oleh

Mantan Penari Banyuwangi Eksis di Jember Sebagai Seniman Campursari

KabarBanyuwangi.co.id – Namanya Supartu, akrab dipanggin Partu atau Kang Parto sebagai nama udara. Pria asal Temurejo, Desa Kembiritan Kecamatan Genteng, Banyuwangi ini, sejak tahun 1981 sudah menetap di Jember. Alumni SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Pandan, Genteng ini, saat sekolah sudah menjadi penari daerah Banyuwangi.

“Itu pada tahun 1977 sampai saya lulus 1981. Tidak hanya tari, saya juga belajar gamelan Banyuwangi di SPG seangkatan dengan penata tari Banyuwangi, almarhum Sayun Sisianto. Kemudian saat pertama masuk Jember, langsung aktif menari Banyuwangen dan beberapa kali dikirim ke beberapa perguruan tingga mewakili Universitas Jember,” kata almuni Fakultas Sastra (Sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Jember, saat dihubungi kabarbanyuwangi.co.id, Rabu (10/6/2020) malam.

Selama kuliah di Jember, Cak Tu, begitu adik kelasnya memanggil, tidak sebatas aktif di unit kesenian Banyuwangi, namun juga kesenian-kesenian Jawa. Modal dari SPG yang bisa menari dan memainkan sejumlah gamelan ini, sangat dibutuhkan di Jember.

“Saya juga ikut membidani lahirnya Kentrung Djos, sebuah bentuk teater rakyat yang anggotanya mahasiswa sastra. Saya tidak saja sebagai pelakon, tetapi juga penata musik sekaligus. Kelak pengalaman ini yang membawa saya hingga tampil di TVRI dalan Siaran Pedesaan,” kata Bapak empat anak ini.

Baca Juga: Pelukis S Yadi K: “Gandrung Poniti itu Penguasa Panggung Pertunjukan dan Kehidupan”

Jember dan Kampus adalah media penggemblengan Cak Partu di bidang kesenian, karena saat kuliah dia juga sering main kolaborasi dengan kelompok tradisional yang sudah profesional. Seperti Kelompok Sang Paku Sempu Banyuwangi dan Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung.

“Kelompok kesenian tradisional yang sudah profesional, bagi saya adalah kawah candradimuka dalam mencari ilmu tentang banyak hal. Saat itu, saya juga aktif di Kelompok Ketoprak Kampus, bahkan hingga tampil di Jakarta. Ketemu banyak seniman dari berbagai daerah, itulah guru saya dalam berkesenian” ujar seniman yang akhirnya menjadi Broadcaster ini.

Sebagai sarjana sastra, Partu tidak memilih menjadi pengawai negeri atau mengajar sesuai dengan ijazahnya.  Partu lebih meilih konsisten menerjuni jalur kesenian, dengan menjadi MC (Master of Ceremony) Musik Dangdut mulai tahun 1989 hingga 2006.

“Saya itu orangnya suka tantangan baru, makanya kesempatan menjadi MC Dangdut tidak saya sia-siakan. Mungkin bagi kebanyakan orang, setelah menyandang gelar sarjana tidak mau menekuni priofesi yang saat itu identik dengan golongan bawah,” kata pria yang murah senyum ini.

Kiprahnya di dunia MC Dangdut, ternyata memuluskan jalannya untuk menjadi penyiar radio. Sebagai aktivis Teater kampus, masalah olah vokal sudah menjadi kebiasaan. Hingga tahun 1995, Partu ditawari menjadi penyiar Radio Suara Akbar Jember. Program yang diasuh Ajang Jawilan Jawa, sangat cocok dengan modal aksen Jawa yang kental.

“Sekali lagi, dunia broadchasting bagi saya saat itu adalah tantangan baru, makanya saya sambut baik tawaran itu, dan saya optimalkan. Bagi saya, Radio adalah sebagai salah atu agen perubahan masyarakat. Potensi yang saya bina adalah pendengar atau fans, kemudian saya koordinir hingga terwujud Paguyuban Mijarasa (Mitra Jawilan Radio Suara Akbar,” kata penyiar hang fansnya merupakan orang-orang dari Jember selatan ini.

Baca Juga: Semangat Seniman Muda Antar Maestro Gandrung Poniti  Hingga ke Liang Lahat

Sebagai penyiar yang memiliki bekal matang, serta kemampuan keseniannya yang komplit, menjadikan Kang Parto cepat populer dan namanya sangat membekas di hati para fans beratnya.

“Kemudian fans yang fanatik itu saya satukan menjadi saudara, dengan  tagline “Susah Seneng Sinangga Bareng” (Susah Senang Ditanggung Bersama). Mereka sangat kompak dan mampu menyelenggarakan event Wayangan dengan biaya swadaya hingga 13 kali,” ujar pria kelahiran  23 Juli 1961 ini.

Kesuksesan Partu dalam membina para pendengarnya, menjadikan acara yang diasuh banyak fansnya. Akhirnya mengantarkanya mendapat amanah baru sebagai Kepala Bagian Siaran atau Kabag Siar mulai  1999 – 2014 dan  2018-2019.

“Selain sebagai broadchaster, saya juga masih aktif berkesenian di luar. Masih bersama teman-teman Kentrung Djos, juga aktif di Komunitas Pendalungan  Jember. Bahkan aktif membentuk kelompok Campursari termasuk mengarang lagunya,” tambah Partu.

Saat ini, karya-karya Campursari Partu sudah banyak bertebaran di  Youtube Partu Channel. Kelompok Campursari sendiri didirikan sejak tahun 2000, hingga sekarang masih eksis di Jember dan sekitarnya.  Pernah juga menciptakan beberapa lagu Banyuwangian, menciptakan lagu Campirsari 2 album

“Gonjing Miring, tahun 2010, 2011 dan 2013 garapan lagu saya sebagai 10 penyanji terbaik Lomba Lagu Daerah se Jawa Timur. Sekarang saya terus bersemangat, menelurkan karya-karya baru,” kata pria multi talent ini.

Totalitas dan konsitensi berkesenian, itulah yang menjadikan Cak Partu mudah di kenal di komunitas apapun yang iya datangi. Tidak heran, kencintaan fansnya terhadap pribadi sangat mengagumkan.

“Saya kadang juga heran, mereka itu rela datang jauh-jauh hanya untuk ketemu saya. Sering juga membawa buah tangan, yaitu hasil bumi yang iya tanam”, pungkas Partu yang hingga kini masih aktif sebagai Kepala Litbang di Komunitas Pendalungan Jember ini. (sen)

_blank