Telur hasil panen peternak ayam petelur tradisional di Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Rivani)
KabarBanyuwangi.co.id - Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Banyuwangi menanggapi soal anjloknya harga telur ayam yang dikeluhkan oleh para peternak ayam petelur tradisional di Bumi Blambangan.
Turunnya harga telur yang terjadi sejak awal bulan September, juga diperparah dengan naiknya harga pakan ternak secara bersamaan.
Koordinator Sembako Diskopumdag Banyuwangi, Salim
menerangkan dari hasil monitoring, naiknya harga dipicu oleh banyaknya stok
telur di pasaran, sementara daya beli masyarakat juga masih menurun.
"Memang untuk akhir-akhir bulan ini tingkat konsumsi
telur masyarakat masih dibawah rata-rata, mungkin nanti memasuki bulan tertentu
seperti perayaan maulid nabi bisa naik lagi harganya," terangnya, Kamis
(30/9/2021).
Salim menambahkan, setiap ada permasalahan harga di
lapangan pihaknya selalu menerjunkan tim monitoring pasar untuk mencari
penyebab naik maupu turunya harga kebutuhan
pokok sehari-hari.
"Kita selalu memastikan bahwa harga kebutuhan pokok
ini bisa stabil, dan dapat dijangkau oleh masyarakat," tambah Salim
Sebelumnya, sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten
Banyuwangi mengeluhkan tentang kondisi harga telur yang merosot tajam dari
harga normal Rp 20-22 ribu perkilogram, kini turun diharga Rp 14 ribu saja.
Namun, untuk harga pakannya terus mengalami kenaikan.
Akhirnya dalam mensiasati agar tidak mengalami kerugian
secara besar, para peternak berinisiatif untuk membuat sendiri pakan ternak
yang akan diberikan pada ayam petelur milik mereka.
Oleh karena itu, Diskopumdag Banyuwangi masih terus melakukan koordinasi dan monitoring terhadap seluruh kebutuhan pokok masyarakat di pasaran. Selain bergerak bersama dinas terkait, upaya stabilisasi harga juga dilakukan dengan mencari penyebab terjadinya kenaikan harga. (man/van)