ANGKLUNG, TABUNG MUSIK BLAMBANGAN: Ikhtiar Tulis, Tantangan Kreativitas, dan Tanggung Jawab Ekologis-Kultural (7-Habis)Beberapa Catatan Simpulan


ANGKLUNG, TABUNG MUSIK BLAMBANGAN: Ikhtiar Tulis, Tantangan Kreativitas, dan Tanggung Jawab Ekologis-Kultural (7-Habis)

Keterangan Gambar : Alvin Hendratha, penulis Bukua Angklung: Tabung Musik Blambangan. (Foto: Dok. Artevac)

KabarBanyuwangi.co.id - Terlalu banyak yang bisa dituliskan terkait buku ini. Para pembaca memiliki banyak pilihan angle untuk membacanya, baik dari aspek komposisi musikal maupun sejarah perkembangannya yang cukup dinamis.

Saya sendiri mencatat beberapa hal yang mungkin bisa diperdalam lagi oleh Elvin seandainya akan mencetak edisi kedua buku ini. Pertama, menjernihkan persoalan stigmatisasi yang dialami para seniman angklung yang berafiliasi ke dalam Lekra.

Mereka memang berpihak secara politik, tetapi tidak sepatutnya pemerintah dan  masyarakat tetap memelihara stigma kepada kiprah dan kontribusi para seniman dan kesenian yang pernah berafiliasi ke Lekra.






Baca Juga :

Bagaimanapun juga, Muhammad Arif dan seniman yang berafiliasi ke Lekra telah memperjuangkan budaya Blambangan secara ideologis dan praksis dan itu adalah kontribusi yang luar biasa.

Kalaupun mereka memilih lembaga kebudayaan yang berafiliasi ke PKI, tentu kita harus melihat konteks zaman di mana para seniman yang lain pun berafiliasi ke dalam lembaga kebudaya yang menjadi underbow partai politik lainnya. Sudah saatnya, generasi muda Banyuwangi mendapatkan informasi yang lebih jernih terkait para pendekar angklung itu.

Kedua, mengungkap lebih jauh kehidupan dan kreativitas para seniman pembuat angklung yang berkontribusi terhadap kehidupan budaya angklung di Banyuwangi. Teknik-teknik pembuatan, meskipun akan sulit, bisa diuraikan dilengkapi dengan gambar-gambar agar memudahkan pemahaman.

Permasalahan hidup yang mereka alami dan bagaimana mereka mempertahankan kecintaan dalam membuat angklung, meskipun perhatian dari pemerintah sangat kurang--untuk mengatakan tidak ada.

Bagaimanapun juga, para seniman pembuat itu adalah subjek-subjek kreatif yang tidak bisa lepas dari permasalahan dan siasat. Paparan akan proses kreatif dan kehidupan mereka akan menjadi warna tersendiri yang bisa memperkaya buku Angklung.

Akhirnya, izinkan saya untuk, sekali lagi--tanpa bosan, mengucapkan selamat atas terbitnya Anklung, Tabung Musik Blambangan. Buku ini adalah karya akademis yang memproduksi banyak wacana kalau kita jeli membacanya.

Elvin, memang tidak bicara tentang pernik-pernik permasalahan politik lebih lanjut, tetapi ia memberikan banyak penanda bahwa realitas politik sejatinya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan historis angklung.


Keterangan Gambar : Penampilan Angklung Caruk Generasi Muda Jaya Karyo Sawahan, Banyuwangi. (Foto: Dok. Artevac)

Bagi saya, buku ini akan menjadi semangat dan energi untuk terus mewacanakan dan menggerakkan kesenian rakyat yang benar-benar tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat beserta kemungkinan-kemungkinan transformasinya kedalam garapan masa kini tanpa meninggalkan keberpihakan tematik. Elvin menggunakan istilah “Blambangan” dalam judul bukunya alih-alih “Banyuwangi”.

Menurut saya, itu adalah penanda bahwa angklung bisa menjadi energi besar untuk merespons secara kritis dan resisten kekuatan-kekuatan dominan dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang berpotensi memarjinalkan kehidupan dan budaya rakyat serta merusak lingkungan alam dan ruang hidup masyarakat, sepertihalnya ditunjukkan oleh para pemimpin Kerajaan Blambangan yang telah dengan gagah dan berani melawan kekuatan-kekuatan dominan di masa lalu. (Selesai)

Rujukan

Bhabha, Homi. 1994. The Location of Culture. New York: Routledge.

Hendartha, Elvin. 2021. Angklung, Tabung Musik Blambangan. Banyuwangi: Sengker Kuwung Blambangan.

Ong, Walter J. 2002. Orality and Literacy The Technologizing of the Word. London: Routledge.

Setiawan, I., & Subaharianto, A. (2019). Never-ending Local Beauty: Neo-Exoticism in Tourism Activities and Online Media Narratives. Proceedings ofthe 3rd International Conference on Art, Language, and Culture 2018. doi: https://doi.org/10.2991/icalc-18.2019.28.  

Setiawan, I., & Subaharianto, A. (2020). Neo-Exoticism as Indonesian Regional Government’s Formula for Developing Ethnic Arts: Concept, Practice, and Criticism. Proceedings of the 4th International Conference on Arts Language and Culture (ICALC 2019). doi: https://doi.org/10.2991/assehr.k.200323.020.

Setiawan, I., Tallapessy, A., & Subaharianto, A. (2017a). The Mobilization of Using Cultures and Local Governments’ Political Economy Goals in Post-Reformation Banyuwangi. Humaniora, 29(1): 12-23.

Setiawan, I., Tallapessy, A., & Subaharianto, A. (2017b). Exertion of Cultures and Hegemonic Power in Banyuwangi: The Midst of Postmodern Trends. Karsa, 25(1): 147-178.

Catatan akhir

[1] Ini pula yang menjadi impian seniman, etnomusikolog, dan budayawan besar, Sahunik, sebelum menghembuskan nafas. Dalam banyak perbincangan, Sahunik sering mengatakan kepada saya: “Banyak kesenian di Banyuwangi, macem-macem, tapi yang mau menulisnya, dari urusan bentuk, pakem, dan keragamannya, masih belum ada. Saya berharap suatu saat ada yang mau melakukannya.”

(Dr. Ikwan Setiawan, Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com)