
Mantan Manajer Persewangi, Iwan Rudianto (tengah) bersama legenda suporter Persewangi, Ahmad Mustain (kanan) dalam diskusi bola 90 Menit Banyuwangi. (Foto: Fattahur)
KabarBanyuwangi.co.id – Tim sepak bola kebanggaan warga Banyuwangi, Persewangi dahulu pernah menghuni divisi satu Liga Indonesia. Namun kini performanya merosot.
Klub yang bermarkas di Stadion Diponegoro tersebut sempat menembus 16 Besar Putaran Nasional setelah berhasil tampil impresif dan menjadi jawara Liga 4 Jawa Timur musim 2024/2025.
Namun pada musim berikutnya, langkah tim berjuluk Laskar
Blambangan kandas di tengah jalan. Mereka harus menelan kenyataan pahit setelah
tersingkir di babak 32 besar Liga 4 Jawa Timur.
Kegagalan klub di kompetisi kasta terendah sepak bola
Indonesia pada musim 2025/2026 dan menurunnya performa Persewangi membuat
publik sepak bola di Banyuwangi prihatin sekaligus kecewa berat.
Dalam podcast 90 Menit Banyuwangi di salah satu kafe pada 6 Mei 2026, sejumlah praktisi sepak bola, memberikan respon terhadap performa Persewangi yang melempem dan minim prestasi
Mantan Manajer Persewangi, Iwan Rudianto menyarankan
manajemen melibatkan stakeholder sepak bola di Banyuwangi, termasuk kelompok
suporter agar menumbuhkan fanatisme serta rasa memiliki terhadap tim.
"Kalau harapan kita sama, semua orang Banyuwangi
pasti menginginkan Persewangi berprestasi. Libatkan stakeholder yang ada,
termasuk suporter. Itu akan membangun rasa memiliki, sehingga timbul rasa
heroisme di lapangan," kata Iwan.
Tak hanya dari sisis keterlibatan semua unsur, menurut
Iwan, Banyuwangi sejatinya memiliki stok pemain melimpah. Banyak talenta lokal
yang saat ini justru bermain di luar daerah dan membela tim-tim besar.
"Itu artinya bahwa stok pemain kita berlimpah.
Banyuwangi ini gudangnya pesepak bola bagus," tegas Iwan yang saat ini
menjadi pengurus PSSI Banyuwangi.
Iwan menegaskan bahwa saat ini stakeholder sepak bola di
Banyuwangi mulai menata diri dan mengadakan kompetisi internal. "Kita
segera mengadakan kompetisi internal, kalau sudah tertata, ini output-nya juga
ke klub," ujarnya.
Legenda Suporter Persewangi, Ahmad Mustain juga
mengharapkan tim yang pernah identik dengan warna merah dan hitam itu memberi
ruang bagi pemain-pemain lokal.
"Ketika pemain dari klub lokal diambil Persewangi,
maka klub tersebut akan mendapatkan income,” ungkap Mustian.
“Saya yakin klub itu sudah mati-matian mendidik pemain.
Kalau tidak diambil klub yang ikut kompetisi nasional, akhirnya lari mencari
tim lain di luar daerah," tambah Mustain.
Terkait dukungan suporter di stadion, Ahmad Mustain menilai
antusiasme penonton sangat bergantung pada kualitas permainan tim.
"Penonton itu pintar. Mereka tahu tim ini bagus atau tidak. Kalau ingin stadion penuh, ya tampilkan permainan yang bagus," ujarnya. (fat)