
Sejumlah anak mengakses berbagai buku di Ruang Pintar Pojok Baca Rinca yang dihadirkan PNM. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id - Pesona Kepulauan Rinca dikenal
dunia lewat gugusan savana serta habitat komodo yang menjadi daya tarik wisata
internasional. Namun di baliknya tersimpan cerita tentang anak-anak yang tumbuh
dengan keterbatasan akses pendidikan dan literasi.
Wilayah yang berada di kawasan timur Indonesia itu tidak
hanya menghadapi tantangan geografis berupa jarak antarpulau dan akses
transportasi yang terbatas, tetapi juga persoalan sosial ekonomi yang membuat
fasilitas belajar, khususnya pembelajaran informal, belum berkembang secara
merata.
Bagi sebagian besar masyarakat di Kepulauan Rinca, laut
menjadi sumber penghidupan utama. Aktivitas melaut dan bekerja harian menjadi
denyut ekonomi keluarga. Dalam kondisi tersebut, akses terhadap buku bacaan,
ruang belajar yang nyaman, hingga fasilitas pendukung pendidikan sering kali
belum menjadi hal yang mudah dijangkau anak-anak di sana. Tidak sedikit anak
yang tumbuh tanpa banyak pilihan bahan bacaan di luar buku pelajaran sekolah.
Di tengah keterbatasan itu, semangat belajar anak-anak di
Pulau Rinca justru tumbuh dengan cara yang sederhana. Mereka tetap datang ke
sekolah, belajar bersama teman-teman, dan memanfaatkan ruang seadanya untuk
membaca maupun bermain. Situasi inilah yang kemudian menggerakkan PNM untuk
ikut menghadirkan ruang belajar yang lebih layak dan menyenangkan bagi
anak-anak di wilayah tersebut.
PNM menghadirkan Ruang Pintar Pojok Baca Rinca dengan
membangun fasilitas baca, tetapi juga mencoba menghadirkan pengalaman belajar
yang lebih hangat dan dekat dengan keseharian anak-anak pesisir.
Menariknya, pengembangan ruang literasi ini dilakukan
melalui kolaborasi bersama anak muda setempat bernama Irka yang selama ini
aktif menjadi penggerak kegiatan literasi di desa tersebut. Kehadiran local
heroes tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana belajar yang
lebih hidup, karena mereka memahami karakter, kebutuhan, dan cara pendekatan
yang dekat dengan anak-anak di Rinca.
Irka menilai, kehadiran PNM membawa perhatian yang lebih
luas terhadap masyarakat di pulau tersebut. Menurutnya, selama ini banyak pihak
mengenal Rinca hanya dari potensi wisatanya, sementara kebutuhan pendidikan
anak-anak sering luput diperhatikan.
“Yang saya lihat, PNM datang bukan hanya untuk memberikan
pembiayaan kepada ibu-ibu atau membantu usaha masyarakat di sini. Tapi mereka
juga memikirkan anak-anaknya. Itu yang menurut saya berbeda, karena pendidikan
dan literasi anak-anak di pulau seperti Rinca juga perlu diperhatikan,”
ujarnya, Rabu (3/6/2026)
Ia juga bercerita bahwa anak-anak di desa sangat antusias
ketika Ruang Pintar PNM mulai diisi dengan berbagai buku baru serta berbagai
fasilitas pendukung belajar yang nyaman. Bagi sebagian anak, pengalaman membaca
buku cerita bergambar maupun belajar bersama di ruang yang nyaman menjadi hal
yang sebelumnya jarang mereka rasakan.
“Anak-anak di sini sebenarnya punya rasa ingin tahu yang
besar. Ketika ada tempat belajar yang dibuat nyaman dan menyenangkan, mereka
senang sekali datang, membaca, bahkan sekadar berkumpul untuk belajar bersama.
Bantuan dari PNM ini membuat mereka punya ruang baru untuk bermimpi,” katanya.
Ruang Pintar Pojok Baca Rinca dirancang bukan hanya sebagai
tempat menyimpan buku, melainkan ruang tumbuh bersama. Berbagai buku bacaan
anak, cerita bergambar, pengetahuan umum, hingga fasilitas pendukung belajar
disiapkan untuk menciptakan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan. Ruang
tersebut juga menjadi tempat anak-anak berkumpul, berdiskusi, bermain edukatif,
dan mengenal banyak hal baru di luar lingkungan yang selama ini mereka lihat
setiap hari.
Di banyak daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal),
tantangan pendidikan sering kali tidak dapat diselesaikan hanya melalui
pembangunan fisik sekolah. Kehadiran ruang belajar seperti ini menjadi penting
karena literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga membuka jendela
mimpi bagi anak-anak di wilayah terpencil.
Dari buku dan ruang belajar yang sederhana, anak-anak mulai
mengenal cita-cita, profesi, hingga dunia yang lebih luas dari pulau tempat
mereka tumbuh. Dari pembiayaan yang memberdayakan, ibu-ibu pengusaha ultra
mikro mampu membangun mimpi anak mereka agar memiliki kehidupan yang lebih
sejahtera. (adv)