
Para narasunber dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026, panel 5 di Shangri-La Hotel, Surabaya (Foto: AMSI Jatim)
KabarBanyuwangi.co.id ,SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan/Artificial Intelligent (AI) membawa tantangan baru dalam penanganan krisis komunikasi. Konten berupa video dan suara hasil rekayasa AI dapat menyerupai tokoh asli dan menyesatkan masyarakat.
Persoalan ini dibahas dalam sesi Panel 5 Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 bertajuk “Masa Depan Penanganan Krisis Komunikasi di Era AI”. Diskusi dipandu Bendahara Umum AMSI Gaib Maruto Sigit, dengan menghadirkan Wakil Ketua Umum Perhumas Haviez Gautama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi, serta Badan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi AMSI Wenseslaus Manggut.
Wakil Ketua Umum Perhumas Haviez Gautama menekankan
pentingnya mengelola isu sebelum berkembang menjadi krisis. Dalam praktik
kehumasan, isu merupakan persoalan atau pandangan publik yang perlu ditangani,
sedangkan krisis dapat muncul ketika persoalan berkembang menjadi kejadian luar
biasa dengan dampak yang lebih luas.
Menurut Haviez, perusahaan dan organisasi perlu memahami
potensi risiko sejak awal. AI menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan
dalam pengelolaan isu dan krisis komunikasi. Mitigasi diperlukan agar organisasi
tidak kebingungan ketika menghadapi persoalan, termasuk yang dipicu oleh
penyebaran informasi palsu.
"Dengan adanya mitigasi perusahaan tidak kaget
ketika krisis terjadi," jelas Haviez.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur Sherlita
Ratna Dewi menceritakan kinerja klinik hoaks yang dibentuk Pemprov Jawa Timur
untuk menangani salah satu krisis komunikasi, yakni video rekayasa menggunakan
AI yang menampilkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, seolah-olah
menawarkan sepeda motor seharga Rp500.000 kepada masyarakat.
"Setelah diklarifikasi, klinik hoaks memberikan
stempel hoax kabar itu dan langsung dengan cepat menyebarkan kemasyarakat
dengan berbagai saluran termasuk media masa," terang Sherlita.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa tim
komunikasi dan prosedur penanganan krisis harus disiapkan sebelum masalah
muncul. Tiga jam pertama menjadi waktu penting untuk merespons informasi yang
beredar dan mencegah narasi keliru semakin meluas.
Sherlita menyebut Klinik Hoaks yang juga terbentuk di
masing-masing pemerintah daerah telah mengklarifikasi 1.104 konten sepanjang
Januari hingga September 2026. Konten tersebut antara lain berkaitan dengan
penipuan, pemerintahan, politik, dan informasi internasional. Sherlita mengaku
cukup terbantu dengan aktivitas media dalam
Badan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi AMSI,
Wenseslaus Manggut, menyoroti persoalan kepercayaan publik di tengah maraknya
deepfake. Menurut Wenseslaus, media selama ini berperan sebagai gatekeeper,
yakni menyaring informasi sebelum disampaikan kepada masyarakat. Namun,
perkembangan teknologi membuat informasi palsu semakin mudah diproduksi dan
disebarkan.
Wenseslaus menilai media perlu memperkuat peran sebagai trustkeeper,
bukan sekadar penyaring informasi. Artinya, media harus menjaga kepercayaan
masyarakat terhadap informasi yang disampaikan melalui verifikasi, penggunaan
data, dan sumber yang jelas.
"Bahaya deepfake tidak berhenti pada
beredarnya video atau suara palsu. Persoalan yang lebih besar muncul ketika
masyarakat mulai meragukan lembaga yang selama ini dipercaya menyampaikan
kebenaran, termasuk media dan pemerintah," jelas Kak Wens.
Masyarakat bisa terjebak dalam dua keadaan, yakni terlalu
mudah percaya sehingga gampang dimanipulasi, atau tidak lagi memercayai
informasi apa pun. Kondisi kedua dapat merusak kepercayaan terhadap media dan
lembaga pemerintah, sekaligus menyulitkan komunikasi publik.
Karena itu, kecepatan klarifikasi harus diikuti dengan
informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Data dan sumber yang spesifik
menjadi penting untuk memperkuat kredibilitas. Klarifikasi yang terlambat dapat
membuat informasi palsu telanjur dipercaya, sedangkan klarifikasi dari sumber
yang tidak dipercaya masyarakat juga sulit mengubah keadaan.
Tentang
IDMC 2026
Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026
diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengusung tema
“Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI & Content Creator”
dan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Shangri-La Hotel, Surabaya.
IDMC 2026 didukung oleh Pertamina, Astra, BNI, Djarum, Alamtri, PLN, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Freeport, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Jago, Bank Mandiri, GoTo, Bank Syariah Indonesia (BSI), Astra Honda Motor, dan INALUM. (*)
