Prof. Dr. Oman Faturahman: Lontar Yusuf Istimewa, Karena Salah Satu Kitab Penting Dalam Penyebaran IslamMocoan Lontar Yusuf Milineal

Prof. Dr. Oman Faturahman: Lontar Yusuf  Istimewa, Karena Salah Satu Kitab Penting Dalam Penyebaran Islam

Peserta Gesah Mocoan Lontar Yusuf Dengan Prof. Dr. Oman Fatiurahman. (Foto: Wiwin Indarti)

KabarBanyuwangi.co.id - Ragam manuskrip di Banyuwangi turut menyumbang kekayaan manuskrip di Indonesia. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Dr. Oman Fathurahman, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah pewaris manuskrip yang paling kaya di dunia. Namun banyak orang yang tidak menyadari bahwa manuskrip merupakan bagian penting dari peradaban manusia.

Manuskrip adalah ilmu pengetahuan yang syukurnya masih kita warisi. Sayangnya kekayaan manuskrip tersebut sudah tidak banyak lagi diiringi oleh masyarakat  yang peduli dengan tradisi menghidupkan manuskrip, seperti halnya tradisi nembang atau Mocoan Lontar Yusup di Banyuwangi.

Gesah atau bincang-bincang bersama Prof. Dr. Oman Fathurahman, yang biasa disapa dengan Kang Oman, tentang manuskrip, tradisi lisan dan kebudayaan, berlangsung pada Senin malam tanggal 5 April 2021 di Bale Tajug – Cungking. Acara tersebut diinisiasi oleh anak-anak muda di komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial, Mocoan Lontar Yusup Cungking, dan Pesinauan Sekolah Adat Osing.

Baca Juga :

Selain dihadiri anak-anak muda mocoan, acara tersebut juga dihadiri oleh Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan), Wiwin Indiarti (Penulis buku Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon, Transliterasi Terjemahan), Suhalik (Sejarawan Banyuwangi), Ayung Notonegoro (Founder Komunitas Pegon), Suhaimi (Ketua Adat Kemiren), dan Jami Abdul Gani (Ketua Adat Cungking).

Kang Oman merupakan guru besar Filologi Islam di UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta dan pengampu NGARIKSA (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara). Sejak tahun 1996 ia mengkaji  berbagai manuskrip khususnya manuskrip keagamaan berbahasa Arab, beraksara Jawi maupun beraksara Pegon.


Keterangan Gambar : Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri saat mengikuti Gesah. (Foto: Wiwin Indarti)

Ia sengaja datang ke Banyuwangi untuk bertemu dan memberikan semangat kepada anak-anak muda pewaris tradisi mocoan agar terus merawat dan mewariskan tradisi Mocoan Lontar Yusup. 

Menurut Kang Oman, dalam konteks Jawa, carita Yusup, atau yang di Banyuwangi dikenal sebagai Lontar Yusup, menjadi istimewa karena ia merupakan salah satu kitab penting dan dianggap sebagai pusaka yang digunakan dalam penyebaran agama Islam.

Keistimewaan carita Yusup, yang berkisah tentang nabi Yusuf AS, adalah pusaran kisah berpusat cerita tentang Yusuf yang bukan bangsawan dan penuh kemuliaan; sabar, bijaksana, suka membantu orang lain, dan dekat dengan Tuhan. Hingga kemudian ia menjadi sosok utama di kerajaan Mesir dan menjadi Nabi pilihan Tuhan. Kisah Yusup ini menginspirasi banyak orang untuk berlaku kebajikan.

Manuskrip Yusup yang keberadaannya berlangsung hingga sekarang, salah satunya adalah karena peran para pewaris tradisi yang terus mewariskan tradisi Mocoan Lontar Yusup. Manuskrip itu tidak ada artinya jika tidak ada manusia yang merawat tradisi lisan yang mengiringinya. Manusia yang merawat tradisi itulah sesungguhnya yang telah menghidupkan manuskrip dan peradaban.

(Penulis: Wiwin Indarti, Dosen Uniba dan Pembina Komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial)