oleh

Nasib Perajin Jam Tangan Kayu, Sepi Orderan Beralih Jualan Sempol

KabarBanyuwang.co.id  Sejak merebaknya wabah virus corona enam bulan lalu, Andi Akbar (32)  perajin Jam Tangan dari limbah kayu, langsung kehilangan order hasil kerajinananya. Agar tetap bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehar-hari keuarganya, sejak sebulan lalu, Akbar, begitu nama panggilannya, terpaksa memutuskan berjualan sempol setiap malam.

“Saya berjualan sempol, karena tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup, setelah orderan Jam Tangan Kayu yang saya tekuni sejak 3 tahun tidak ada pesanan sama sekali. Pada situasi normal sebelumnya, saya minimal mendapat  5 pesanan Jam Tangan dengan harga Rp. 300 ribu hingga Rp. 400 ribu. Namun pesanan lewat online sejak tiga bulan lalu tidak ada sama sekali,” ujar Bapak dari bayi Nizzar (5 bulan) kepada kabarbanyuwangi.co.id, Selasa (22/9/2020).

Akbar mengaku, setiap malam jualan sempol hanya menghasilkan rata-rata Rp. 50 ribu. Ini tetap dijalani, sambil menunggu situasi pulih. Selain itu, salama masa pandemi ini Akbar juga menjajakan hasil kerajinannya lewat medsos, dengan brand Maccasi Craft, dan hasil produksinya sudah sampai ke Tarakan, Kalimantan Utara.

“Memang yang mengetahui produk saya sebagian lewat online, karena saya memang mempromosikan menggunakan media online. Ada juga yang offline, mereka yang sering berkunjung ke Pasar Wit-Witatan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh setiap hari Minggu. Omzet saya sempet meningkat meski tidak banyak, saat ikut kegiatan pasar Wit-Witan,” kata suami dari Selvi Kurnia Sari (30) yang masih tinggal di Dusun Karangasem, Desa Alasmalang, Singojuruh.

Baca Juga: Demi Menyambung Hidup, Perajin Batik Khas Banyuwangi Terpaksa Jualan Sayur

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Omzet Perajin Besek di Lingkungan Papring Meningkat 60 Persen

Baca Juga: Bangkitkan Ekonomi Lokal, Rumah Kreatif Geber Pendampingan UMKM

Bapak muda yang belajar kerajinan kayu secara otodidak ini, pernah meraih Juara 2 dalam event Banyuwangi Industrial Young Entrepreneur Competition, atas kreatifitasnya membuat Maccasi Craft, jam tangan yang dibuat dari limbah kayu jati, pinus dan sonokeling.

“Meski sudah menjadi juara-2, tetapi belum ada apresiasi dari pejabat Banyuwangi. Misalnya mau mengkoleksi karya saya, atau membantu promosi ke luar,” tegas Akbar yang hingga kini masih berkreasi dan malamnya berjualan Sempol.

Aneka Ragam Produk Jam Tangan Kayu hasil karya Akbar Andi. (Foto: isimewa)
Aneka Ragam Produk Jam Tangan Kayu hasil karya Akbar Andi. (Foto: isimewa)

Akbar tergolong pemuda kreatif dan jeli melihat peluang, karena apa yang dilakukan sekarang tidak jauh dengan tempat tinggalnya dan lingkungan sehari-hari.

“Awalnya lihat di internet, kebetulan di sini banyak limbah kayu dari perajin sendok, asbak dan lain-lain. Setelah itu saya mulai kepikiran, untuk membuat jam tangan kayu dari limbah perajin. Saya belajar sendiri, dengan melihat tetangga yang membuat kerajinan kayu dengan bentuk lain,” kata pria yang mengaku hanya berpendidikan SLTP.

Pada kondisi sekarang yang serba sulit, Akbar menyadari, jika order hasil kerajinan yang diporoduksinya, menjadi sepi. Akbar mengaku pernah dibantu Pemerintah, berua alat pemotong kayu.

“Saya pikir, kalau kondisi seperti ini orang akan membeli Jama Tangan Kayu pasti pikiri-pikir dulu. Pasti akan memprioritaskan kebutuhan lain, dibanding memenuhi kesenangan. Oleh karena itu, saya berharap pandemi segera berakhi dan usaha saya lebih maju lagi. Amin ya robbal alamin,” pungkas Akbar. (sen)

_blank

Kabar Terkait