oleh

Milineal Banyuwangi Diharapkan Mampu Menggali Potensi Masa Lalu Peninggalan Purbakala

KabarBanyuwangi.co.id – Para pecinta benda-benda kuno dan purbakala Banyuwangi, aktivis cagar budaya, guru, mahasiswa dan pelajar, tampak antusias mengikuti “Sarasehan Kepurbakalaan” yang belangsung di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Kamis, (3/9/2020).

Sekretaris Disbudpar, Choqul Ridha yang membuka sarasehan, mengaku bangga sebagai orang Banyuwangi, karena nenek moyangnya meninggalakan jejak sejarah peradaban yang sangat bagus. Kebaikan-kebaikan masa lalu tersebut, masih perlu digali, dan dipelajari untuk dijadikan rujukan sikap pada masa sekarang juga akan datang.

“Maka sangat penting bagi pelajar dan mahasiswa, serta pencinta benda purbakala, untuk menambah pengetahuan tentang sejarah. Di era New Normal sekarang ini, kita tidak boleh menyerah begitu saja terhadap situasi dan kondisi pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia. Kita harus tetap menggelar kegiatan, dengan menerapkan SOP Kesehatan,” kata Cholid Ridha.

Baca Juga: Disbudpar Banyuwangi Gelar Pameran Benda Purbakala dan Lomba Vlog untuk Kaum Milenial

Baca Juga: Kasus Covid-19 Terus Bertambah, Disbudpar Banyuwangi Tutup 6 Wisata Kuliner

Baca Juga: Merajut Kembali Using dan Islam Lewat Media Tradisi Mocoan Lontar Yusup

Pemilik Warung Watu Semar itu mengisyaratkan, bahwa SIP Kesehatan itu diterbitkan untuk acuan pelaksanaan kegiatan di era new normal.

“Kita harus tetap kreatif dan berkegiatan, dengan mengedepankan protokol kesehatan, seperti memakai masker, jaga jarak dan selalu cuci tangan, serta jangan lupa bawa sanitizer,” tambahnya.

Suasana Sarasehan yang menerapak Protokol Kesehatan. (Foto: istimewa)
Suasana Sarasehan yang menerapak Protokol Kesehatan. (Foto: istimewa)

Sarasehan kepurbakalaan hari pertama ini, menampilkan dua narasumber, yakni Dhalia, M.Pd (Dosen Sejarah UNIBA) dengan materi “Belajar Sejarah dari Museum dan Dra. Titin Fatimah (Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi) dengan materi “Cagar Budaya sebagai Potensi Wisata Sejarah”.

“Jadikanlah museum sebagai salah satu tujuan wisata sejarah. Persoalannya, anak anak muda dan pelajar banyak yang kurang minat. Mereka mau berkunjung ke museum, karena ada tugas dari sekolahannya,” sindir Shalia Sutopo.

Sementara Dra. Titin Fatimah mengatakan, kebanggaan sebagai anak muda Banyuwangi terhadap benda-benda kepurbakalaan, harus terus dipupuk dan dikembangakan.

“Kita patut bangga menjadi warga Banyuwangi, karena di dalam tanahnya terdapat peninggalan maha dahsyat banyaknya. Hanya saja, semua tertimbun. Kita butuh waktu  dan ilmua, untuk menggali dan meneliti,” ucapnya.

(Penulis: Abdullah Fauzi, Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten, Banyuwangi)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

 

_blank

Kabar Terkait