oleh

ISG OKU Bertekad Kembangkan Wisata Melalui Kesenian Banyuwangi

KabarBanyuwangi.co.id – Meski sebagai warga pendatang, orang-orang asal Banyuwangi yang tinggal di Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan (Sumsel), siap mengembangkan wisata setempat dengan Kesenian Banyuwangi yang tumbuh subur di sana. Warga Banyuwangi di OKU kebanyakan transmigran tahun 1978, mereka yang sekarang berkesenian Banyuwangi adalah anak-anak dari Transmigran.

“Kita yang ada di OKU, sudah lama memiliki dan mengembangkan kesenian Banyuwangi. Ada Jaranan Pegon, Jaranan Buto, Gandrung dan Kendang Kempul. Kesenian-kesenian Banyuwangi tersebut ada sejak tahun 1990-an, kemudian berkembang dan sempat surut. Sejak tahun 2000 hingga sekarang berkembang cukup pesat,” ujar Suwito Adi, Wakil Ketua Ikawangi Sumatera Group (ISG) Oku kepada kabarbanyuwangi.co.id, Kamis (6/8/2020).

Baca Juga: ISG Sumatera Selatan Terbitkan E-Money dan Dibagikan Gratis ke Anggotanya

Baca Juga: ISG Sumatera Selatan Mamadukan Kearifan Lokal Banyuwangi dengan Bumi Sriwijaya

Baca Juga: Geliat ISG, Ingin Menyatukan Warga Banyuwangi di Semenanjung Sumatera

Menurut pria kelahiran Bajulmati, Wongsorejo, kesenian Banyuwangi sudah tidak asing lagi bagi warga di OKU, baik warga asli maupun pendatang di luar Banyuwangi. Bahkan setiap hajatan warga yang sebagian besar petani karet, sering mengundang Kesenian Banyuwangi hingga keluar OKU.

“Para seniman Kesenian Banyuwangi di OKU, kembanyakan anak dan cucu para transmigran. Mereka banyak juga yang belum pernah ke Banyuwangi, tepi sudah mahir memainkan kesenian Banyuwangi,” tambah Suwito yang sejak kelas dua SD (tahun 1976) ikut transmigrasi orang tuanya.

Jaranan Buto Banyuwangi, salah satu kesenian yang dilesatarikan warga keturunan Banyuwangi di OKU Sumsel. (Foto: istimewa)
Jaranan Buto Banyuwangi, salah satu kesenian yang dilesatarikan warga keturunan Banyuwangi di OKU Sumsel. (Foto: istimewa)

Sekretais ISG OKU, Riki Sisan yang asli Muncar menambahkan, sebaran orang asal Banyuwangi di OKU kebanyakat ada di Batumarta. Dari 13 unit kampung Batumarta, 11 unit diantaranya ada orang Banyuwangi.

“Kesenian Banyuwangi di sini sangat populer, satu sanggar seni bisa memainkan kesenian-kesenian yang ada di Banyuwangi. Sehingga masyarakat di OKU maupun OKU Timur, senang sekali dengan kesenian Banyuwangi,” jelas Riki.

Eko Sungkono Patra M. Si, Ketua Umum ISG OKU, kelahiran Lampung Tengah, orang tuanya dari Genteng. (Foto: istmewa)
Eko Sungkono Patra M. Si, Ketua Umum ISG OKU, kelahiran Lampung Tengah, orang tuanya dari Genteng. (Foto: istmewa)

Ketua ISG OKU, Eko Sungkono Patra M. Si, sangat mengapresiasi upaya senior-seniornya dalam mepertahankan Kesenian asli Banyuwangi di Bumi Sebimbing Sekundang.

“Saya atas nama ketua ISG OKU, mengapresiasi para sedulur penggiat seni budaya, karena telah melesatarikan kebudayan Banyuwangi di Kabupaten OKU. Walaupun Ikawangi OKU belum terbentuk secara resmi, Alhamdulillah saat ini, saya diberikan amanah oleh temen-teman bersama-sama membesarkan organisasi Ikawangi khususnya di OKU,” kata pria keturunan Banyuwangi kellahiran Lampung Tengah ini.

Eko yang pernah manjadi Anggota DPRD OKU optimis, jika ISG OKU akan berkembang pesat.

“Supaya ke depan seni budaya kita lebih akrab ditelinga warga Kabupaten OKU, Insyaallah kami bermitra baik dengan berbagai dinas saat mengemban amanah wakil rakyat. Mudah-mudahan bisa menjadi jalan silaturahim yang baik, antara ISG OKU dan dinas Pariwisata di Kabupaten Ogan Komering Ulu,” pungkas pria yang orang tuanya asli Genteng. (sen)

_blank