
Para murid KB/TK AL-UMM Genteng saat berkunjung ke Bandara Internasional Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Bandara Internasional Banyuwangi tak hanya sekadar menjadi simpul transportasi udara, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak.
Dengan mengusung konsep green airport tanpa pendingin udara, Bandara yang terletak di Kecamatan Blimbingsari ini menghadirkan suasana sejuk dan asri melalui sistem ventilasi terbuka serta desain arsitektur tropis yang memaksimalkan sirkulasi udara.
Keunikan tersebut dipadukan dengan identitas budaya lokal
melalui arsitektur rumah adat Osing, menciptakan atmosfer bandara yang asri,
estetis, dan edukatif.
Konsep tersebut menjadikan Bandara Internasional
Banyuwangi sebagai destinasi yang menarik bagi anak-anak. Area terbuka yang
luas, lantai dua sebagai viewing area untuk menyaksikan pesawat landing dan
take-off, serta elemen desain yang unik memberikan pengalaman berbeda bagi para
pengunjung.
Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan bahkan
mengantarkan Bandara Internasional Banyuwangi meraih berbagai penghargaan.
Salah satunya Aga Khan Award for Architecture 2022, yang semakin mengukuhkan
posisinya sebagai bandara berkonsep hijau dan inklusif.
General Manager Bandara Internasional Banyuwangi, Holik
Muardi menyampaikan bahwa komitmen sebagai bandara ramah anak diwujudkan tidak
hanya melalui desain fisik, tetapi juga melalui program edukasi yang
berkelanjutan.
“Kami ingin Bandara Internasional Banyuwangi menjadi
ruang publik yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak-anak. Bandara bukan hanya
tempat transit, tetapi juga tempat belajar yang menyenangkan, di mana anak-anak
dapat mengenal dunia penerbangan dan berbagai profesi di dalamnya sejak dini,”
ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, Bandara
Internasional Banyuwangi secara aktif mengadakan program kunjungan edukasi anak
dari berbagai jenjang pendidikan.
Program ini dirancang untuk memberikan wawasan baru
kepada anak-anak mengenai dunia kebandarudaraan secara langsung, mulai dari
sistem operasional bandara hingga ragam profesi yang ada di dalamnya.
Melalui kegiatan ini, anak-anak dikenalkan dengan peran penting
profesi populer seperti pilot, petugas Aviation Security (Avsec), Customer
Service, petugas ground handling, serta pengelola fasilitas bandara.
Sepanjang tahun 2025, tercatat 33 sekolah dengan 1.311
anak mengikuti program ini. Sementara pada 2026 hingga saat ini, sudah 17
sekolah dengan 833 pelajar berpartisipasi. Angka itu menunjukkan tingginya
antusiasme sekolah dan orang tua terhadap pembelajaran kontekstual di
lingkungan bandara.
Dalam setiap kunjungan, peserta didampingi oleh pemandu
yang menyampaikan materi secara interaktif dan mudah dipahami. Kegiatan dimulai
dari area depan bandara dengan sesi pembukaan dan perkenalan.
Selanjutnya para pelajar itu dibawa ke area check-in
untuk mengenalkan fungsi tiket, bagasi, barang yang boleh dan tidak boleh
dibawa ke pesawat, maskapai penerbangan, serta jumlah pesawat yang beroperasi.
Peserta kemudian diajak ke boarding lounge untuk memahami
fungsi area tunggu penumpang dan proses pemeriksaan keamanan oleh petugas
Avsec, termasuk pengenalan alat keamanan seperti mesin X-ray, Hand Held Metal
Detector (HHMD), dan Walk Through Metal Detector (WTMD).
Salah satu sesi paling favorit adalah kunjungan ke area
airside, tempat anak-anak bisa melihat langsung apron, taxiway, runway, menara
pengawas, serta aktivitas pesawat saat landing dan take-off.
Kegiatan ditutup di area arrival atau kedatangan dengan
pengenalan proses pengambilan bagasi di baggage claim, penggunaan conveyor dan
troli, serta mengikuti sesi fun games yang dirancang untuk memperkuat pemahaman
secara menyenangkan.
Kepala Sekolah KB/TK AL-UMM Genteng, Wiwin menilai
kegiatan ini sangat berdampak positif serta menjadi pengalaman berharga yang
dapat menginspirasi cita-cita anak-anak di masa depan.
“Kegiatan kunjungan ke bandara ini bertujuan untuk
mengenalkan dunia kebandaraan secara langsung kepada anak-anak. Selain itu,
kami juga ingin menanamkan nilai disiplin, budaya antre, dan sikap saling
menghargai," ujar Wiwin.
Antusiasme tinggi juga ditunjukkan oleh peserta didik.
“Aku senang sekali bisa ke Bandara Banyuwangi. Aku jadi tahu banyak hal baru,”
kata Hans, murid KB/TK AL-UMM Genteng.
Melalui rangkaian kegiatan edukatif tersebut, Bandara
Internasional Banyuwangi menegaskan komitmennya sebagai bandara ramah anak yang
tidak hanya mengedepankan keselamatan dan kenyamanan penerbangan, tetapi juga
berperan aktif dalam mendukung proses pembelajaran dan pengenalan dunia
kebandarudaraan bagi generasi muda. (fat)