oleh

Dokumentasi Gending Klasik Banyuwangi, Gandrung Supinah Teringat Pengendang Adenan

KabarBanyuwangi.co.id – Perkembangan kesenian tradisional Banyuwangi yang cukup pesat, dengan berbagai kreasi dan inovasi kekinian, sering kali justru mengkhawatirkan terhadap hilangnya esensi ketradisionalan. Sangar Seni Tari Gandrung Arum, Dusun Trembelang, Cluring, sengaja merekam gending-gending klasik Gandrung dengan pemain gamelan juga panjak senior.

“Terus terang, sepeninggalnya Adenan, Pengendang Gandrung legendaris, para seniman cukup kawatir tidak adanya generasi penerus. Pengendang kesenian tradisional Banyuwangi banyak, namun yang orisinil ‘keplakan’ dan tidak banyak, ‘kembangan’ sangat sedikit. Makanya, saya berinisiatif merekam ulang gending klasik beserta musik pengiringnya,” tegas Suko Prasetyo, pimpinan Sanggar Tari Gandrung Arum kepada kabarbanyuwangi.co.id (10/10/2020).

Suko yang juga seorang Guru ini menambahkan, kegiatan dokumentasi ini sekaligus memberi kegiatan para seniman senior pada masa pandemi Covid-19. Mereka tidak pernah mendapat job pentas, serta pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Lewat kegiatan ini, sedikit terbantu kesulitan ekonomi akibat tidak ada kegiatan manggung,” tambah Suko yang juga Pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB) ini.

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Baca Juga: Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, Maestro Gandrung Berpulang ke Rahmatullah

Gending-gending yang direkam untuk didokumentasikan, mulai dari Podho Nonton, Upak Apem hingga Seblang Subuh. Gandrung yang terlibat membawakan antara lain, Temu Misti (Dusun Kedaleman Desa Kemirin Kecamatan Glagah), Sunasih (Desa Cungking, Kecamatan Giri), Supinah (Desa Olehsari Kecamatan Glagah) dan Dartik (Lingkngan Krasak, Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi).

Sebagai Koordinator, Gandrung Supinah mengaku tidak terasa meneteskan air mata, saat membawakan gending Seblang Subuh.

”Tiba-tiba seperti melintas almarhum Adenan, saat menembangkan Seblang Subuh. Saya memang teman sekolah dasar almarhum, muai almarhum lulus SD dan belajar kendang gandrug  ya bersama saya. Makanya saya tadi seperti melihat almarhum,” cerita Supinah di tengah rehat rekaman sambil mengusap air matanya.

Baca Juga: Tiga Sanggar Tari Bersatu Garap Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”

Para panjak pengering gending klasik tersebut, juga seniman-seniman senior yang malang melintang di kesenian Gandrung. Seperti pemain Biola, Patahan dari Pancoran, Rogojampi. Biola Timbul Mangir, Rogojampi. Gong, Waras dari Desa Aliyan, Rogojampi. Kendang, Guntur, dari Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri. Kethuk, Mujiono, dan Keluncing, Ba’i keduanya dari Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri.

Pendokumentasian gending gandrung klasik ini, sekaligus sebagai media pembelajaran langsung para generasi muda.

“Terutama panjak muda dari Sanggar Tari Gandrung Arum, saya wajibkan menonton dan memperhatikan bagaimana senior-senior memainkan alat musik tradsional dan hasilnya. Ke depan, saya akan mendokumentaskan Kesenian Jaranan Khas Banyuwangi, tujuanya sama seperti hari ini,” punkas Suko Pryaitno.

Cruw rekaman dokumentasi Gending Gandrung Klasik. (Foto: sen)
Crew rekaman dokumentasi Gending Gandrung Klasik. (Foto: sen)

Sementara itu koordinator gamelan, Juwono atau Kang Ju mengaku puas atas proses perekaman gending klasik Gandrung. Meski demikian, ada beberapa catatan yang akan digunakan sebagai evaluasi pada kegiatan mendatang.

“Seorang pengendang muda, Guntur meski ‘keplakanya’ sudah bagus mendekati almarhum Adenan, tetapi masih kurang dalam penguasaan gending klasik. Sehingga sering kurang harmonis, saat sinden mebawakan gending-gending lama,” kata seniman yang tinggal di Sukorajo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh.

Pendapat yang sama juga diungkapkan Gandrung senior, Temu Misti, karena masih ada kurang singkron antara sinden gandrung dan pemusik. Bahkan Temu kerap memberi isyarat  tangannya, saat mengetahui ada yag kurang pas

“Sebetulnya secara umum saya merasakan sudah bagus, hanya perlu tambahan belajar dan koordinasi. Sehinga sinden tidak ditinggalkan pemusiknya, begitu juga sebaliknya,” pungkas Maestro Gandrung Banyuwangi ini saat ditemui di lokasi rekaman. (sen)

_blank

Kabar Terkait