Kaji Kebijakan Lingkungan, Guntur Priambodo Solusikan Arsitektur Baru Pengelolaan Sampah

Kaji Kebijakan Lingkungan, Guntur Priambodo Solusikan Arsitektur Baru Pengelolaan Sampah

Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Pendukung Infrastruktur Pertanian dan Lingkungan Kemenko Bidang Pangan, Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, M.M. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id - Penanganan krisis sampah nasional kini memasuki babak baru. Birokrat senior asal Banyuwangi yang kini bertugas sebagai Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Pendukung Infrastruktur Pertanian dan Lingkungan di Kemenko Bidang Pangan, Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, M.M., meluncurkan gagasan anyar bertajuk "Arsitektur Baru Pengelolaan Sampah Nasional". 

Kajian ini dibuat untuk menyambut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 yang menargetkan pengolahan sampah modern di 33 kawasan prioritas dan 61 kabupaten/kota di Indonesia. Menurut Guntur, cara lama seperti "kumpul, angkut, lalu buang ke TPA" sudah tidak cocok lagi karena membuat anggaran daerah tekor dan lahan TPA makin sempit. 

"Kalau cuma kumpul, angkut, dan buang, makin banyak sampah bakal makin mahal biaya truk dan makin habis lahan TPA-nya. Kuncinya bukan sekadar beli mesin canggih, tapi bagaimana mengatur jalurnya dari rumah tangga sampai ke tempat pemrosesan akhir," jelas mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi itu, Jumat (11/9/2026).

Baca Juga :

Dalam kajian resminya pada September 2026, Guntur menawarkan solusi tiga tahap yang saling berkaitan: 

  • Pencegahan di hulu (3R): Membiasakan warga memilah sampah dari rumah. 
  • Pengolahan di tengah (Solusi Intermediat): Menyaring dan mengolah sampah di tingkat kecamatan atau kawasan. 
  • Pengolahan energi di hilir (PSEL): Membakar sisa sampah akhir menjadi energi listrik. 

Selama ini, pabrik pengolah sampah jadi listrik (PSEL) sering kesulitan karena sampah yang masuk masih basah bercampur aduk. Nah, di sinilah pentingnya Solusi Intermediat seperti TPST atau TPS3R. 

Di tempat pengolahan tengah ini, sampah basah/organik dipisah untuk dijadikan komposting atau pakan maggot, sedangkan plastik daur ulang dipisahkan untuk dijual. Hasilnya, sisa sampah (residu) yang dikirim ke pabrik listrik sudah kering dan siap diolah dengan maksimal. 

Guntur membagi cara pengolahan ini menjadi beberapa pilihan: 

  • Model A: Fokus pemilahan warga untuk daerah yang sadar lingkungannya tinggi. 
  • Model B: Fokus pengolahan kawasan untuk daerah yang wilayahnya sangat luas. 
  • Model C: Fokus pabrik sampah-listrik untuk kota besar yang lahannya sangat sempit. 
  • Model D (Gabungan): Penggabungan semua tahap untuk daerah perkotaan padat. 

Model B dinilai sangat cocok untuk Kabupaten Banyuwangi. Karena wilayah Banyuwangi sangat luas, pembuatan pusat pengolahan sampah per zona/kecamatan akan menghemat ongkos bensin truk sampah agar tidak perlu bolak-balik melintasi antarkecamatan menuju TPA. 


Guntur Priambodo saat menjabat Kepala Dinas PU Banyuwangi terjun langsung dalam penanganan sampah di sungai. (Foto: Dok. Istimewa)

Guntur optimistis cara ini bisa membuka peluang rezeki baru bagi warga. Mengingat 40,77 persen sampah nasional berasal dari rumah tangga dan didominasi sampah organik/dapur, bahan tersebut bisa diolah warga menjadi pupuk organik serta pakan ternak maggot yang punya nilai jual. 

"Target akhirnya adalah mengurangi sebanyak mungkin sampah yang masuk ke TPA, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya. 

Sebagai informasi, Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, M.M., merupakan figur yang kenyang pengalaman di dunia pembangunan infrastruktur daerah. Sebelum ditunjuk Menko Pangan Zulkifli Hasan bertugas ke Kemenko Pangan RI, Guntur juga pernah lama memimpin Dinas PU Pengairan dan Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Banyuwangi.

Lulusan doktor dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini resmi purna tugas sebagai ASN pada 1 Juni 2026, sebelum akhirnya dipercaya membantu merumuskan kebijakan infrastruktur, pertanian, dan lingkungan di tingkat nasional. (man)