oleh

Mengawali Rutinitas Latihan Tari Banyuwangi, Setelah Lockdown

KabarBanyuwangi.co.id – Hujan mengguyur Hongkong sangat deras di hari Minggu, 6  September 2020, diwarnai kilat yang menyambar menyilaukan mata. Hujan angin yang sedari hari Sabtu, belum juga reda. Meskipun bukan badai, tetapi cukup untuk mendinginkan bumi.

Pada tanggal 2 September 2020 kemarin, warga Hongkong melaksanakan Sembahyangan Arwah bagi orang Cina. Ritual ini dilakukan setiap tahun, pada pergantian musim panas ke musim gugur. Meski terasa panas, tapi terkadang udara sedikit mengembun.

Kali ini, saya setelah sholat subuh kembali tidur, hanya untuk menunggu hujan reda. Cuaca yang sedikit dingin, membuat saya bermalas-malasan. Ketika jam sudah menginjak pukul delapan lebih, saya bangun lalu mandi dan menyeduh secangkir kopi panas. Ah harumnya membuat otak saya sedikit encer.

Cukuplah bagi saya, minum secangkir kopi panas untuk sarapan sebelum aktivitas pagi hari. Saya terbiasa minum kopi dan tidak mengisi perut dengan makanan berat, teman satu kost sempat menertawakan saya saat menikmati kopi hitam tanpa gula.

Baca Juga: Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

Baca Juga: Hongkong Panas, Berlibur dan Rekreasi Memilih Malam Hari

Baca Juga: BMI: Bertahan Hidup Membuat Tempe Gembos, Saat Lockdown Di Hongkong

Jam telah menunjukkan pukul 09.00 lebih waktu Hongkong, saya buru-buru keluar dari kost menuju halte di bawah Building, mencari bis jurusan Causewaybay. Di luar hujan masih gerimis, tidak seberapa lama bis datang saya cepat naik. Sopir bis tua itu terlihat ramah, dia terlihat masih sehat diusianya yang senja.

Sekitar pukul 10.00, saya sudah sampai di taman Victoria yang mulai banyak teman buruh migran libur. Meski duduk masih dibatasi, satpam juga masih berlalu lalang mengingatkan agar tidak duduk lebih dari tiga orang. Lantai yang basah, tidak membuat kami patah semangat. Di pojok utara, terlihat ibu-ibu tengah latihan hadrah.

Setelah saya bertemu dengan kawan paguyuban, baru kusempatkan sarapan bersama. Makan dengan lauk sederhana, cukuplah untuk membuat kehangatan kami bercengkerama. Tak terasa, saat kami bergurau di hari libur begini waktu berlalu sangat cepat. waktu telah menunjukkan pukul 11.30, kami segera latihan tari.

Rencananya, minggu depan Paguyuban kami diundang keluarga Green Famili. Teman Paguyuban berusaha keras latihan, meski cuaca sangat panas pada siang harinya. Bukan saja tari gandrung, tapi tari lain dari Banyuwangi juga kami pelajari agar tidak monoton.

Latihan Tari Gandrung Dor oleh Buruh Migran. (Foto: istimewa)
Latihan Tari Gandrung Dor oleh Buruh Migran. (Foto: istimewa)

Kegiatan kami latihan kali ini semakin padat, hingga tak terasa hari mulai malam. Cuaca panas sangat menguras tenaga kami, apalagi harus menggunakan masker rasanya seperti masuk di dalam oven. Di ujung jalan mulai sepi, buruh migran yang libur mulai masuk rumah majikan masing-masing. Mereka memulai aktivitas yang sama, setelah melepas penatnya seharian libur.

Hanya di sudut taman ini, satpam berpakaian bebas terlihat menggunakan mobil taman mengelilingi taman Victoria, serta para tukang sampah yang masih lalu lalang. Kompleksnya virus corona ditambah berita demonstrasi yang diberitakan televisi setempat, membuat ketidaknyamanan libur kami.

Hari Jumat kemarin, Pemerintah Hongkong telah mengumumkan jika lockdown dibuka kembali. Namun ada kabar juga, bahwa hari Minggu,6 September lalu ada rencana demonstrasi kembali. Kabar itu memang terlaksana, namun hanya di daerah Mongkok hingga Jordan.

(Penulis: Tirto Arum, Buruh Migran asal Banyuwangi yang bekerja di Hongkong)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank

Kabar Terkait