oleh

Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

KabarBanyuwangi.co.id – Sebagai Gandrung legendaris sejak tahun 1970-an, nama Temu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Banyuwangi. Namun, bagi anak-anak jaman sekarang mungkin banyak yang tidak tahu kiprah Gandrung asal Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini.

Seperti saat Gandrung Temu dibawah oleh Tim Peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Widya Gama Lumajang ke Kampoeng Batara Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, justru orang tua merekalah yang berdecak kagum atas kepiwaian saat menyanyi dan menari bersama anak-anak.

“Oh, ini Gandrung Temu yang ada di kaset itu. Saya sudah dengar lagu-lagunya, tapi baru kali ini lihat langsung Gandrung Temu,” kata Nasibah yang tidak lepas pandangannya memperhatikan gerak-gerik Maestro Gandrung Temu, Minggu (5/7/2020).

Baca Juga: Saat Anak Rimba Bikin Olahan Pancake Ala Cafe

Baca Juga: Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

Acara ini, merupakan implementasi model Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung Jawab Sosial Perusahaan bidang budaya. Sanggar Sapa Ngira, dan Space Art sengaja dihadirkan di tengah anak-anak Kampoeng Batara. Sebagai pelestari kesenian daerah, sanggar-sanggar ini perlu ada dukungan, dan perhatian.

“Letak tanggung jawab sosial perusahaan dalam upaya pelestarian Budaya Using, dengan memberikan kesempatan untuk tampil. Sehingga para seniman, dan sanggarnya terus eksis dalam memberikan hiburan kepada rakyat sekaligus sebagai pelestari dari kesenian tradisional. Jadi bentuk dukungan tidak harus berupa uang tunai, tapi lebih pada memberikan kesempatan melakukan latihan, dan pementasan,” ujar Ketua Peneliti Dr. Ratna Wijayanti Daniar Paramita, SE. MM.

Baca Juga: M. Lutfi: Mak Pon Selalu Saya Undang Acara Resmi dan Duduk di Depan

Awalnya kegiatan ini akan dilakukan di Warung Kemarang, Tamansuruh yang juga sebagai mitra dalam riset. Namun, akibat keterbatasan waktu dalam berkoordinasi, maka kesiapan Kampoeng Batara menerima Tim Peneliti menjadi solusi tempat yang terbaik

“Riset ini merupakan riset yang berkelanjutan. Saat ini memang sudah memasuki tahun keempat. Namun tahun pertama hingga ketiga riset kami masih terbatas pada pembuatan draft, dan model sebelum sampai pada tahap implementasi seperti saat ini. Implementasi model ini, hanya akan dilakukan pada tahun ini, dan berakhir Desember 2020,” tambah Ratna Widjayati Daniar, didampingi dua peneliti lainnya, yaitu Noviansyah Rizal SE, MM, dan Muchamad Taufiq, SH.

Anak-anak dari Sanggar SpaceArt dan Anak-anak Kampoeng Batara belajar menari bersama. (Foto: istimewa)
Anak-anak dari Sanggar SpaceArt dan Anak-anak Kampoeng Batara belajar menari bersama. (Foto: istimewa)

Selain menjadikan Sanggar Sapa Ngira milik Gandrung Temu, dan Space Art milik Samsul dari Kemiren, Kecamatan Glagah, serta Kampoeng Batara sebagai mitra penelitian, juga perusahaan swasta milik pribadi yang mempunyai perhatian terhadap tumbuh kembangnya seni budaya Using.

“Harapan kami, model implementasi yang dikembangkan bisa menjadi model untuk diterapkan ke sanggar-sanggar non komersial lainnya. Dengan demikian, keberadaan sanggar terus eksis, dan pelaku yang teridiri dari anak-anak, bisa sebagai generasi penerus pelestari seni-budaya Using. Bahkan saya dengar langsung dari salah satu anak sanggar Space Art Kemiren ingin menari, dan kelak akan mengenalkan Gandrung di luar negeri. Ini yang perlu diperhatikan,” pungkas  Ratna.

Sementara itu, Widie Nurmahmudy, pemilik Kampoeng Batara mengaku senang dijadikan mitra penelitian. Apalagi kehadiran Gandrung Temu, dan para penari Space Art sangat memotivasi anak-anak dalam melestarikan seni budaya Using, dan Banyuwangi pada umumnya.

“Tidak hanya anak-anak, orang tua mereka juga sangat antusias. Mereka yang baru bertemu Gandrung Temu langsung berjabat tangan. Katanya tangan Gandrung Temu empuk seperti springbad. Mereka berharap, kelak acara semacam ini dilakukan pada malam hari. Agar warga Papringan bisa menonton semua,” kata Widie. (sen)

_blank

Kabar Terkait