
Tim pengabdian masyarakat dari Jurusan Pertanian Poliwangi latih ibu-ibu PKK Desa Kedayunan ubah limbah sabut kelapa menjadi coco pot. (Foto: Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Upaya optimalisasi potensi desa
melalui pengelolaan limbah terus digalakkan di Kabupaten Banyuwangi. Kali ini,
puluhan ibu-ibu PKK Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, mendapatkan pelatihan
khusus untuk menyulap limbah sabut kelapa menjadi coco pot yang bernilai
ekonomis tinggi, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Kedayunan ini
merupakan bentuk kolaborasi nyata antara Pemerintah Desa Kedayunan dengan tim
pengabdian masyarakat dari Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).
Kepala Desa Kedayunan, Siti Aminah Tuzzahro menyambut
positif inisiatif ini. Menurutnya, pemberdayaan perempuan melalui keterampilan
praktis adalah kunci untuk mendongkrak ekonomi keluarga berbasis potensi lokal.
"Kami sangat mendukung program ini. Selain mengurangi
tumpukan limbah sabut kelapa yang selama ini kurang termanfaatkan, produk coco
pot ini punya peluang pasar yang bagus. Kami berharap ini menjadi cikal bakal
unit usaha kreatif baru bagi warga Kedayunan," ujar Siti Aminah dalam sambutannya.
Program pengabdian ini dipimpin langsung oleh Nanda Rusti,
S.P., M.Sc., bersama tim pakar dari Jurusan Pertanian Poliwangi. Kehadiran
akademisi ini bertujuan untuk memberikan sentuhan teknologi tepat guna dalam
pengolahan serat kelapa (cocofiber).
Turut hadir memberikan dukungan, perwakilan Poliwangi, Dr. Danang Sudarso Widya Prakoso Joyo Widakdo, S.P., M.M., yang menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan desa untuk menciptakan inovasi ramah lingkungan.
Dalam sesi teknis, Eka Nurmala Sari, M.P., bertindak sebagai narasumber yang diikuti dua mahasiswa, Nike Syaina, dan Mohamad Rizki Khoiri. Eka membedah proses transformasi sabut kelapa hingga menjadi media tanam alternatif yang mampu menggantikan fungsi pot plastik.

Ibu-ibu PKK Desa
Kedayunan berswafoto sambil tunjukkan coco pot hasil pelatihan bersama Poliwangi. (Foto: Istimewa)
"Pot dari cocofiber atau coco pot ini jauh lebih ramah
lingkungan. Selain mampu menyimpan cadangan air lebih lama, pot ini juga dapat
terurai secara alami dan memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman," jelas
Nanda Rusti kepada KabarBanyuwangi.co.id, Sabtu (9/5/2025).
Para peserta tampak antusias dan cekatan mengikuti setiap
tahapan, mulai dari pemisahan serat hingga pencetakan pot. Inovasi ini
diharapkan tidak hanya menjadi solusi masalah lingkungan, tetapi juga mampu
menjawab tren urban farming yang terus meningkat, sehingga membuka keran
pendapatan baru bagi masyarakat desa.
Sesuai dengan semangat kegiatannya, pelatihan ini ditutup
dengan komitmen bersama yang tertuang dalam slogan: “PKK Berkarya, Cocofiber
Berdaya, Desa Semakin Jaya.” (man)