
Warga Desa Adat Kemiren, Banyuwangi kompak menjemur kasur di halaman rumahnya. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Ada pemandangan tak biasa jika Anda
melintasi Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi pada Kamis (21/5/2026).
Sepanjang jalanan desa dipenuhi oleh sejumlah kasur berwarna seragam, yakni
merah dan hitam, yang dijemur secara massal di depan rumah warga sejak pagi
hari.
Fenomena unik ini merupakan tradisi turun-temurun suku
Osing yang dikenal dengan sebutan Mepe Kasur. Ritual ikonik ini digelar setiap
memasuki bulan Dzulhijjah (Bulan Haji) sebagai bagian dari rangkaian bersih
desa.
Sejak matahari terbit, warga dari berbagai usia tampak
kompak membersihkan kasur mereka menggunakan penebah (pemukul) rotan. Debu-debu
yang beterbangan seolah menjadi penanda dimulainya ritual penyucian diri warga
desa.
Kombinasi warna merah dan hitam pada kasur khas Kemiren ini
ternyata bukan kebetulan atau sekadar estetika. Ada doa dan harapan mendalam di
setiap jahitannya.
"Merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam
berarti kelanggengan. Ini simbol bahwa dalam rumah tangga, kita harus berani
dan langgeng dalam menjalaninya," ungkap Mbah Pi'i, salah satu sesepuh
Desa Kemiren.
Selain warna, ketebalan kasur juga menjadi simbol status
sosial. Menariknya lagi, setiap pasangan pengantin baru di desa ini wajib
mendapatkan kasur merah-hitam ini dari orang tua mereka sebagai modal awal
mengarungi bahtera rumah tangga.
Aturan Adat yang Sakral: Tak Boleh Kesiangan,
Pantang Kemalaman
Bagi masyarakat Osing, kasur adalah benda paling dekat
dengan manusia, sehingga wajib dibersihkan secara spiritual. Ketua Adat Kemiren,
Suhaimi, menjelaskan bahwa prosesi ini memiliki aturan waktu yang ketat dan
tidak boleh sembarangan.
Prosesi menjemur kasur dimulai tepat sejak matahari terbit.
Saat kasur mulai dikeluarkan, warga akan membaca doa dan memercikkan air bunga
di halaman rumah dengan tujuan agar dijauhkan dari bencana maupun penyakit.
Selanjutnya, seluruh kasur tersebut wajib dimasukkan
kembali ke dalam rumah sebelum matahari terbenam atau menjelang sore. Jika
aturan adat ini dilanggar, masyarakat percaya khasiat spiritual kasur untuk
menangkal penyakit dan membawa berkah akan hilang.
“Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya menurun. Apalagi
kalau kemalaman, bisa ndak sehat,” tegas Suhaimi.

Ketua Adat Kemiren, Suhaimi saat jelaskan aturan tradisi
Mepe Kasur. (Foto: Istimewa)
Pembuka Rangkaian Festival Tumpeng Sewu 2026
Tradisi Mepe Kasur ini sekaligus menjadi gong pembuka dari
festival adat tahunan Tumpeng Sewu yang berlangsung meriah pada 21 sampai 22
Mei 2026.
Setelah lelah menjemur kasur pada siang hari, warga dan
wisatawan langsung disuguhi rentetan atraksi budaya yang padat melalui
penampilan kesenian Kuntulan yang rancak.
Memasuki sore hari, suasana desa kian sakral dengan adanya
arak-arakan Barong keliling desa yang bertujuan untuk mengusir balak atau
bersih desa.
Puncak acara pada hari pertama ditutup pada malam hari
dengan ritual utama selamatan Tumpeng Sewu di sepanjang jalan desa, yang
kemudian dilanjutkan dengan tradisi sakral Mocoan Lontar Yusuf semalam suntuk.
Memasuki malam kedua, atmosfer budaya di Desa Kemiren
justru kian kental dengan digelarnya kesenian Gandrung Terob di Balai Desa
Kemiren, serta pertunjukan seni di rumah budaya Barong Tresno Budoyo.
Melalui tradisi Mepe Kasur dan Tumpeng Sewu ini, masyarakat
Suku Osing Kemiren kembali membuktikan bahwa mereka tidak hanya sukses menjaga
kebersihan lahir dan batin, tetapi juga berhasil merawat harmoni dan kebersamaan
antarwarga di era modern. (man)