oleh

Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

KabarBanyuwangi.co.id – Nama Larosa Arum, bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) terutama dari Banyuwangi, sudah tidak asing lagi. Mereka sering melihat penampilan Tarian Gandrung Banyuwangi di Hongkong, justru dari Komunitas Larosa Arum ini.

“Saya bersama teman sekitar tahun 2015 mendirikan Larosa Arum, tujuannya untuk belajar menari Gandrung Banyuwangi, dan mengisi acara-acara di Hongkong. Setiap Minggu, kami libur bekerja dan berkumpul di Victoria Park sebagai Basecam. Di sanalah kami berlatih tarian, atau sering juga mengisi acara yang didakan oleh komunitas lain di Hongkong,” ujar Cahya Larosa, asal Kampunganyar, Kecamatan Glagah Banyuwangi, saat dihubungi kabarbanyuwangi.co.id melalui sambungan WhastsApp, Minggu (14/6/2020).

Cahya menambahkan, mereka yang tergabung dalam kelompok belajar menari Gandrung di Komunitas Larosa Arum Hongkong, ternyata bukan saja buruh asal Banyuwangi. Banyak juga yang berasal dari Malang dan Sunda.

“Umumnya mereka senang tarian Gandrung yang memang sudah terkenal, kemudian ada aktivitas latihan rutin mereka langsung gabung,” kata Ibu satu anak kelas 1 SMA ini yang memang pernah belajar tari Gandrung dari Mak Temu Kemiren.

Formasi Komitas Larosa Arum usai Latihan rutin. (Foto: istimewa)

Meski mereka latihan tari di tempat terbuka, tetapi semangatnya cukup tinggi. Musik pengiring tarian, dari flasdish hasil donload di Youtube. Kostum yang mereka kenakan juga hasil swadaya, dan membeli sendiri dari Banyuwangi. Mereka tinggal di tempat berbeda, hanya titik temunya di satu tempat, yaitu di Victoria Park.

“Apabila ada undangan tampil di luar Victoria Park, bisanya kita komunikasi lewat WA Group tempat kita bertemu, naik kendaraan umum, seperti bus, atau keretas api. Kalau di tempat acara tidak ada ruang ganti khusus, kita biasanya sudah berdandan dari rumah. Sepanjang perjalanan di kendaraan umum, sering kita menjadi pusat perhatian. Teman-teman sudah biasa dalam kondisi begitu, malah sering mendapat pujian dari warga Hongkong asli,” tambah Cahya.

Baca Juga: M. Lutfi: Mak Pon Selalu Saya Undang Acara Resmi dan Duduk di Depan

Semangat mereka melestarikan kesenian daerah meski di negara orang, perlu diacungi jempol. Bahkan dalam kondisi hujan, mereka tetap latihan di bawah jembatan jalan tol.

“Kami ini meskipun bukan seniman asli, tetapi semangat dan kencintaan terhadap kesenian daerah tidak perlu diragukan. Selain acara Komunitas, kami sering juga diundang pada acara resmi KJRI di Hongkong. Tentu saja dengan segalan keterbatasannya, kami tetap ingin tampil maksimal” pungkas Cahya yang pernah bergambung bersama Gandrung Terob, dan Janger Berdendang saat pulang cuti ke Banyuwangi. (sen)

_blank

Kabar Terkait