oleh

Petani di Banyuwangi Keluhkan Langkanya Pupuk Bersubsidi

KabarBanyuwangi.co.id – Sejak sebulan terakhir, para petani di Kabupaten Banyuwangi, mengeluhkan semakin langkahnya keberadaan pupuk bersubsidi di Daerahnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Podo Makmur, Desa Kampunganyar, Banyuwangi, Umar Said mengatakan, para petani di daerahnya sejak satu bulan lalu telah merasakan kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut. Saat ini sebagian besar petani terpaksa membiarkan tanaman padi begitu saja karena tidak adanya pupuk.

“Jika untuk membeli pupuk non subsidi, petani sudah tidak mampu karena harganya yang mahal bisa dua kali lipat dari pupuk bersubsidi. Terlebih lagi kondisi pandemi Covid-19,” ujur Umar Said, Jumat (2/10/2020
Baca Juga: Ditengah Pandemi, Sektor Pertanian Banyuwangi Surplus
Baca Juga: Bantu Usaha Petani, Pemkab Gelontor Ratusan Alat dan Mesin Pertanian
Baca Juga: Bupati Anas Dorong Petani Manfaatkan Alsintan untuk Optimalkan Hasil Pertanian

Umar menambahkan, sebagai perbandingan untuk satu kwaintal pupuk bersubsidi, petani cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp. 240.000, sedangkan harga pupuk non subsidi mencapai Rp. 550.000 per kwintalnya, sehingga sangat memberatkan petani. Menghadapi adanya kelangkaan pupuk tersebut, saat ini ada Sekitar 40 hektare lebih tanaman padi di daerahnya yang sudah tidak dipupuk.

“Sekarang yang tanam umur 20 sampai 25 hari tidak bisa dipupuk, artinya tanaman kurang subur, mestinya umur 10 hari harus dipupuk. Yang ngurit (pembibitan) itu umur 10 hari harus dipupuk, tapi sekarang sampai umur 25 tidak bisa dipupuk bibit ini. Jadi mau tanam banyak keraguan,” tambah Umar

Umar Said memperkirkan, jika kondisi tersebut terus berlanjut, maka puluhan hektar tanaman padi itu terancam akan gagal panen akibat pupuk langkah. Sehingga, sebagian petani terpaksa beralih polah tanam dari padi ke tanaman palawija.

“Alasanya karena tanaman palawija tidak banyak membutuhkan pupuk dan resiko gagal panen lebih rendah,” ucap Umar.

Lahan sawah yang akan ditanami palawija. (Foto: wan)
Lahan sawah yang akan ditanami palawija. (Foto: wan)

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyuwangi, Ahmad Khoiri menuturkan, kelangkaan pupuk ini akibat kuota pupuk bersubsidi tahun 2020 untuk abupaten Banyuwangi dikurangi 46 persen.

“Tahun 2019 lalu Banyuwangi mendapatkan jatah 61 ribu ton lebih pupuk, namun pada tahun 2020 ini berkurang menjadi 38 ribu ton lebih,” tutur Khoiri

Menurutnya, Pemerintah Banyuwangi sebenarnya sudah mengajukan tambahan kuota pupuk bersubsidi lebih besar dari tahun 2019, namun yang disetujuai pemerintah pusat hanya 38 ribu ton.

“Kami sudah berusaha mengajukan tambahan kuota pupuk bersubsidi lebih besar ke Kementrian Pertanian, tapi yang disetujui tahun 2020 ini hanya di angka 38 ribu ton saja,” pungkas Khoiri. (wan)

_blank

Kabar Terkait