Jelang Pensiun, Kadis Damkarmat Banyuwangi Berjuang Suarakan Penguatan Armada dan PersonelDamkarmat Banyuwangi

Jelang Pensiun, Kadis Damkarmat Banyuwangi Berjuang Suarakan Penguatan Armada dan Personel

Kepala Dinas Damkarmat Banyuwangi, Edy Supriyono. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Di penghujung masa baktinya, Kepala Dinas (Kadis) Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Banyuwangi, Edy Supriyono masih terus berjuang demi memperkuat benteng pertahanan kedaruratan di wilayahnya.

Di usianya yang menginjak 59 tahun dan tak lama lagi memasuki masa pensiun, Edy tak hentinya menyuarakan pentingnya penguatan armada hingga penambahan personel.

Langkah ini dinilai mendesak mengingat Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur dengan area mencapai 5.783 km persegi dan dihuni lebih dari 1,7 juta jiwa. Potensi kedaruratan dari perkotaan, hutan, hingga kawasan pesisir sangat tinggi, namun sarana pendukung yang dimiliki Damkarmat saat ini terbilang sangat minim.

Baca Juga :

"Usia saya 59 tahun, sebentar lagi pensiun. Tapi saya tetap berjuang untuk Damkarmat, terutama terkait armada kita yang sudah tua dan kurang, biaya operasional pemeliharaan, hingga tambahan BBM agar mencukupi kalau terjadi kebakaran di lebih dari satu titik bersamaan," ujar Edy, Selasa (21/7/2026).

Armada Tua Era 70-an dan Keterbatasan Personel

Ia menyebut, Damkarmat Banyuwangi saat ini hanya didukung 50 personel yang terdiri dari PNS, PPPK, dan PPPK paruh waktu, plus sekitar 10 hingga 13 relawan. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) ini membuat penanganan sering terkendala saat ada kejadian yang berlangsung secara beruntun di lokasi berjauhan.

Bahkan untuk urusan armada, beberapa unit yang diandalkan merupakan kendaraan tergolong gaek yang beroperasi sejak dekade 1970-an, atau dikenal dengan sebutan "mobil bajul".

"Walaupun perjalanannya pelan karena usia mobil yang sudah tua, kekuatan mobil lama ini masih kita andalkan,” kata Edy.

“Ketika pelayanan kebakaran terjadi di 2 atau 3 tempat berjauhan, memang tidak nutut. Tapi apa pun tetap kita lakukan. Walaupun terlambat karena peralatan minim, kita tetap berangkat demi melayani masyarakat," tambahnya.

Selain soal daya jelajah unit, Edy juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk pengoperasian Sektor Wongsorejo, wilayah utara Banyuwangi yang dinilai sangat rawan guna menambah tiga pos sektor yang sudah berjalan di Genteng, Bangorejo, dan Srono.

"Kami sudah mengusulkan penambahan armada kepada pimpinan (Bupati Banyuwangi), dan saat ini masih dikaji terkait kebutuhan personel. Dalam waktu dekat, kami sangat membutuhkan tambahan tenaga driver sekitar 5 sampai 7 orang untuk mengemudikan kendaraan pemadam, sekaligus untuk pembukaan sektor baru di Wongsorejo yang rawan," urainya.


Sejumlah armada di Mako Damkarmat Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

Beban Kerja Tinggi dan Urusan Pelayanan Dasar

Berdasarkan data internal Damkarmat Banyuwangi, peristiwa kebakaran di Banyuwangi konsisten berada di atas 120 kejadian setiap tahunnya sejak 2022 hingga 2026.

Angka tersebut belum termasuk 2 hingga 3 operasi penyelamatan non-kebakaran setiap harinya, mulai dari evakuasi hewan liar berbahaya seperti ular, biawak, dan kera, hingga pertolongan kecelakaan dan penanganan bencana.

Edy menegaskan, urusan pemadam kebakaran dan penyelamatan merupakan bagian dari pelayanan dasar Pemkab Banyuwangi yang wajib diselenggarakan sesuai mandat UU Nomor 23 Tahun 2014. Ia memastikan, sejumlah usulan penguatan telah disampaikan kepada Bupati Banyuwangi untuk dikaji lebih lanjut.

"Pemadam kebakaran ini adalah pelayanan dasar. Kami tidak pernah mengelak ketika diminta bantuan, cukup via share location, anggota langsung meluncur ke lokasi. Kita ingin masyarakat merasa puas dan terlindungi di setiap kegiatan pemadaman maupun penyelamatan," pungkas Edy. (man)