini membeberkan, kekeringan pada akhir 2026 secara bertahap menguras cadangan air tanah dan kelembapan lahan. Kondisi tersebut memaksa petani menunda masa semai hingga mengacaukan kalender tanam.

"Ancaman terbesar kita bukan sekadar penurunan hasil panen, melainkan gagal tanam. Ketika air sama sekali tidak tersedia dan petani takut mengolah sawah, otomatis produksi beras kita sudah hilang sejak hari pertama," beber Guntur, yang pernah lama memimpin Dinas PU Pengairan Banyuwangi itu.

Berdasarkan data pemerintah, produksi beras nasional 2026 diproyeksikan menyentuh 34,77 juta ton dengan konsumsi nasional sekitar 31,10 juta ton. Di atas kertas, Indonesia mengantongi surplus sekitar 3,67 juta ton, ditambah cadangan beras pemerintah di gudang Bulog sebanyak 5,25 juta ton per Agustus 2026.


Guntur Priambodo dampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan saat kunjungan kerja jagongan bersama petani di Banyuwangi. (Foto: Dok. Istimewa)

Namun, mantan Sekda Banyuwangi yang purna tugas pada 1 Juni 2026 lalu ditunjuk Menko Pangan Zulkifli Hasan untuk bertugas ke Kemenko Pangan ini mewanti-wanti agar angka surplus tersebut tidak membuai para pemangku kebijakan.

"Jika produksi nasional 34,77 juta ton dijadikan pijakan, penurunan produksi sebesar 10,6 persen saja akibat kemarau panjang sudah cukup untuk melenyapkan seluruh surplus 3,67 juta ton itu. Apabila El Niño mengacaukan dua musim tanam berturut-turut, stok cadangan kita bakal tergerus cepat dan opsi impor berisiko kembali terbuka," ulas Guntur.

Menyikapi program bantuan mesin pompa air (pompanisasi) dari pemerintah, Doktor lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini menilai langkah tersebut bagus, namun penerapannya di lapangan tidak bisa berdiri sendiri.

"Mesin pompa tidak akan menolong kalau sumber airnya sudah kering kerontang atau saluran irigasinya tumpat dan bocor. Ukuran keberhasilan mitigasi adalah berapa hektar sawah yang sukses diairi sampai panen, bukan seberapa banyak unit pompa yang dibagikan," cetusnya.


Guntur Priambodo saat turun langsung dampingi para petani di Banyuwangi. (Foto: Dok. Istimewa)

Sebagai sosok Pembina Baristan Banyuwangi yang paham dinamika petani di tingkat akar rumput ini, Guntur menyodorkan tiga langkah darurat yang wajib dijalankan pemerintah. Langkah-langkah taktis tersebut diantaranya:

Buka Neraca Air Wilayah: Pemerintah bersama dinas terkait harus menyusun peta ketersediaan air waduk dan sungai secara transparan hingga pertengahan 2027 untuk menentukan prioritas pasokan irigasi.

Berdayakan HIPPA lewat Padat Karya: Menggandeng Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) untuk pengerukan sedimentasi lumpur dan perbaikan saluran air yang bocor, sekaligus menyerap tenaga kerja buruh tani yang terdampak kemarau.

Penerapan 3 Zona Tanam: Pemerintah daerah wajib membagi area pertanian ke dalam tiga status keputusan tanam, yaitu Zona Hijau dengan tetap menanam padi karena pasokan air dijamin aman, Zona Kuning dengan menanam padi bersyarat dengan benih genjah dan tahan kekeringan, lalu Zona Merah dengan tidak memaksakan padi dan diwajibkan beralih (diversifikasi) ke tanaman palawija seperti jagung, kedelai, atau sorgum.

"Daerah jangan demi mengejar target lalu membiarkan petani di wilayah rawan nekat menanam padi. Mengarahkan mereka beralih ke palawija jauh lebih menyelamatkan modal petani dibanding membiarkan mereka berspekulasi lalu gulung tikar akibat gagal tanam," tutup birokrat senior yang kenyang pengalaman di berbagai bidang tersebut. (man)