oleh

“Bengahan Makwek”, Sedia Makanan-Minuman Jadul Dan Kekinian Secara Online

KabarBanyuwangi.co.id – Kreativitas pada masa pandemi, dan era degital yang menutut kecepatan tanpa batas, menjadi senjata paling ampuh untuk bertahan. Setidaknya itu dilakukan pasangan Ganef H Y (58) dan Arbainah (55).

Meski tinggal di Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, namun produk olahan istrinya tembus sejumlah daerah di Indonesia. Semua olahan aneka masakan dan minuman tadi, hanya dipasarkan lewat online dan diproduksi bila ada pesanan.

“Saya memulai usaha ini sejak Februari 2020, sebelum Walikota Surabaya Tri Rismaharini menganjurkan minum ‘wedang pokak’, saya dan istri sudah produksi minuman herbal sebagai minuman imunitas,” kata Ganef HY, pensiunan PT. Krakatau Steel, Cilegon yang memilih tinggal di Desa asal istrinya, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Rabu (16/9/2020).

“Alhamdulillah banyak yang suka, bahkan rata-rata pesan berkali-kali. Selain itu ada Jus DuKur (Madu Kurma), Kunyit Asem dan minuman tradisional lainnya,” imbuh Ganef yang berbagi tugas sebagai pembeli bahan dan mengantar pesanan, sedangkan istrinya, total di dapur memasak semua pesanan.

Baca Juga: “Pelasan dan Endog Cit” Khas Banyuwangi, Populer di Warung Makan La Wuni Madiun

Baca Juga: Saat Pendemi Covid-19, Omzet Aneka Jenang Khas Banyuwangi Turun 50 Persen

Baca Juga: Pertama, Bilik Kuliner Steril Hadir di Kampung Mandar

Ganef menambahkan, komunitas dokter di Denpasar, kerap memuji produk Wedang Pokak ‘Makwek’ .

“Kebetulan salah satu adik saya ada yang Dokter di Denpasar, teman-temannya kerap memesan untuk komsumsi sendiri. Alasannya, wedang Pokak bisa untk menjaga imunitas, makanya kalau habis langsung pesan lagi. Para dokter mengacungi jempol rasa olahan Wedak Pokak ‘Makwek,” tambah Ganef.

Klappertart, sebuah kue kekininan yang menjadik produk favorit "Bengahan Makwek". (Foto: istimewa)
Klappertart, sebuah kue kekininan yang menjadik produk favorit “Bengahan Makwek”. (Foto: istimewa)

Kakek dua cucu ini meneturkan, sebetulnya minuman jaman dulu atau jadul lainnya juga bisa diproduksi. Namun pihaknya menunggu ada yang memesan dan bahannya tersedia, baru diprodukssi sesuai pesanan.

“Karene tenaganya terbatas, istri saya memproduksi jika ada yang pesan saja,” tutur Ganef yang asli Lateng, Banyuwangi ini” tegas Ganef.

Nyonya Arbainah yang oleh cucu dan saudara kerap dipanggil “Makwek” atau Nenek akhirnya dipakai Brand atau merk produk olahannya. Dari keluarganya, memang dikenal sebagai orang yang pintar mamasak. Selain masih paham olahan jadul, juga mengikuti ragam olahan kekinian, seperti Susu, Brownies Sekat (Brokat), Bolu, Klappertart dan lain-lainnya.

“Klappertart sering mendapat pujian dari klien, bahkan pemesannya pemilik Hotel dan Resto di Nusa Dua Bali. Kue olahan Makwek sudah terkirim ke Malang, Palu, Makasar, Surabaya, Lumajang dan lain-lainnya. Pemasaran semua hanya mengandalkan medsos, tidak berniat memajang di toko,” kata Ganef yang bertekad mengembangkan usahanya yang lebih besar.

Bebek/ Ayam Songkem "Bengahan Makwek" juga menjadik masakah yang paling disuka klien. (Foto: istimewa)
Bebek/ Ayam Songkem “Bengahan Makwek” juga menjadik masakah yang paling disuka klien. (Foto: istimewa)

Selain aneka olahan khas Banyuwangi yang menjadi sentra jualan, ternyata Bengahan Makwek juga piawai mengolah masakan khas Sampang, Madura, yaitu Bebek atau Ayam Songkem. Berbekal pengalaman tinggal di kawasan Sitopo, Surabaya yang banyak warga Maduranya. Nyonya Arbainah mengamati dan bisa mempraktekan olahan tersebut.

“Beberapa kali orang pesan Bebek atau Ayam Songkem, katanya enak tidak jauh rasaya dengan yang Sampang. Namun saya tidak sering promosi  yang Songkem ini, karena prosesnya agak ribet sedangkan tenaga di rumah terbatas. Pernah ada  teman datang membawa enam ekor Bebek dan Ayam yang siapa olah, langsung diproses dan saya antar dalam makanan jadi. Dari itu, teman-teman cerita kalau masakan Songkem Bengahan Makwek enak,” pungkas Ganef. (sen)

_blank